
Mari ukir langit malam tanpa bintang
Potongan kertas di tanganku diterangi oleh cahaya
Tampak rusak walau bercahaya
Potongan kertas di tanganku
Bisakah kau melihat dunia yang diimpikan
Disaat-saat yang singkat berlalu dengan cepat
Aku hidup setiap hari, dipenuhi dengan melakukan apa yang aku bisa
Ketika aku menutup mataku, kau selalu bersamaku
Di hari aku merasa tidak bisa memahami cinta
Irene menyenandungkan sebuah lagu selama di dalam mobil Alan. Suaranya yang cukup merdu membuat Alan terpaku untuk terus mendengarkannya. Akhir-akhir ini, apapun yang Irene lakukan selalu bisa membuatnya terkesima.
"Kamu suka Hyena juga, ya?" tanya Alan.
"Ah, hah. Iya, aku suka." Irene berhenti bernyanyi. Apa kamu tidak menyukainya?" tanyanya.
"Suka ... lagunya memang enak di dengar. Sudah satu tahun ini masih menjadi lagu terpopuler di internet."
"Kalau aku yang menyanyikannya, apa masih enak didengar?" Irene meringis.
Alan tersenyum dimintai pendapat tentang suaranya. "Ya, lumayan ... suaramu lumayan juga didengarkan," jawabnya.
"Orang-orang di rumah apa kabar ya, Kak? Baru beberapa hari rasanya sudah cukup lama aku meninggalkan rumah."
"Seperti biasa, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Rumah tidak ada kamu juga jadi sepi karena Ares tidak ada teman berkelahi."
Meskipun menyenangkan bisa merasakan tinggal di luar rumah dan bertemu orang-orang baru, sesekali Irene merasa rindu kebersamaannya dengan lima tuan muda keluarga Narendra. Ares yang paling sering membuatnya kesal, namun ia juga yang paling memberikan banyak pengalaman berkesan untuknya. Umur mereka yang sepantaran membuatnya selalu senang saat menghabiskan waktu bersama, termasuk momen-momen berulah mereka.
"Kita sudah sampai." Alan menghentikan mobilnya di halaman gedung tempat Irene kini tinggal.
"Terima kasih makan-makannya hari ini. Kalau besok diajak makan lagi, aku tidak menolak." Irene mengembangan senyuman lebarnya.
Alan mencubit pipi Irene dengan gemas. "Kamu tahu berapa yang tadi aku habiskan untuk membayar makananmu? Hampir lima juga, dasar rakus!"
__ADS_1
"Aduh! Itu masih lebih kecil dari yang Kak Alan habiskan untuk membelikan tas Sovia."
Alan langsung melepaskan tangannya. Ekspresinya berubah saat nama Sovia kembali dibahas. Mengingat kembali apa yang terjadi kepadanya dan Sovia membuat Alan ingin marah dan emosi.
"Sudah, masuk sana!" perintah Alan.
"Kenapa Kak Alan jadi galak, sih?"
"Masuk ...," pinta Alan lagi.
"Iya, iya ...." Irene berbalik sembari menggerutu. Saat baru dua langkah berjalan, tangannya ditarik secara tiba-tiba. Alan memberinya pelukan serta mengelus rambutnya.
"Semangat, ya! Aku yakin kamu bisa jadi juara."
Irene tercengang dengan kelakuan random Alan. Tidak ada angin atau hujan tapi lelaki itu tiba-tiba memeluknya. "Ya sudah, aku masuk dulu," pamitnya.
Meera yang berada tak jauh dari mereka menyunggingkan senyum sinisnya. Di tangannya ada beberapa lembar foto yang baru saja ia terima dari seorang paparazi untuk mengukuti keduanya. Ia punya rencana sendiri dengan foto-foto itu.
"Permisi ...." Meera berlari cepat menghampiri Alan yang hampir masuk kembali ke dalam mobilnya.
Alan menatap keheranan pada sosok wanita yang ada di hadapannya kini. Ia merasa tak kenal siapa wanita itu.
"Selamat sore, Pak. Nama saya Meera, teman sekamar Irene. Kami berdua teman baik," ucap Meera berusaha mendapatkan perhatian dari Alan. "Irene sering menceritakan tentang Bapak kepada kami. Apa boleh saya meminta nomor Bapak secara langsung? Kalau ada apa-apa dengan Irene, nanti saya bisa menghubungi Bapak."
"Sebenarnya Irene sering mengeluh sakit perut selama berada di asrama. Dia suka mengeluh sampai menangis. Setiap kali aku suruh hubungi keluarga, dia tidak mau. Saya sangat khawatir dengan kondisi kesehatannya." Meera berkata dengan nada memelas yang sangat meyakinkan.
"Benarkah seperti itu? Kalau lain kali ada masalau dengan Irene, langsung hubungi aku saja." Alan mengeluarkan lembaran kertas kecil dan sebuah pulpen dari sakunya. Ia menuliskan nomor telepon lalu menyerahkannya kepada Meera.
