Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 68: Hadiah dari Hansen


__ADS_3

Irene berdiri di atas pentas memegang microfon. Awalnya ia ragu ingin menyanyikan lagu apa, namun akhirnya ia memutuskan untuk menyanyikan lagunya sendiri. Lagu yang orang-orang kenal sebagai lagu milik Hyena.


Orang-orang terkesima saat Irene dengan topengnya menyanyikan lagu berjudul Potongan Kertas dengan suara yang sangat mirip sengan Hyena. Beberapa dari mereka tampak berbisik-bisik membicarakan suara Irene yang Indah.


Alan yang baru saja keluar dari toilet melewari area pub berhenti sejenak saat mendengarkan suara merdu yang mengalun dari arah panggung. Ia yang awalnya ingin masuk ke area diskotik malah berubah haluan masuk pub hanya untuk memastikan siapa penyanyi lagu tersebut.


Alan menunggu sampai penyanyi itu selesai membawakan lagunya. Ia menunggu di belakang panggung sesaat sebelum Irene turun.


"Tunggu sebentar!" Alan meraih tangan Irene.


Melihat Alan tiba-tiba ada di sana, membuat Irene sangat syok. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Alan di sana. Apalagi ia sedang menjadi dirinya sendiri, jika topengnya terlepas Alan akan tahu kalau dirinya yang menyamar sebagai hantu Miss A.


"Em, maaf, kenapa, Pak?" Irene berusaha menenangkan hatinya. Ia yakin penyamarannya masih aman. Jantungnya berdebar sangat kencang.


"Apa kamu adalah Hyena?" tanyanya.


Irene sampai lupa kalau Alan juga salah satu penggemar Hyena. Beberapa kali mereka pernah membahas lagu-lagu Hyena yang viral.


"Hahaha ... banyak yang bilang suara saya mirip dengan Hyena si penyanyi misterius itu. Makanya saya sering disuruh menyanyikan lagunya. Tapi maaf, saya bukan Hyena. Saya hanya penyanyi reguler di tempat ini."


Alan melepaskan tangan Irene. Ia pikir hanya salah paham saja menganggap wanita itu penyanyi Hyena yang asli. Irene buru-buru berjalan ke ruangan yang ada di belakang panggung sebelum Alan menyadari siapa dirinya.


"Anda kenapa, Nona?" tanya Ron keheranan melihat Irene berlari seperti dikejar sesuatu.


"Aku kapok bernyanyi di sini. Jangan menyuruhku menyanyi lagi!"


Ron heran dengan perubahan sikap Irene. Padahal tadi wanita itu kelihatan baik-baik saja dan senang menyanyi di tempatnya.


"Aku mau pulang!" kata Irene sembari menulis sesuatu di atas kertas.


"Tapi, nanti Tuan Hamish bisa marah."


Irene menyerahkan lembaran kertas tulisannya. "Berikan ini kepada Kak Hamish. Aku pulang dulu."


Kak Hamish,


Aku harus pulang karena ada urusan. Temui aku di XXX pukul XXX. Awas kalau aku tahu Kakak memakai orang untuk melacakku. Aku tidak akan lagi menganggapmu sebagai Kakakku!


From: Irene

__ADS_1


***


Alan langsung pergi setelah mengantarkan Irene ke tempat kompetisi. Gedung yang ada di hadapannya sekarang merupakan tempat penentuan terakhir untuk memutuskan siapa yang layak menjadi pemenang. Irene sudah menyiapkan usaha terbaiknya dan siap menghadapi final bersama peserta yang lain.


"Irene ...."


Jeha dan Winda berlari kearahnya. Mereka bertiga langsung berpelukan seakan telah lama tidak bertemu dan saling merindukan.


"Sebenarnya ini tempat kompetisi mahasiswa atau perkumpulan imunisasi balita?" Hansen datang sembari geleng-geleng kepala melihat kelakuan heboh ketiga wanita itu.


"Kenapa, Hansen? Kamu sebenarnya ingin ikutan, kan?" ledek Winda.


"Apaan ... sebentar lagi acara pembukaan kompetisi dimulai. Jangan asyik terus di luar nanti ketinggalan bisa didiskualifikasi."


"Dasar pengganggu kesenangan orang," gerutu Winda.


"Irene, ini untukmu!" Hansen menyodorkan sebuah pulpen kepada Irene.


Ketiga wanita itu keheranan melihat benda yang diberikan Hansen. Hanya satu pulpen biasa dengan bagian atas terdapat ornamen bulat berbentuk wajah tokoh kartun Ariel.


"Apa ini?" tanya Jeha ingin tahu.


"Coba buka kepala Ariel!" pinta Hansen..


Irene yang penasaran membuka kepala Ariel pada pulpen tersebut. Ia langsung tercengang saat melihat ada permen lolipop di dalamnya.


"Wah, teman cerdasku ini ternyata nakal juga, ya ...." Irene tersenyum lebar. Ia mengira pulpen tersebut hanya pulpen biasa. Langsung saja ia lahap lolipop yang ada di dalamnya.


