
"Kak ...."
Irene menghampiri Arvy yang baru pulang ke rumah. Arvy merebahkan dirinya di sofa ruang tengah. Lelaki itu tampak kelelahan.
"Masalahmu sepertinya semakin meluas. Bian jadi mengkhawatirkanmu," kata Irene.
"Kalian tidak perlu khawatir, biar aku memikirkan penyelesaiannya sendiri."
"Bian bilang dia siap membantu kalau kamu membutuhkannya untuk ikut klarifikasi. Katanya kamu tidak membalas pesannya."
"Nanti aku akan menghubunginya sendiri." Arvy mengusap wajahnya. Ia sangat lelah dengan masalah yang dihadapinya kali ini.
Irene merasa saat ini Arvy sedang tidak ingin diganggu. "Kalau begitu, aku pergi keluar sebentar ya, Kak. Lagi pengin makan odeng yang ada di depan kantor Kak Alan," pamit Irene.
"Ya, pergilah! Hati-hati di jalan." Arvy terlihat kurang peduli.
Irene memutuskan untuk pergi dan tidak mau ikut campur dulu tanpa Arvy minta. Ia bergegas menaiki taksi menuju kedai penjual odeng langganannya. Ketika ia punya waktu senggang dan menginginkan sesuatu, maka ia akan melakukan hal yang dimau.
"Pak, saya mau semangkok ramen dan odeng," ucap Irene saat sampai di sana.
"Saya juga sama."
Irene terkejut mendengar suara lelaki yang baru datang dan duduk di sampingnya. "Loh, Kak Alan?"
"Kamu ke sini sendiri?" tanya Alan.
Irene mengangguk. "Kakak kenapa makan di sini? Nggak malu ketahuan karyawan lain kalau melihat bosnya makan di pinggir jalan seperti ini? Karyawan Kakak bahkan kalau istirahat makannya di restoran?" tanyanya heran.
Alan tertawa kecil. "Biar mereka tahu kalau atasannya sedang berhemat."
"Kakak tidak ajak Pak Miko makan sekalian di sini?" tanya Irene.
"Seperti yang kamu bilang, selera karyawanku itu makan di restoran, bukan di pinggir jalan seperti ini," jawab Alan.
Sebenarnya pertemuan mereka bukan suatu kebetulan. Alan melihat Irene berada di sekitar kantor. Seperti perkiraannya, wanita itu mampir ke warung makanan jepang yang ada di dekat kantornya.
__ADS_1
Awalnya ia ingin makan siang di restoran bersama Miko dan beberapa karyawan lain. Namun, ketika melihat Irene, ia menyuruh Miko pergi sendiri tanpa dirinya. Ia lebih memilih makan bersama Irene.
"Ini pesanannya."
Seorang pelayan datang mengantarkan makanan mereka. Keduanya sama-sama menyantap hidangan itu dengan senang.
"Kamu sudah tahu kabar terbaru tentang Arvy?" tanya Alan.
Irene mengangguk. "Tadi aku sempat bertemu Kak Arvy. Dia baru pulang ke rumah. Sepertinya dia agak kelelahan menghadapi berita itu sendiri," katanya.
"Hah, anak itu memang keras kepala. Kakek juga sudah mengingatkan agar ia berhenti menjadi artis. Dia anak yang paling susah diatur."
"Lalu Kakak akan melakukan apa untuk Kak Arvy?" tanya Irene.
"Melakukan apa? Dia tidak meminta bantuan kepada yang lain. Artinya, dia tidak menyelesaikannya sendiri."
Irene terdiam. Ia kurang sependapat dengan Alan. Menurutnya, Arvy tidak meminta bantuan karena gengsi dan tidak mau merepotkan orang lain. Ia tetap akan mencari cara untuk membantu Arvy.
Alan membayar makanan yang telah mereka makan. Irene bahagia karena hari ini tidak perlu keluar uang untuk makan. Mereka berjalan-jalan di seputaran area taman untuk melancarkan pencernaan setelah makan.
Ia menghampiri seorang ibu-ibu yang tengah berjualan bunga di sana. "Tolong, berikan semua bunga itu untukku," kata Alan.
Ibu penjual bunga itu tampak bingung dan terkejut. Sejak tadi dagangannya sama sekali belum ada yang membeli. "Bapak serius mau membeli semuanya?" tanyanya.
"Iya, tolong gabungan semuanya menjadi satu buket bunga," pinta Alan.
Ibu penjual bunga itu sangat senang. Ia langsung mengumpulkan mawar-mawar merah miliknya memjadi satu buket yang cukup besar. Ia hias dengan kertas buket dan pita.
Alan memberikan beberapa lembar uang untuk membayar buket bunga tersebut. Ia menyunggingkan senyum. Ia ingin memberikannya pada Irene sebagai ungkapan perasaannya.
"Terima kasih, Kak." Irene menerima buket bunga yang Alan berikan padanya. Harum bunganya wangi semerbak.
"Apa kamu menyukaiku?"
"Hah, apa?" Irene merasa salah dengar tentang pertanyaan Alan.
__ADS_1
"Apa kamu menyukai bunganya?" tanya Alan merevisi pertanyaan sebelumnya.
Irene jadi malu. Ia kira Alan bertanya apa dia menyukai lelaki itu atau tidak. "Tentu saja. Siapa yang tidak menyukai bunga sewangi ini? Tapi, Kakak seharusnya tidak perlu membeli sebanyak ini," kata Irene.
"Aku kasihan dengan ibu itu. Sepertinya dagangannya belum laku satupun. Makanya aku borong semuanya," kata Alan.
Irene kira Alan sengaja membeli bunga-bunga itu untuknya. Ternyata lelaki itu membelinya karena kasihan pada sang penjual bunga.
"Kalau begitu, ayo aku antar kamu pulang," kata Alan.
"Em, memangnya Kakan tidak ada kerjaan lagi?" tanya Irene.
"Itu bisa diatur. Ada Miko yang akan mengatasinya. Sekarang, aku akan mengantarmu dulu," kata Alan.
Irene mengikuti Alan berjalan menuju tempat parkiran perusahaan. Ia benar-benar akan diantar pulang.
Setibanya di rumah, ada Ares yang tengah dudum di ruang tamu. Ia seperti keheranan melihat Irene membawa buket bunga cukup besar.
"Arvy mana?" tanya Alan.
"Dia sudah pergi lagi. Katanya mau kembali ke kantor," kata Ares. Ia sampai lupa ingin menanyakan tentang buket bunga itu.
"Ren, jangan lupa janjimu yang waktu itu!" kata Arvy mengingatkan.
"Iya, iya ...," kata Irene.
Alan duduk di ruang tamu bersama Ares sementara Irene segera menuju kamarnya. Ia memindahkan bunga dari Alan ke dalam vas bunga di kamarnya. Ia mencium bunga itu dengan perasaan bahagia.
Irene mengambil ponselnya. "Passwornya apa, ya?" gumamnya.
Irene berusaha membuka kembali akun game lamanya. Beberapa kali ia mencoba memasukkan alamat email dan password, akhirnya berhasil. Ia mengembangkan senyum bisa masuk kembali ke akun lama yang levelnya telah maksimal.
Ia membuka-buka sebentar, mengecek hero-hero yang dimilikinya. Seakan ia terbawa dengan masa nostalgia saat berkuliah. Irene kembali menutup aplikasi game setelah berhasil masuk ke akun lama.
***
__ADS_1