Meera kegirangan mendapatkan momor kontak lelaki tampan itu. "Terima kasih, Pak!" ucapnya.
Alan segera melajukan kendaraannya meninggalkan asrama Irene. Meera masih berdiri di sana memandangi lembaran kertas yang Alan berikan. Ia salin nomor tersebut dalam ponselnya supaya tidak hilang.
Meera membuka-buka kembali koleksi foto dalam galeri ponselnya. Ada banyak foto Irene dan Alan yang dikirimkan padanya. Ia memilih beberapa foto yang cukup sesuai dengan rencananya, menutupi wajah Alan dengan stiker lucu. Ia tersenyum menyeringai sembari memposting foto editannya dengan caption yang berani.
NB: Anggap aja Irene di sini kulitnya gelap, ya. Authornya capek edit ðŸ¤
*****
Hanya butuh waktu satu jam saja, postingan yang diunggah oleh Meera langsung ramai dibanjiri komentar. Postingannya bukan hanya menyebar di kalangan peserta kompetisi, namun melebar ke setiap kampus yang memiliki perwakilan dalam kompetisi.
__ADS_1
"Jeha! Cepat kemari!" seru Winda.
Jeha yang baru membeli minuman segera menghampiri Winda seraya memberikan satu minuman untuknya.
"Lihat ini! Meera benar-benar gila!" Winda memperlihatkan foto-foto yang diunggah oleh Meera. Sangat jelas wanita yang ada di dalam foto tersebut merupakan Irene.
"Kamu yakin ini akun milik Meera?" tanya Jeha yang ikut syok melihat foto-foto Irene diberi caption sembarangan.
"Aku yakin! Aku sudah lama mengikuti akunnya. Lagipula, kemarin juga dia yang bilang mau membuktikan kalau Irene simpanan bapak-bapak."
"Kenapa dia sampai berbuat seperti ini? Irene salah apa ya, sama dia. Kalau sampai berita seperti ini berkembang, bisa-bisa Irene didiskualifikasi dari kompetisi."
Jeha dan Winda saling berpandangan. Ia tidak rela Irene difitnah atas sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Sekalipun hal itu benar, tidak ada yang boleh memposting urusan pribadi orang lain.
"Kita harus mencari Meera sekarang!" tegas Winda.
Berita tentang Irene menyebar begitu cepat di kampus Ares. Ia ingin terkekeh ada orang yang sangat berniat menjatuhkan Irene dengan memasang foto semacam itu. Ia tahu kalau foto itu adalah foto kakaknya, Alan. Kalau sampai kakaknya tahu ada orang yang sembarangan memposting fotonya, pasti tidak akan selesai hanya dengan minta maaf. Menurutnya, orang yang berani membuat berita hoax sama artinya dengan cari mati. Ia juga tidak rela Irene dihina atau dijelek-jelekkan orang lain.
"Ares! Apa kamu sudah tahu berita tentang Irene?" Bian buru-buru berlari menghampiri Ares di tongkrongannya. Ia merasa harus menyampaikan berita itu kepada Ares karena Irene cukup dekat dengan Ares. Meskipun tongkrongan Ares berisi mahasiswa-mahasiswa yang cukup menakutkan juga seperti preman.
"Ada orang yang sengaja membuat fitnah tentang dia di internet."
"Iya, aku sudah tahu," jawab Ares.
"Aku khawatir akan berpengaruh pada Irene di tempat kompetisinya."
Ares kembali melihat postingan yang membuatnya kesal. "Berani-beraninya dia menghina Irene, sialan orang ini! Mengejek Irene itu pekerjaanku, sialan!" gerutu Ares dengan suara lirih sembari mengetikkan komentar di postingan tersebut.
A_rest: Woy! Hapus fotonya atau aku yang akan menghapus namamu dari dunia ini! Tukang fitnah sialan!
"Heh! Kalian jangan ketawa-tawa ... temanku bukan?" Ares kesal melihat teman-temannya yang sedang tertawa sembari membahas postingan foto tentang Irene.
"Kenapa sih, Res? Lucu juga yang bikin berita. Masa ada yang mau menjadikan Irene jadi sugar baby. Kalau jadi pembantu mungkin iya. Hahaha ...."
"Berani kamu tertawa lagi, aku rontokkan gigi-gigimu," ancam Ares.
"Sori, Res. Bercanda."
"Bagaimanapun juga, dia sedang berjuang membawa nama baik kampus. Tujuannya sudah jelas, dia mau Irene tersingkir dari kompetisi. Apa kalian masih tidak mau membela?"
"Wah, kalau masalah kampus, kita pasti bersatu. Sialan anak kampus mana yang suka curang? Takut kalah dengan kampus kita."
__ADS_1
"Ayo kita silahturahmi ke akunnya! Buat dia kena mental dengan postingannya sendiri."
Ares dan tongkrongannya ramai-ramai menyumbang komentar untuk orang yang memposting berita fitnah Irene.