Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 201


__ADS_3

Dari arah pintu terlihat anak buah Irene yang lain ikut datang. Ia merasa lega saat bantuan datang. Sembari melangkah mundur, Irene tetap mengarahkan senjatanya kepada Feng. Tatapannya begitu menunjukkan kewaspadaan.


"Nona, ayo cepat keluar!" seru Ron yang sudah berada di luar pintu.


Irene bergegas mempercepat langkah.


Dor!


Sayangnya, saat hendak berlari keluar, Feng menembak lengan kanan Irene.


"Ah!" pekik Irene. Ia memegangi lengannya yang terluka akibat tembakan tersebut.


Anak buah Irene yang melihatnya meringsek masuk ke dalam. Terjadi baku tembak antara kedua belah pihak yang saling melontarkan tembakan.


"Nona, cepat pergi dari sini!"


Ron membantu Irene berdiri dan menariknya keluar. Di luar, anak buah Feng yang lain ternyata sudah mengepung. Terpaksa mereka berpencar dan mencari arah jalan keluar yang lain.


Irene berusaha menghindari setiap tembakan yang datang padanya. Ia gunakan tangan kiri untuk membalas tembakan yang diterima.


Darah yang mengucur dari lengannya tak kunjung berhenti. Irene terpaksa memilih jalur belakang yang lebih jauh dari arah keluar namun cenderung aman. Anak buah Feng fokus berhadapan dengan anak buahnya di area gudang. Ia berharap semua anak buahnya bisa pergi dengan selamat.


Saat hendak memasuki area ladang ilalang, sebuah sepeda motor berhenti tepat di hadapannya. Irene memasang sikap waspada sembari mengacungkan pistolnya.


Lelaki di atas motor itu membuka kaca helmnya. "Cepat naik, Nona Cookie!" perintahnya.


Irene sedikit terkejut. Ia pikir itu adalah salah satu orang yang diminta anak buahnya untuk datang menjemput.


Dor! Dor!


Serbuan peluru kembali mengarah ke arah Irene. Beberapa anak buah Feng tengah berlari ke arahnya.


"Cepat naik!" seru lelaki itu.


Tanpa menunggu lagi, Irene segera naik ke atas motor. Lelaki itu menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Irene berpegangan erat pada sang pengemudi motor. Sesekali pandangannya mengarah ke belakang, mengecek anak buah Feng yang ternyata masih mengikuti mereka.


Laju motor dipacu dengan lebih cepat melewati gang-gang sempit. Sang pengemudi sengaja melakukannya untuk menghilangkan jejak dari orang-orang yang masih mengejarnya.


"Antarkan aku ke daerah XXX!" pinta Irene.


Sesampainya di daerah yang dimaksud, lelaki itu menghentikan motornya. Ia melepaskan helm namun masih mengenakan masker penutup wajahnya. Irene juga masih mengenakan topengnya.


Lelaki yang baru saja menyelamatkan Irene adalah Alan yang memilih bergerak sendirian. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa melihat secara langsung pimpinan dari hacker Cookie yang benar-benar seorang wanita.


Saat pertama kali menjalin kerjasama dengan kelompok hacker itu, awalnya ia ragu karena nama timnya terdengar lucu, tidak seseram kelompok hacker lainnya. Ternyata, kemampuan Cookie cukup bisa diandalkan untuk melindungi keberadaan organisasi milik Alan.


Keduanya saling tak mengenali satu sama lain. Mereka bertatapan untuk beberapa saat.


"Terima kasih atas bantuanmu," ucap Irene.


Lelaki itu terdengar tertawa kecil. "Kenapa kamu harus berterima kasih? Aku melakukan ini untuk kepentinganku sendiri."


Barulah Irene menyadari jika lelaki itu bukan bagian dari kelompoknya. "Siapa kamu?" tanyanya.


"Salah satu pelangganmu," jawab Alan. "Aku tahu kamu dalam kesulitan, makanya aku datang. Lain kali berhati-hatilah. Jangan khawatirkan anak buahmu yang lain. Aku telah mengirimkan bantuan untuk mereka. Big-O memang cukup sulit diatasi."


