
Arvy berjalan dengan riang membawa ikan dan dua buah kelapa muda di tangan. Ia tak sabar untuk memperlihatkannya kepada Adila.
"Aku kembali ...." serunya saat sudah kembali ke dalam pondokan.
"Kok lama," ujar Adila yang tengah duduk di depan perapian dengan balutan kain di tubuhnya.
"Aku tadi mandi jadi lama. Sekalian cari ini!" kata Arvy sembari menunjukkan ikan hasil tangkapannya. "Kamu lapar?" imbuhnya.
Adila mengangguk.
Arvy lantas mengambil pisau yang ada di sana. Ia lantas membuat tusukan dari bambu untuk menusuk ikan tangkapannya. Ikan-ikan itu ia susun di atas perapian untuk dibakar.
Menunggu ikan matang, ia mengiris kelapa yang dibawanya agar ada lubang untuk meminum airnya.
"Nih, minumlah!" kata Arvy menawari Adila air kelapa tersebut.
Adila melihat dirinya sendiri. Kedua tangannya juga terbungkus di dalam kain yang melilit tubuh. Ia tidak bisa menerima kelapa itu.
"Ah, biar aku bantu kamu minum," kata Arvy pengertian.
"Terima kasih." Adila mendongakkan sedikit kepalanya menyeimbangkan saat Arvy mengarahkan lubang air kelapa itu padanya. Rasanya sangat menyegarkan. Ia sampai menghabiskan setengahnya. Sementara sisanya diminum oleh Arvy.
"Kamu perbaiki lagi cara pakai kainnya. Sepertinya itu membuatmu tidak nyaman bergerak. Bentuk seperti kemben saja," usul Arvy
Adila agaknya ragu untuk melakukan hal itu.
"Tenang saja, aku tidak akan macam-macam," kata Arvy.
"Balik badan!" pinta Adila.
Arvy menurut.
Segera Adila membenarkan cara menggunakan kain tersebut agar tidak menyusahkan tangannya. Ia bentuk kain tersebut menjadi kemben dengan salah satu ujung disampirkan pada bahunya.
"Sudah!" kata Adila.
Arvy kembali berbalik badan. Melihat penampilan Adila seperti itu ternyata di luar ekspektasinya. Ia sampai membuang pandangan untuk menetralkan perasaan.
"Aku juga mau lepas pakaian. Kamu jangan risih, ya! Ini darurat!" kata Arvy saat melihat selembar kain tergeletak di sana.
"Ah!" Adila menjerit seraya membuang muka saat Arvy melepaskan kemejanya. Ia tidak tahu kalau lelaki itu akan langsung tel anjang di depannya.
__ADS_1
"Sudah aku bilang jangan kaget, kan?" ujar Arvy. Ia juga tidak nyaman terus menggunakan pakaian basahnya.
Adila mengalihkan pandangan ke arah tungku. Ia memilih untuk fokus membakar ikan yang Arvy bawa.
Sementara di belakang, Arvy tengah melucuti pakaiannya sendiri. Ia melilitkan kain untuk dijadikan celana darurat. Ia juga menjemur pakaian miliknya di dekat perapian.
"Ah!" lagi-lagi Adila berteriak saat melihat Arvy di sebelahnya. Ia membuang muka.
"Kenapa lagi?" tanya Arvy heran.
"Kok kamu tidak pakai baju?" tanya Adila sambil menutupi wajahnya.
"Bajuku kan basah semua," jawab Arvy enteng. "Lagipula, aku juga pakai celana. Jangan khawatir," katanya.
Arvy secara santai duduk di samping Adila. Ia membenarkan letak ikan-ikan yang tengah dibakarnya. Adila sama sekali tidak berani melihat ke arahnya.
"Bagaimana dengan kondisi tubuhmu? Apa masih sakit?" tanya Arvy.
"Masih. Tapi ini sudah jauh lebih baik," katanya.
"Oh, ikannya sudah matang!" seru Arvy. Ia mengambilkan satu lalu dibersihkan permukaan ikan dari sisa-sisa pembakaran. "Nih! Makan dulu!" katanya.
"Terima kasih," ucap Adila senang. Perutnya sejak tadi memang sudah keroncongan. Wangi alami ikan bakar itu menggugah selera. Perlahan ia ambil sedikit demi sedikit daging ikan itu dan memakannya.
