Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 235: Sekedar Penghibur


__ADS_3

Irene terlihat resah di pojokan ruangan. Beberapa kali ia berusaha menghubungi nomor Alan, namun tak kunjung diangkat.


Irene menggigit jarinya. Ia khawatir terjadi sesuatu kepada Alan. Memang hubungan mereka kurang baik, namun setidaknya Alan harus mengabarinya.


"Ren," panggil Ares.


Irene menurunkan kembali ponselnya. Ia tak mengira Ares ada di sana dan memperhatikannya.


"Kamu sedang apa?" tanya Ares.


"Ah, ini. Aku mencoba menghubungi Kak Alan tapi tidak bisa tersambung," kata Irene.


Ares berjalan mendekat. "Kamu tidak perlu menghubunginya, percuma," katanya.


"Memangnya kenapa?"


"Kak Alan sedang berada di luar negeri. Ponselnya ketinggalan di rumah. Aku juga baru ditelepon Kak Alan lewat asistennya."


Tubuh Irene merasa lemas. Ia berharap menjadi orang yang pertama kali dihubungi oleh Alan. Sepertinya lelaki itu benar-benar marah padanya.


Ares menepuk pundak Irene untuk menguatkannya. "Sudahlah, kita pulang saja, ya!" ajaknya.


Irene menurut. Ares menggandeng tangan Irene agar ikut bersamanya menuju ke tempat parkiran.


"Kak Alan ada urusan penting di luar negeri. Katanya orang tua kami sudah ditemukan," kata Ares.


Irene terkejut mendengar penuturan Ares. "Bukannya ...."


"Iya, kedua orang tua kami sudah lama meninggal. Bahkan aku tidak pernah mengingat wajah mereka karena saat itu aku masih sangat kecil," ucap Ares. "Entah bagaimana ceritanya, Kak Alan bilang ada kemungkinan orang tua kami masih hidup. Makanya Kak Alan pergi ke luar negeri untuk memastikannya."


Irene menitihkan air mata. Entah mengapa hatinya terasa sangat sakit.


"Kamu kenapa?" tanya Ares heran.


Irene menggelengkan kepalanya.


"Kalau tidak apa-apa, kenapa menangis?"


Isak tangis Irene semakin keras. Bahkan bahunya sampai naik turun karena terisak-isak.


Ares menarik Irene dan memeluknya. Ia menepuk-nepuk kepala Irene dan membiarkan wanita itu menangis di dadanya.


"Jangan menangis," kata Ares.

__ADS_1


Baru kemarin Irene bersemangat untuk kembali memperjuangkan hati Alan. Namun, sikap abai yang lelaki itu tunjukkan padanya mampu membuat rasa optimisnya luruh. Ia seakan tak lagi punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Alan.


"Res, sepertinya Kak Alan sudah tidak peduli padaku," keluh Irene.


Ares sebenarnya merasa sakit ketika melihat wanita yang dikaguminya tengah menangisi lelaki lain. "Percayalah, itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Mungkin Kak Alan hanya tidak ingin membuatmu khawatir," ucapnya. Di depan Irene, Ares berpura-pura menjadi sosok teman yang bijak.


"Aku sudah berusaha meminta maaf tapi Kak Alan terus mengabaikan aku. Biasanya dia selalu cerita kemana akan pergi agar aku tidak khawatir. Aku harus bagaimana?"


"Kalau diperbolehkan, aku bisa saja membawamu ke sana. Tapi, Kak Alan melarang kami untuk menyusul. Katanya kami hanya perlu menunggu sampai ada kepastian kalau mereka memang benar-benar orang tua kami. Bersabarlah," nasihat Ares.


Irene melepaskan pelukan mereka. Ia mengusap sisa air mata yang menetes di pipinya.


"Kita pulang saja kalau begitu!" kata Irene.


Ares dan Irene sama-sama masuk ke dalam mobil.


"Walaupun sedang sedih, jangan lupa pasang sabuk pengamanmu," kata Ares mengingatkan.


Ia segera melajukan mobilnya setelah Irene memasangkan sabuk pengaman.


***


"Loh, siapa ini? Irene kan? Kamu operasi plastik?"


