
"Ron, persiapan fan meeting sudah selesai, kan?" tanya Irene saat ia berkunjung ke markas tempat mereka biasa bertemu.
"Sudah, Nona. Tempatnya sudah saya sediakan, undangan sudah saya sebarkan dan hadiah untuk para undangan. Juga sudah saya siapkan. Anda butuh apa lagi?" tanya Ron.
"Aku tidak butuh apa-apa. Kondisi kita aman, kan?" tanya Irene memastikan. Sebelumnya mereka sempat berhadapan dengan Big-O dan Irene khawatir hal buruk akan kembali terjadi.
"Tidak ada, Nona. Semua aman terkendali."
Irene membuka-buka berkas laporan yang menumpuk di meja. Isinya tentang perjanjian kerjasama dengan berbagai pihak yang dilakukan secara virtual, tanpa pertemuan fisik. Ia memang membuka jasa peretasan atau perlindungan data bagi perusahaan yang menginginkannya.
"Oh, iya. Kenapa Nona tumben tidak menyamar seperti biasanya? Apa Anda sedang libur?" tanya Ron.
"Ah, itu. Sebenarnya aku sudah memberitahu orang rumah," kata Irene.
"Jadi, mereka sudah tahu tentang Nona?" tanya Ron ingin tahu.
Irene mengangguk.
"Lalu, bagaimana respon mereka terhadap Anda?" tanya Ron.
"Aku dimarahi, Ron ... Jangan ungkit hal ini dulu aku sedang malas membahasnya," kata Irene dengan nada lemas. Ia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Alan. Setelah membuka penyamaran, ia seakan harus memulai semuanya dari awal untuk mendapatkan hati Alan.
Drrtt ... Drrtt ...
Saat Irene tengah bad mood, ponselnya bergetar. Ia langsung mendapatkan kembali semangatnya saat melihat nama Hamish tampil pada layar ponselnya.
"Halo, Kak! Kakak ada dimana?" tanya Irene dengan semangat. Sudah lama ia tak bertemu dengan sepupunya. Hamish juga tak pernah menghubunginya sama sekali.
"Aku ada di Kota S sekarang. Kamu dimana biar aku jemput."
"Em, tidak usah! Biar aku yang menemui Kakak saja. Apa Kakak ada di apartemen?" tanya Irene.
"Baiklah, datang ke sini sekarang. Aku akan menunggumu."
Irene lantas menutup teleponnya. Ia tidak menyangkan jika Hamish telah kembali ke tanah air.
"Tuan Hamish telah kembali, Nona?" tanya Ron.
"Iya. Sekarang aku akan menemuinya," kata Irene seraya meraih tas yang tergantung di dinding ruang tamu itu.
"Nona, sebaiknya Anda tidak pergi," nasihat Ron menghentikan langkah kaki Irene.
"Memangnya kenapa?" tanya Irene heran.
__ADS_1
"Nona seharusnya tidak lupa dengan pesan Tuan Besar. Kenapa Anda masih saja menemui Tuan Hamish?" tanya Ron dengan raut wajah khawatir.
Irene tersenyum. "Kamu dan Kakek sama saja punya kekhawatiran yang berlebihan. Buktinya sampai sekarang aku masih baik-baik saja. Kak Hamish itu baik, tidak seperti yang kamu bayangkan," kilah Irene.
"Tapi ...."
"Kalau masalah pernikahan, aku yakin Kak Hamish akan mengerti jika aku sudah memiliki seseorang yang aku sukai."
Ron tak lagi bisa menghalangi Nona-nya.
Irene mengenakan topi dan maskernya. Ia menghentikan sebuah taksi dan menaikinya.
"Ke ke apartemen XXX, Pak!" pinta Irene.
Setelah menempuh 30 menit perjalanan dari tempat sebelumnya, Irene akhirnya sampai di sebuah gedung apartemen megah yang salah satu unitnya merupakan milik Hamish.
Irene kembali mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Hamish. "Kak, aku sudah sampai," ucapnya.
"Datang ke lobi dan katakan kamu ingin menemuiku. Nanti ada staf yang akan mengantarmu ke atas."