"Hansen curang ya, cuma kasih Irene. Buat kita mana?" protes Winda.


"Kalau mau, berusaha dulu kalian jadi sainganku. Tadi katanya hadiahku jelek."


"Aku tarik kata-kataku! Aku juga mau pulpen yang bisa diisi lolipop!"


"Aku juga mau!" Jeha ikut-ikutan protes.


"Itu khusus untuk saingan terberat. Lolipopnya ada racunnya kok, supaya Irene kalah. Hahaha ... bye, aku masuk dulu!" Hansen pergi ke dalam lebih dulu.


Jeha dan Winda memandangi Irene yang masih asyik menikmati lolipopnya.

__ADS_1


"Tadi kata Hansen itu ada racunnya, Irene. Kenapa tetap kamu makan? Kalau sampai kamu tidur atau keracunan saat presentasi, nanti kamu kalah," ucap Jeha.


"Hansen cuma bercanda, kalian jangan serius-serius begitu." Irene melirik kedua temannya sambil senyum-senyum. "Mana ada orang berbuat kriminal di tempat umum, di depan dua orang saksi, dan mengaku sendiri pada korban."


"Bisa juga ya orang seperti Hansen bercanda."


"Yakali hidupnya ngurusin soal-soal rumit terus," ujar Jeha.


"Tapi, lucu juga sih hadiahnya," kata Winda. "Sepertinya Hanses menyukaimu," tebaknya.


Jeha mengambil pulpen milik Irene dan memperhatikannya dengan seksama. Matanya melebar saat melihat merk yang tertera. "Gila! Ini merk Par*ker loh! Harganya bisa puluhan juta apalagi custom." Ia baru tahu barang yang Hansen berikan ternyata bukan barang sembarangan.


"Masa, sih? Kok bisa mahal? Apa ini terbuat dari emas?" Winda yang penasaran ikut melihat pulpen tersebut. Benar saja, sebagian besar bagian pulpen tersebut dilapisi dengan emas.


"Kembalikan sini! Mau mahal atau murah yang penting kan fungsinya. Enak ini, ada pulpen bisa sekalian makan buat makan permen." Irene mengambil kembali miliknya. "Masuk, yuk!" ajaknya.


Mereka masuk ke dalam gedung untuk mengikuti upacara pembukaan acara final kompetisi. Setelah itu, satu per satu peserta diberi kesempatan maju menghadapi tim penilai untuk menjawab seputar karya yang dibuat. Beberapa bisa menjawab dengan sangat baik, beberapa yang lain ada yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan tim penilai atau penguji. Setiap peserta yang telah selesai pemaparan akan menghela napas lega.


"Irene, setelah ini bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?" tanya Hansen setelah giliran mereka selesai.


"Em, sebenarnya aku juga mau sekali, Hansen. Tapi maaf, aku sudah ada janji dengan seseorang. Mungkin lain waktu, ya," ucapnya.


Wajah Hansen terlihat sedikit kecewa. "Baiklah, aku tahu kamu memang orang sibuk. Aku harap lain waktu kita bisa hang out bareng."


Irene menyunggingkan senyum. "Aku pulang dulu," ucapnya.


Irene menuruni saru per satu anak tangga menuju ke tempat parkir. Di sana sudah ada Alan yang sedang berdiri di samping mobilnya. Sesekali pandangannya menatap ke arah jam tangan. Orang-orang yang sejak tadi memperhatikan tidak dihiraukan sama sekali.


"Kak!" sapa Irene.


Alan hanya menoleh sekedarnya saja kepada Irene. "Cepat masuk!" perintahnya. Ia menunjukkan wajah dinginnya seperti biasa. Bahkan ia tak mau membukakan pintu mobil untuk Irene.


Irene masuk mobil dengan memberikan tatapan aneh pada Alan. "Sebenarnya iklas nggak sih nemenin aku di sini? Muka kok jutek banget!" sindirnya sembari berusaha memasang sabuk pengaman yang agak sulit masuk pada tempatmya. "Tahu gitu minta Kak Alex saja untuk menemaniku," keluhnya. Ia bertsmbah kesal karena sabuk pengamannya sulit terpasang.


"Coba bilang sekali lagi!"


Irene bergerak mundur saat wajah Alan tiba-tiba persis berada di depannya dalam jarak yang sangat dekat. Satu centi lagi sepertinya kedua bibir mereka akan menyatu. Irene sampai menahan napas karena kaget. Tatapan Alan sangat tajam seakan ingin memakannya hidup-hidup.


"Diam! Aku sedang tidak ingin mendengar cerita atau keluhanmu," ucapnya seraya membantu memasangkan sabuk pengaman milik Irene. "Setelah ini kita akan pergi ke salon kecantikan. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."

__ADS_1


Irene langsung membulatkan mata saat mendengar Alan akan membawanya ke salon kecantikan. Ia khawatir penyamarannya akan terbongkar.


__ADS_2