"Enak?" tanya Arvy. Ia juga tengah memegang salah satu ikan hasil tangkapannya yang sudah matang dibakar.
"Iya, enak," jawab Adila sembari menikmati ikan bakar itu.
Keduanya menikmati ikan yang dibakar dengan lahap. Mereka seperti orang yang kelaparan. Arvy kembali membuka kelapa yang tersisa lalu berbagi minuman berdua.
Usai makan, mereka kenyang. Keduanya kembali naik ke atas dipan bambu dan bersender pada dinding pondokan.
Hari semakin larut. Kondisi di luar sudah gelap. Hanya cahaya dari perapian yang masih tersisa menerangi sekeliling mereka.
Suara-suara hewan malam mulai terdengar. Suasana semakin mencekam apalagi hawa di sana semakin dingin.
"Ar," panggil Adila.
"Hm, kenapa?" tanya Arvy.
"Apa di tempat ini benar-benar tidak ada orang?"
__ADS_1
Arvy menghela napas. "Entahlah. Aku rasa tidak ada," ujarnya.
"Bukankah seharusnya tempat ini ada pemiliknya? Peralatan di sini ada banyak. Siapa orang yang tinggal di sini?"
Arvy menoleh ke arah Adila. Wanita itu tampak meringkuk dengan ekspresi wajah takut. "Tempat ini kadang ramai didatangi orang. Cuma kalau musim ombak seperti sekarang mungkin tidak ada yang datang. Tempat ini mungkin juga bekas orang kemah atau bisa jadi pondok sementara nelayan," ujarnya. "Memangnya apa yang kamu khawatirkan?" lanjutnya.
Adila terdiam sejenak. Kesunyian selalu membuatnya takut. Ia kembali teringat saat dirinya disekap oleh orang yang menolongnya waktu itu. Ia ditinggalkan sendirian di sebuah pondokan sepi setiap malam. Sementara orang yang menyekapnya akan pulang ke rumahnya sendiri.
"Ah!" pekik Adila. Ia terkejut saat tiba-tiba Arvy menarik tubuhnya dan memeluknya. Badannya gemetar.
"Adila, jangan takut. Ada aku di sini," kata Arvy menenangkan. Ia tahu wanita itu tengah ketakutan.
"Kamu jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang membuatmu cemas. Aku tahu kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi, anggap saja aku teman," katanya mencoba menenangkan Adila.
Adila turut memeluk Arvy. Ia menyandarkan kepalanya pada tubuh nyaman itu. Entah mengapa berada di sisi Arvy membuatnya merasa nyaman.
"Ar," panggil Adila lagi.
"Ya?"
"Kira-kira ada yang akan mencari kita nggak?" tanya Adila.
"Pasti. Pasti akan ada orang yang akan mencari kita," kata Arvy dengan optimis.
"Kenapa mereka lambat sekali. Di sini menyeramkan."
Arvy menepuk-nepuk kepala Adila. "Bersabarlah, mereka pasti akan mencari dan menemukan kita di sini," katanya.
"Aku takut, Ar. Suaranya seram." Adila mengeratkan pelukannya. Tubuhnya masih saja gemetar memikirkan hal-hal buruk yang mumgkin terjadi.
"Semuanya akan baik-baik saja. Ada aku di sini." Arvy terus berusaha menenangkan Adila.
Ia mulai melantunkan lagu yang menjadi andalannya. Lagu ciptaan dia dan Hyena atau Irene. Suara merdunya menggema di tengah sepinya hutan.
Terlihat Adila mulai merasa rileks mendengarkan suara merdu Arvy. Ia bahkan lambat laun mulai tertidur dalam pelukan lelaki itu. Suara Arvy bagaikan candu yang tidak akan bosan untuk didengarkan.
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Arvy yang baru saja menyelesaikan lagunya yang ke lima. Ia bertanya karena sejak tadi tidak ada kata-kata yang muncul dari Adila. Ia lirik sekilas, ternyata Adila memang benar-benar telah tertidur di pelukannya.
Perlahan Arvy merebahkan Adila di atas dipan itu. Ia pandangi wajah polos nan lugu wanita yang pernah menjadi kekasihnya. Arvy turut berbaring di sampingnya sambil tak bosan terus memandangi wajah itu.
"Kenapa kamu meminta putus? Apa kamu benar-benar sudah tidak mencintai aku?" tanya Arvy kepada sosok wanita yang tengah tertidur di hadapannya itu.
__ADS_1