Para pelayan yang mendengar suara tinggi Alfa ikut penasaran. Mereka turut mendekat untuk melihat sosok wanita yang baru saja masuk bersama Ares. Mereka tidak kalah terkejutnya dengan Alfa. Rasanya tidak bisa dipercaya jika wanita yang selama ini mereka layani di rumah itu yang selalu mereka tertawakan karena jelek ternyata aslinya sangat cantik.


"Ren, ini benar kamu, kan?" Alfa sampai mencubit pipi Irene untuk memastikan.


"Aduh! Jangan keras-keras, Kak! Sakit!" keluh Irene.


"Kok Irene bisa begini, Res?" tanya Alfa heran.


"Irene memang seperti ini. Dia selama ini sebenarnya hanya menutupi wajah aslinya di depan kita. Sekarang katanya dia mau jujur apa adanya," jawab Ares.


"Irene, Irene ... Kenapa harus bohong segala? Kok ada orang mau kelihatan jelek di depan orang lain," gumam Alfa.


Sebenarnya menurut Alfa, Irene tetap cantik dengan kulit eksotisnya yang dulu. Namun, warna kulit aslinya yang putih bersih memang membuat Irene terlihat lebih cantik dari biasanya.


"Katanya supaya perjodohannya batal, Kak. Dia tidak tahu saja bagaimana sikap kakek sampai akhir. Kemauannya harus dituruti," ucap Ares.


Alfa memandangi Irene dari atas sampai bawah. Ia benar-benar pangling melihat Irene yang sekarang. "Ren, bagaimana kalau kamu menikah dengan aku saja?" celetuknya.


Irene tertawa mendengarnya. Sementara, Ares memutar kedua bola matanya dengan malas.

__ADS_1


"Kak Alfa tumben bisa pulang. Apa urusan di butik sudah selesai?" tanya Irene.


"Sudah aku tutup pemesanan gaun untuk tiga bulan ke depan. Terima kasih ya, Ren, gara-gara promosimu semua orang di butik jadi kewalahan. Jangan lupa juga datang ke acara fashion show minggu depan."


"Aku diundang nggak?" sahut Ares.


"Kalau kamu mau datang ya datang saja, biasanya juga tidak mau," jawab Alfa malas.


"Kalau Irene ikut aku juga ikut," kata Ares.


"Aku tidak bisa janji, Kak. Akhir pekan ini rencananya mau pulang ke tempat kakek dan nenek," kata Irene.


"Sudah, Ren, masuk kamar sana! Katanya tadi kamu lelah," ucap Ares.


"Baiklah, aku ke kamar dulu," kata Irene.


Setiap langkah yang ia lakukan, para pelayan terlihat terus memperhatikannya. Ini memang pertama kalinya Irene tampil apa adanya di hadapan mereka.


Ares dan Alfa pindah ke ruang tengah. Seorang pelayan datang membawakan dua gelas es lemon yang segar dan beberapa camilan.


"Tuan Muda, apa benar itu tadi adalah Nona Irene?" tanya salah seorang pelayan.


"Iya, benar. Itu Irene," jawab Ares.


Pelayan tersebut kemudian pergi setelah mendapatkan jawaban yang ia inginkan.


"Ngomong-ngomong, kalian habis dari mana?" tanya Alfa seraya menyeruput minumannya.


"Irene baru saja pulang dari fan meeting sebagai Hyena," kata Ares.


"Uhuk! Uhuk!"


Alfa sampai terbatuk-batuk mendengar perkataan Ares. "Apa? Hyena itu Irene?" tanyanya memastikan.


"Kaget, kan? Siapa sangka kalau wanita seperti dia punya suara yang bagus dan menyamar sebagai Hyena."


"Aku jadi penasaran dengan Irene. Jadi, selama ini dia menyembunyikan banyak hal dari kita semua?" tanya Alfa.


"Mungkin saja. Dia memang orang yang selalu penuh kejutan."


Kedua kakak beradik itu sama-sama berpikir. Mereka begitu ingin tahu dan menelisik asal usul Irene yang sebenarnya. Bagaimana bisa seorang gadis jelek kampungan itu bisa membuat banyak kejutan tak terduga.


"Memang, Kakek tidak salah membawa Irene ke rumah ini. Dulu aku kira Kakek hanya ingin menghukum kita dengan kehadiran Irene," ujar Alfa.

__ADS_1


__ADS_2