Irene menutup teleponnya. Ia mengikuti arahan dari Hamish dan mendekat ke arah resepsionis. Mereka menyambutnya dengan ramah. Salah satu staf mempersilakan Irene mengikutinya untuk naik melalui lift khusus VIP.
Memang akses apartemen di sana cukup ketat. Kalau bukan penghuni atau pemegang kartu tidak bisa masuk dengan sembarangan.
"Terima kasih," ucap Irene.
Ia melihat nomor unit 3231 milik Hamish berada tepat di depannya. Ini kedua kalinya ia datang ke sana.
Ting Tong!
Irene menekan bel yang terdapat di pintu. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka sedikit namun tak ada yang menyambutnya. Irene mendorong pintu itu lebih lebar. Ruangan apartemen itu terlihat gelap saat ia masuk.
"Kak ... Kak Hamish ...," panggil Irene seraya melangkahkan kaki ke dalam dengan raut wajah yang bingung.
"Katanya Kak Hamish ada di sini, kan? Apa aku salah kamar?" gumamnya.
Klak! Klak! Klak!
Tiba-tiba semua lampu di ruangan itu menyala dengan terang. Irene sampai merasa silau. Saat ia membuka mata kembali, Hamish sudah ada di hadapannya dengan membawa sebuah kue ulang tahun untuknya.
"Selamat Ulang tahun," ucap Hamish dengan senyuman manisnya.
Irene merasa terharu mendapatkan kejutan dari Hamish.
__ADS_1
"Ayo, tiup lilinnya," pinta Hamish.
Irene berjalan mendekat. Ia memperhatikan bentuk kue lucu yang Hamish bawakan untuknya. Kue simpel berbentuk wajah Rapunzel yang merupakan kartun kesukaannya dulu.
Irene menangkupkan kedua tangan seraya memejamkan mata dan memanjatkan doa. Usai berdoa, ia meniup lilin yang menyala di atas kue itu.
Hamish metakkan kuenya di atas meja setelah Irene tiup lilinnya. Keduanya berpelukan dengan hangat melepas kerinduan satu sama lain setelah lama tidak bertemu.
"Terima kasih ya, Kak," ucap Irene.
Hamish mencium pipi Irene. Ia sangat merindukan wanita itu setelah sekian lama menyelesaikan urusannya di luar negeri.
"Waktu berlalu begitu cepat sampai aku tidak sabar kamu sudah sebesar ini, Ren," guman Hamish.
"Tapi, di mata Kakak aku pasti selalu terlihat seperti anak-anak, kan?" tanya Irene seraya melepaskan pelukan mereka.
"Hahaha ...." Hamish tertawa lebar. Ia melepaskan topi yang menutupi kepala Irene. Dipandanginya wajah gadis manis nan polos yang selalu ingin ia lindungi. Sekarang, gadis itu telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang mandiri dan bisa diandalkan.
"Ikut denganku. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu," kata Hamish.
Lelaki itu menuntun Irene agar mengikutinya. Ia menyuruh Irene duduk di sofa ruang tengah.
Irene mengarahkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Ada bodyguard Hamish yang bertubuh kekar berjaga di sana dalam diam.
Hamish mengambil sebuah kotak hadiah dari atas meja. Ia membukanya dan sebuah cincin berlian yang berkilau terdapat di dalamnya.
"Kemarikan jarimu, biar aku kenakan cincin ini," pinta Hamish.
Irene menuruti kemauan Hamish. Lelaki itu mengerutkan dahi saat melihat jemarinya.
"Kenapa, Kak?" tanya Irene.
"Ini cincin apa?" tanya Hamish.
Irene sampai lupa kalau dia masih memakai cincin pertunangan yang Alan berikan di jari manisnya.
"Ah, ini cincin ...."
"Ya sudah, aku sematkan di hari tengah saja supaya jariku lebih terlihat manis. Hamish lebih dulu berbicara sebelum Irene menyelesaikan kata-katanya.
Hamish menyematkan cincin itu di jari tengah Irene. Setelah cincin itu tersemat, Hamish kembali menciumi wajah Irene dan memeluknya dengan lembut.
"Terima kasih atas kejutannya, Kak," kata Irene sembari tersenyum lebar.
__ADS_1