
Setelah upacara pernikahan, Alan dan Irene berjalan keluar dari gereja, tangan mereka saling bertaut dengan erat. Mereka disambut dengan sorakan dan tepuk tangan dari kerumunan tamu yang berbaris di luar. Bunga-bunga dilemparkan ke udara, menciptakan adegan yang indah dan romantis.
"Irene, selamat, ya,"
"Alan, Irene, semoga bahagia!"
"Selamat menempuh hidup baru!"
"Happy honeymoon ...."
Ucapan selamat tak henti-hentinya ia dengar dari para tamu yang hadir dan mengiringi kepergian mereka. Saat mereka berjalan ke arah mobil pengantin mereka yang berhias dengan rapi, cahaya matahari senja yang hangat memeluk mereka. Udara penuh dengan harum bunga dan suara tawa bahagia.
Alan dan Irene menyadari bahwa mereka telah melewati segala rintangan dan perjuangan untuk mencapai saat ini. Cinta mereka adalah cerita yang tidak terduga, tetapi akhirnya menemukan jalan kebahagiaan.
Di tengah keramaian dan kegembiraan, Irene merasa ada sesuatu yang hilang. Dia melihat seorang pria kesepian yang berdiri di sela-sela kerumunan tamu. Hamish. Dia masih membawa wajah yang penuh dengan kesedihan dan kekecewaan.
"Kenapa?" tanya Alan keheranan melihat Irene menghentikan langkah.
Istrinya seakan tertegun mengarahkan pandangan ke satu arah. Alan mencoba mengikuti tatapan itu, ternyata ada sosok Hamish di sana.
"Ren," tegur Alan dengan lembut.
Irene menoleh ke arahnya seraya tersenyum. "Aku ke sana sebentar saja," ucapnya.
"Ren," sekali lagi Alan menegur agar istrinya tak perlu mengurusi sepupu Irene yang gila itu.
"Percayalah, aku hanya mau bicara sebentar saja," kata Irene meyakinkan.
Irene melangkah mendekati Hamish, mengenali bahwa hati Hamish tetap terluka meskipun lelaki itu telah mencoba melepaskannya. Dengan penuh belas kasihan, dia berbicara padanya dengan suara lembut.
"Syukurlah Kak Hamish sudah sembuh," ucap Irene merasa lega dengan kondisi Hamish yang terlihat sudah sehat dibandingkan sebelumnya.
Hamish, dengan tatapan mata penuh amarah, melangkah maju tepat di depan Irene berdiri. Ia merasa tidak terima dengan kenyataan bahwa Irene telah menikahi Alan, bukan dirinya. Dalam keadaan penuh emosi, Hamish berusaha mengambil tangan Irene dan membawanya pergi.
__ADS_1
"Ikut aku!" pintanya.
"Kak! Jangan seperti ini!" Irene berusaha mencegah perbuatan Hamish. Ia tak ingin terjadi keributan di hari bahagianya.
"Ren, kita sudah lebih dulu menikah. Kamu adalah istriku, bukan istrinya!" kata Hamish dengan kekeh.
"Pernikahan kita tidak sah, Kak. Aku tidak pernah mencintai Kakak. Aku hanya menganggap Kakak sebagai saudara. Kenapa Kak Hamish terus memaksakannya?" Irene masih bertahan di sana agar tidak tertarik oleh Alan.
Hamish tersenyum getir. "Jadi, kamu sama seperti orang-orang? Kamu pasti menganggapku gila, kan?" tanyanya.
Susah payah ia lari dari kurungan Alberto demi bisa membawa Irene pergi bersamanya. Namun, wanita yang ia harapkan untuk membelanya, ternyata lebih memilih orang lain.
"Aku tidak pernah beranggapan seperti itu. Aku tahu Kakak sangat menyayangiku. Akupun demikian. Hanya saja, rasa sayang yang aku miliki berbeda dengan yang Kakak rasakan. Aku minta maaf untuk itu," kata Irene dengan nada lembut.
"Kamu bisa belajar untuk mencintaiku, sampai kapanpun aku akan tetap bisa menunggumu, Irene," kata Hamish.
Irene menggeleng. "Maaf, Kak. Aku hanya mencintai Kak Alan. Dia suamiku sekarang."
"Irene, kamu tidak bisa menikahinya! Kamu tahu bahwa aku adalah satu-satunya lelaki yang biaa kamu percaya!" Hamish masih berusaha meyakinkan Irene.
