
"Belum. Itu hasil desain yang sejak tadi berusaha aku buat," kata Irene sembari menunjuk pada kertas-kertas yang berserakan di lantai.
"Kalau memang membebanimu, bilang saja tidak bisa pada Alfa. Kamu jadi repot sendiri begini." Alan menyelipkan anak rambut Irene yang berantakan ke belakang telinga.
"Tidak apa-apa. Aku ...."
Tiba-tiba lampu di ruangan mereka mati. Kondisi sekeliling menjadi gelap gulita.
"Kak ...." Irene meraba-raba untuk memegang tangan Alan.
"Tenang saja, mungkin hanya mati listrik sebentar," ucap Alan menenangkan Irene.
Dari arah luar terdengar sayup-sayup suara beberapa orang yang tengah berbicara namun mereka tak bisa mendengarkan apa-apa.
"Masa di tempat Kak Alfa bisa mati listrik? Bukannya pasti ada genset?" gumam Irene.
"Kenapa? Kamu takut gelap? Kan ada aku ...."
"Siapa yang takut gelap, aku hanya bertanya."
"Sudahlah, seperti ini terus juga tidak apa-apa. Kita kan bisa berpelukan sampai lampu menyala," ujar Alan sembari memeluk Irene.
Beberapa saat mereka diam menunggu, namun lampu tak kunjung menyala. Keduanya merasa penasaran.
Blar! Blar!
Dari arah jendela mereka melihat cahaya api yang menyala. "Apa itu?" tanya Alan. Ia segera berlari mendekat ke arah jendela. Irene turut membuntuti di belakang.
Terlihat jelas api tengah menyambar-nyambar sampai mereka harus menjauh dari arah jendela.
"Siapa itu?" teriak Alan saat melihat beberapa orang berlarian meninggalkan bangunan itu.
__ADS_1
"Kak, sepertinya ada yang membakar tempat ini," kata Irene.
Alan segera menarik tangan Irene agar berlari bersamanya. Niatnya ia ingin keluar dari tempat itu yang sudah dikepung oleh api. Sayangnya, pintu ruangan itu ternyata telah dikunci dari luar. Alan berusaha menendang-nendang pintu itu namun terlalu kokoh.
Dengan cepat api mulai merambat memasuki gedung. Asap tebal memenuhi ruangan sampai mereka kesulitan bernapas. Alan masih berusaha membuka pintu itu. Pintu yang terbuat dari besi sama sekali tak bergerak. Bahkan lama kelamaan terasa panas karena api.
"Uhuk! Uhuk!"
Irene mulai merasa sesak napas sampai terbatuk-batuk. Matanya terasa perih karena asap.
"Irene ... Tutupi mulutmu dengan kain."
Alan memberikan potongan kain dan mengikatkannya pada wajah Irene sebagai masker darurat.
"Uhuk! Uhuk!"
Irene masih terbatuk-batuk. Tubuhnya sampai terkulai karena tak sanggup berdiri.
Pintu depan sudah tak mungkin lagi bisa dibuka. Bahkan pintu itu memberikan sensasi panas menadakan di luar pintu ada kobaran api yang besar.
Alan memperhatikan sekeliling. Ia ingat ada pintu kecil di area belakang.
"Irene, ayo pergi!" seru Alan.
Irene tetap terbatuk-batuk. Ia tak kuat berdiri lagi. Terpaksa Alan menggendongnya di belakang.
"Pegangan yang kuat!" perintahnya.
Alan berlari menuju ke arah pintu belakang. Ia berusaha menghindari kobaran api yang menyambar-nyambar. Seluruh ruangan hampir tertutup oleh api.
Pintu belakang ternyata juga dalam kondisi terkunci. Alan mendudukkan Irene di bawah. Ia kembali berusaha membuka paksa pintu itu dengan tendangannya. Dengan beberapa kali tendangan, akhirnya pintu itu terbuka. Di luar api juga sudah besar.
__ADS_1
Alan menggendong Irene kembali. Ia menerjang kobaran api agar bisa keluar dari bangunan itu. Dengan perjuangan yang keras, akhirnya mereka bisa keluar.
Napas Alan masih tersengal-sengal. Ia menyaksikan kobaran api yang semakin membesar melahap seluruh bangunan beserta isinya.
"Irene! Irene!"
Ternyata Irene sudah dalam kondisi pingsan. Alan berusaha membangunkannya dengan cara menepuk-nepuk pipinya. Usahanya gagal. Alan akhirnya memutuskan untuk memberikan napas bantuan. Setelah berjuang beberapa saat, akhirnya Irene kembali tersadar. Alan langsung memeluk wanita itu dengan penuh syukur.
"Kak Alan! Irene!"
Alfa berlari menghampiri mereka dengan beberapa anak buahnya. Mereka ada di bangunan utama mengerjakan gaun yang akan digunakan untuk fashion show. Mereka tidak menyangka jika ruang gudang yang berisi banyak barang akan terbakar dengan cepat dan menghabiskan semuanya.
Alfa memegangi kepalanya. Ia cukup syok dengan apa yang menimpa dirinya, memikirkan berapa banyak kerugian yang akan dideritanya. Pameran yang akan ia lakukan juga sepertinya terancam dibatalkan. Ia berusaha menenangkan diri.
"Cepat panggilkan ambulan!" perintah Alfa. Salah seorang anak buahnya bergegas lari untuk melaksanakan perintahnya.
"Kalian tidak apa-apa, kan?" tanya Alfa khawatir.
Ia lihat kondisi Irene yang lemas. Alan juga mengalami beberapa luka di tubuhnya.
"Ada yang sengaja membakar gudang milikmu, Fa. Tadi aku sekilas memergoki pelakunya meskipun tidak jelas," kata Alan.
"Sudahlah, itu tidak terlalu penting. Yang utama adalah keselamatan kalian."
"Ayo, kita masuk ke dalam dulu menunggu ambulan datang," ajak Alfa.
Alan kembali menggendong Irene. Kali ini di depan tubuhnya. Ia perhatikan Irene masih terlihat lemas dan tak berdaya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Alan.
Irene hanya mengangguk kecil. Ia merasakan matanya berat. Meskipun dipaksakan untuk membuka, namun ia tidak kuat menahannya. Akhirnya Irene menutup matanya dan tidak ingat apa-apa lagi.
__ADS_1