Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 139


__ADS_3

Kakek Abraham berkeliling area taman depan menikati udara malam yang menurutnya segar. Ia ingin tahu saja bagaimana tempat tinggal Irene selama ini. Tempatnya cukup nyaman, namun ia masih heran kenapa Irene harus menyamar.


"Anak nakal itu pasti niatnya mau menggagalkan perjodohan ini," gumamnya.


Kakek masih ingat bagaimana sifat Irene awal-awal ia beri tahu akan dijodohkan. Anak itu hampir menolak kalau saja tidak diberi ancaman. Ternyata cucu nakalnya datang ke kediaman Narendra dengan wajah sejelek itu.


"Pokoknya Irene harus mendapatkan jodoh yang tepat!" ucapnya.


Merasa cukup menikmati udara luar, kakek bermaksud masuk ke dalam kamar yang telah disediakan untuknya. Memasuki area ruang tengah, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Alan yang tengah memegang segelas air.


"Oh, Kakek belum tidur?" tanya Alan.


"Belum. Aku belum mengantuk," jawab Kakek.


"Bagaimana kalau kita bermain catur? Kakekku biasanya suka kalau diajak catur," kata Alan.


Kakek tampak berpikir sejenak untuk menerima ajakan Alan. "Baiklah, ayo kita main catur," katanya.


Alan mengajak sang kakek menaiki lift bersamanya menuju lantai tiga. Di area santai lantai tiga sudah ada perlengkapan catur yang biasa digunakan untuk bermain dengan anggota keluarga yang lain.


"Kemampuan catur kakekmu cukup lumayan. Aku rasa cucunya pasti juga mewarisi kemampuannya," mata kakek.


Alan tertawa. "Menurutku, kakekku sangat payah bermain. Aku sering mengalahkannya," ucapnya.


"Benarkah? Dia pasti sangat marah kalau dikalahkan. Aku penasaran dengan ekspresinya saat kalah."


Alan memulai permainan catur dengan kakek Irene. Permainan yang mereka lakukan cukup santai karena tidak ada yang berambisi untuk bersaing dan mendapatkan kemenangan.


"Bagaimana pendapatmu tentang cucuku?" tanya kakek.


Alan terdiam sejenak. Ia cukup kaget mendapatkan pertanyaan semacam itu. "Irene anak yang baik," jawabnya.


"Apa dia merepotkan kalian selama di sini?" cecar kakek.

__ADS_1


"Tidak. Irene tidak pernah membuat masalah besar selama di sini," kilah Alan.


"Apa kamu yakin Irene tidak macam-macam? Mungkin dia suka diam-diam keluar malam atau mabuk-mabukan?"


Alan bingung sendiri dengan apa yang kakek katakan. "Aku rasa tidak. Irene tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu," katanya.


Kakek menghela napas lega. Ia kira Irene di sana akan menjadi wanita yang lebih liar dibandingkan saat bersama dengannya. Ia sendiri sebagai kakek cukup kewalahan menasihati agar Irene mau berhenti balapan liar.


"Sejak kecil Irene sudah hidup menderita bersama kakek neneknya yang sudah sangat tua ini," kata kakek. "Saat kedua orang tuanya meninggal, anak itu sama sekali tidak menangis ataupun merengek. Ia kelihatan seperti anak yang tegar namun aku tahu hatinya sangat terluka. Aku sebagai kakeknya merasa semakin sedih melihat anak yang tidak bisa mengekspresikan kesedihannya."


Alan mendengarkan cerita kakek dalam diam.


"Aku berharap Irene bisa mendapatkan seorang lelaki yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Lelaki yang bisa membahagiakan Irene dan menggantikan aku untuk menjaganya."


"Silakan giliran kakek untuk menjalankan pion," kata Alan.


Kakek heran karena Alan tidak memberikan respon terhadap ceritanya. Ia menjalankan satu pion miliknya di atas papan catur.


"Aku rasa menitipkan Irene di sini bukanlah keputusan yang tepat. Pasti tidak ada di antara kalian yang menginginkan Irene," kata kakek kecewa.


Kakek sampai terkejut mendengarnya. Ia kira Alan tidak peduli pembahasan tentang Irene sebelumnya.


"Apa kamu benar-benar menginginkan Irene tetap berada di sini?" tanya kakek dengan wajah yang serius.


"Aku ingin menjaga Irene selamanya," jawab Alan dengan nada bicara yang serius pula.


Kakek kembali terkejut dengan ketegasan jawaban dari Alan. "Kamu mencintai Irene? Apa kamu sungguh-sungguh mencintai cucuku yang jelek itu?" tanyanya memastikan.


Alan mengangguk. "Aku benar-benar menyukai Irene," katanya.


Kakek mengembangkan senyum. Ia bahagia mendengarkan pengakuan dari salah satu tuan muda keluarga Narendra. Ia tidak menyangka dengan penampilan Irene yang seburuk itu masih bisa membuat lelaki setampan Alan jatuh cinta.


"Kalau kamu memang benar-benar menyukai cucuku, yakinkan sendiri agar dia tetap mau berada di rumah ini," kata kakek.

__ADS_1


"Apa Kakek mendukungku?" tanya Alan.


"Aku mendukung siapapun yang cucuku pilih sebagai pendampingnya," jawab kakek.


"Aku pasti akan meyakinkan Irene agar tetap tinggal di sini," kata Alan mantap.


***


"Kakek ... Nenek .... "


Irene kebingungan mencari kakek neneknya. Ia berkeliling setiap ruangan di lantai satu untuk mencari mereka. Anehnya, kakek dan neneknya tidak ada di mana-mana.


"Kakek ... Nenek ...," seru Irene lagi.


"Irene, kakek dan nenekmu sudah pulang," sahut Alan yang baru turun dari lantai atas.


Irene tertegun sejenak. "Mereka sudah pulang? Kenapa tidak memberitahuku?" tanyanya heran.


"Mereka pulang pagi-pagi buta karena ada urusan. Mereka juga sudah pamit padaku dan suruh menyampaikannya padamu. Soalnya kamu masih tidur dan mereka tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu," terang Alan.


"Yah, kok cepat banget sudah pulang," kata Irene kecewa.


"Kamu mau berangkat ke kampus?" tanya Alan.


Irene mengangguk.


"Kalau begitu, ayo aku antar! Ini harusnya jadwal Arvy mengantarmu, kan?" tanya Alan.


Irene kembali mengangguk. Ia sampai lula malau jadwam Arvy mengantarnya sudah diberikan kepada Alan.


"Ares mana? Bukannya dia juga harus kuliah?" tanya Alan yang merasa belum melihat Ares pagi ini.


"Dia jadwal kuliah siang hari ini. Paling masih tidur."

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu, kita berangkat berdua saja," ajak Alan.


__ADS_2