"Irene, aku akan melakukan apapun untukmu. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Tolong, jangan tinggalkan aku." Hamish m3mohon sampai berlutut di hadapan Irene.
Situasi itu membuat banyak orang menyorot ke arah mereka. Tentunya mereka bertanya-tanya siapa lelaki yang tengah merayu pengantin wanita.
Irene menjauhkan tangan dari genggaman Hamish. "Kak, perasaanmu harus kamu hadapi sendiri. Aku tidak bisa mengabaikan cinta yang ada dalam hatiku untuk Kak Alan. Kamu harus mengerti dan melepaskanku. Apa kamu ingin membuatku susah dan malu di hadapan banyak orang?" tanyanya.
Sementara itu, Alan menyaksikan percakapan mereka dari kejauhan. Ia menghampiri mereka dengan langkah mantap, menunjukkan rasa kepemilikan dan keberanian.
Alan menghentikan Hamish dengan tegas. "Hamish, aku menghormati perasaanmu terhadap Irene, tetapi kami saling mencintai dan telah membuat keputusan ini bersama-sama. Kamu harus menghormati pilihan kami."
Hamish terlihat frustasi dan kecewa. "Berani sekali kamu ikut campur. Kamu hanya seorang pencuri," ejeknya. Hamish merasa bahwa Alan merupakan perebut wanita kesayangannya.
Alan mengambil nafas dalam-dalam. "Hamish, perasaan tidak bisa dipaksakan. Irene telah membuat keputusannya, dan kita harus menghormati itu. Aku tidak ingin melihat siapapun tersakiti, tapi kita harus melanjutkan hidup dengan keputusan yang telah dibuat."
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Alberto.
Lelaki itu berjalan dengan langkah cepat menghampiri ketiganya. Ia bersama beberapa orang lainnya terlihat khawatir akan terjadi keributan oleh ulah Hamish di sana.
"Hamish, kamu seharusnya masih di rumah sakit. Kamu sudah berjanji tidak akan membuat onar makanya aku ajak kamu pulang. Tapi, kalau kamu seperti ini, lebih baik aku mengurungmu lagi di luar negeri!" ancam Alberto.
Hamish terlihat ketakutan mendengar perkataan Alberto. Ia melangkah mundur menjauh dari Irene beberapa langkah.
"Hamish, berhentilah berbuat sesuka hatimu. Tidak ada lagi pihak yang perlu kamu taruh dendam. Alan lelaki yang baik, dia pasti akan menjaga Irene dengan baik," bujuk kakek.
"Baiklah, kalau sampai aku dengar Irene disakiti sedikit saja, akan aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat Irene selamanya!" ancam Hamish sembari menunjuk ke arah Alan dengan tatapan seriusnya.
"Hamish, ayo kita pergi," bujuk nenek.
Mereka membawa Hamish menjauh dari kedua pengantin baru agar tidak menimbulkan masalah.
"Itu sepupunya Irene?" tanya Alfa penasaran.
"Iya, dia cinta mati pada Irene. Katanya apapun rela ia lakukan demi Irene," jawab Arvy.
"Orangnya seperti menyeramkan," tutur Alfa.
"Aku dengar dia mantan pimpinan mafia tingkat dunia."
"Wah, keren juga dia. Ternyata keluarga Irene cukup mengerikan."
"Sudah bisa ditebak kan, dari kelakuan si jelek itu?" tebak Arvy.
"Ah. Menurutku Irene anak yang baik. Setidaknya ucapan Irene tidak pernah blak-blakan sepertimu."
Saat Arvy dan Alfa saling ribut membahas Hamish, Ares hanya tertegun memandangi punggu Hamish yang semakin menjauh. Ada rasa salut dengan keberanian serta perjuangan cinta seorang Hamish meskipun caranya salah.
Jika ia memiliki mental sekuat itu, mungkin saja sekarang ia sudah nekad membawa Irene pergi bersamanya. Ia masih begitu berat menerima kenyataan bahwa Irene telah menikah dengan kakaknya.
__ADS_1
"Res, ayo cepat masuk ke dalam!" ajak Arvy.
"Ah. Iya!" sahut Ares. Hampir saja ia tertinggal dari kedua saudaranya. Ia menepis lamunan dan pikiran yang tidak wajar dalam benaknya.