Keduanya tak ingin saling membuka identitas. Kerjasama mereka juga didasarkan pada kerahasiaan yang tinggi. Mereka sama-sama mengerti etika bisnis di dunia bawah tanah seperti itu.


"Tanganmu harus segera diobati. Apa aku merekomendasikan rumah sakit yang bagus untukmu?" tanya Alan.


Irene teringat kembali pada lukanya. Padahal, tadi ia sempat tak merasakan lagi sakit akibat peluru yang masih bersarang di lengannya.


"Kamu tidak perlu melakukannya. Aku bisa mengatasinya sendiri," tolak Irene.


"Baiklah, aku rasa pertemuan kita cukup sampai di sini," ucap Alan.


"Sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu. Lain kali aku akan membalasnya. Jika butuh bantuan, jangan sungkan datang ke markasku. Kamu bisa menghubungi lewat Ron atau Doni."


Sekali lagi lelaki itu terdengar tertawa dari balik masker wajahnya. "Aku harap tidak akan pernah melakukannya. Cukup kamu berhati-hati dan jangan sampai membuat organisasiku turut terancam," ujarnya.

__ADS_1


Lelaki itu lantas menaiki motornya dan pergi meninggalkan Irene.


Irene terlihat cukup kesal dengannya. Ia menilai lelaki itu terlalu sombong untuk meremehkannya.


Irene menelepon salah seorang anak buahnya. Tak berselang lama, sebuah mobil tiba dan membawa Irene ke sebuah klinik rahasia yang bekerjasama dengan kelompok hackernya.


"Ini akan tetap menyakitkan. Kamu harus menahannya," ucap seorang dokter laki-laki yang akan menangani Irene.


Irene diminta merebahkan diri di atas ranjang. Mereka akan melakukan operasi sederhana pengangkatan peluru dari dalam lengan Irene.


Klinik tersebut memiliki keterbatasan peralatan. Untuk kondisi darurat, terpaksa mereka melakukan operasi dengan peralatan sederhana.


Seperti saat ini, Irene hanya disuntikkan obat penghilang rasa sakit sebelum dilakukan pembedahan pada lengannya. Irene tidak sampai dibius total. Ia masih tersadar dan menahan kesakitan selama proses pengangkatan peluru itu.


"Ah!" teriak Irene saat ia tak kuat lagi menahan rasa sakit. Setelah sepuluh menit, akhirnya peluru bisa dikeluarkan dari lengannya.


Penderitaan Irene tak sampai di sana. Ia harus meringis kesakitan saat lukanya mendapat jahitan. Ketingat bercucuran serta tubuhnya terasa lemas.


"Sayang sekali, kamu perempuan tapi harus punya bekas luka seperti ini," gumam sang dokter sembari membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di peralatan medisnya.


"Aku bisa menghilangkannya dengan operasi nanti," jawab Irene dengan entengnya.


"Kenapa kamu tidak menyerahkan saja urusan seperti ini kepada anak buahmu yang lain? Ini terlalu membahayakan."


"Aku tahu batasanku sendiri, Andreas. Kamu jangan terlalu cerewet. Lakukan saja tugasmu sendiri," omel Irene.


Sang dokter sedikit kesal. Ia berniat memberi perhatian pada Irene namun tidak dianggap. "Terserah padamu saja! Toh kamu yang merasakan sakit. Lain kali kalau seperti ini lagi, aku tidak akan memberikan suntikan bius untukmu. Biar saja kamu lebih menikmati rasa sakitnya," ancam sang dokter.


"Oh, itu namany terlalu kejam, Andreas. Jangan galak-galak padaku, nanti aku jadi takut," canda Irene. "Aku pergi sekarang, ya!" ucapnya.


Irene langsung bisa kembali berdiri tegak padahal baru saja mendapatkan operasi.


"Istirahat dulu beberapa hari sampai lukamu membaik," nasihat Andreas.


"Aku akan istirahat di rumah saja. Kalau di sini, aku tidak tahan dengan bau obat," kilahnya.

__ADS_1


"Jangan gunakan tangan kananmu untuk aktivitas yang berat dulu!"


"Iya, iya .... Kamu bawel sekali!" gerutu Irene seraya keluar dari ruangan milik Andreas.


__ADS_2