Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 285


__ADS_3

Dapur dipenuhi dengan aroma harum pancake yang sedang dipanggang di atas kompor. Adila, dengan wajah yang ketus, melihat dengan ketidakpuasan hasil pancake yang dihasilkan oleh Arvy. Dia melangkah maju, menatap Arvy dengan tatapan tajam.


Adila mengernyitkan alis. "Arvy, ini bukan cara membuat pancake yang benar! Sudah berapa kali aku memberitahumu, tapi kamu tetap saja tidak memahaminya!" protesnya.


Arvy mencoba tetap tenang. "Sayang, aku sedang mencoba yang terbaik. Kamu kan tahu kalau aku bukan koki." Ia terus fokus pada adonan yang tengah dimasaknya.


Seumur hidup, Arvy hampir tidak pernah memasak di dapur. Ia sama sekali tak ada bakat memasak. Satu-satunya yang bisa ia buat adalah mie instan. Hanya demi Adila yang katanya sangat menginginkan pancake yang dilihat di majalah, Arvy bersusah payah untuk membuatkan kue itu untuk wanitanya.


Adila menggeleng kesal. "Itu bukan alasan, Arvy! Pancake ini tidak bisa dimakan! Rasanya tidak enak, teksturnya terlalu kering. Kamu selalu saja membuat kesalahan dalam segala hal!"


Arvy mulai kehilangan kesabaran. "Adila, aku sudah mencoba. Kenapa kamu tidak menghargai usahaku? Aku bukan seorang koki profesional dan tidak pernah mengklaim diriku demikian."


Adila mengangkat suara. "Aku capek dengan alasanmu! Kamu bisa belajar, kan? Kamu bisa mencoba lebih keras untuk melakukan hal-hal yang sederhana ini dengan baik!"


Adila terlalu enteng untuk mengucapkan kata-katannya. Arvy sangat tersinggung mendengar hal itu. Ia selama ini sudah berusaha bersabar menghadapi sifat Adila yang menjengkelkan.


Arvy mulai marah. "Jangan salahkan aku atas ketidakpuasanmu! Aku berusaha, tapi kamu selalu menuntut lebih dan lebih. Bukankah cinta itu tentang menerima kekurangan dan kelebihan pasangan kita?" katanya dengan nada meninggi.


Adila menggertakkan gigi. "Ini kan masalah sepele, katanya mau menyenangkan aku. Begini saja sudah protes terus!"

__ADS_1


"Hei!" teriak Arvy. "Jadi kamu meremehkanku begitu saja, Adila? Kamu pikir hidup ini hanya tentang memasak dan siapa yang lebih baik di dapur? Aku tidak bisa terus hidup dengan ekspektasi yang tidak realistis seperti ini!"


Arvy melepas celemeknya dengan kasar lalu membuangnya ke sembarang arah. Ia matikan kompor dan tidak ingin lagi melanjutkan apa yang sejak tadi ia kerjakan.


Adila menatap Arvy dengan sinis. "Kamu mempertanyakan ekspektasiku? Mungkin memang kita tidak sejalan dalam hal ini!"


Wanita itu tampak tidak mau mengalah. Bahkan ketika melihat kemarahan Arvy tak membuat Adila gentar. Padahal, Arvy tidak pernah sekalipun marah kepada Adila.


Arvy menghela napas dalam-dalam. "Aku rasa semua yang telah aku lakukan selama ini tidak ada artinya bagimu sama sekali."


Ada banyak hal yang telah Arvy lakukan untuk Adila. Ia seperti sudah cinta mati kepada wanita itu. Selama Adila menghilang, Arvy menjadi orang yang paling khawatir dan sibuk untuk menemukan keberadaan Adila. Waktu dan tenaga sudah ia korbankan demi kekasihnya. Bahkan karir yang tengah melejit tidak begitu ia pedulikan.


Setelah Adila ditemukan, sikapnya berubah drastis. Arvy masih bersabar menerima sikap Adila yang tiba-tiba menjadi membencinya. Ia berusaha melakukan apapun agar bisa diterima oleh Adila. Bahkan harga dirinya terkesan diinjak-injak.


Namun, segala yang telah dilakukan sama sekali tidak membuat Adila tergerak hatinya untuk menerima dirinya. Bahkan hanya karena pancake mereka bisa bertengkar seperti sekarang.


"Kenapa? Kamu ingin hitung-hitungan denganku? Memangnya kapan aku menyuruhmu untuk melakukan apa yang aku mau? Bukankah kamu sendiri yang menginginkannya?" sindir Adila dengan tatapan sinis.


Pertengkaran mereka mencuri perhatian beberapa pelayan yang ada di sana. Mereka tidak berani mendekat dan hanya bisa melihat dari kejauhan.

__ADS_1


"Kamu mempertaruhkan hubungan kita hanya karena hal ini?" tanya Arvy. Ia melirik ke sekeliling dan merasa agak malu pertengkaran merema dilihat orang lain.


"Ya, kalau memang kamu mau menyerah silakan saja. Putus juga tidak masalah," kata Adila dengan entengnya.


Arvy menggigit bibir. Ia tidak menyangka masalah pancake bisa berujung pertengkaran. Ia mengambil pancake buatannya dan memakannya dengan perasan kesal.


"Aku rasa pancake ini tidak seburuk itu," katanya setelah mencicipi hasil masakannya sendiri.


"Itu kan menurutmu. Seleramu rendah! Itu pancake paling tidak enak yang pernah aku makan!" timpal Adila.


Pertengkaran mereka semakin memanas. Kata-kata penuh amarah terus dilontarkan, saling memukul perasaan dan ego mereka. Tidak ada yang ingin mundur, tidak ada yang mau mencari jalan tengah. Mereka mengunci pandangan mereka satu sama lain, merasa terpinggirkan dan tidak dihargai.


Tidak ada tanda-tanda perdamaian dalam situasi ini. Pertengkaran itu semakin menjauhkan mereka satu sama lain, membuat celah semakin dalam di antara hubungan mereka yang dulu harmonis. Mereka terjebak dalam sikap keras kepala, tidak ada yang mau memberikan pengertian atau mengalah. Ketegangan di dapur semakin memuncak, mencerminkan ketidaksepahaman yang tak terpecahkan di antara mereka.


Arvy terlihat sangat kecewa. "Ya, terserah kamu saja. Selera kita mungkin memang berbeda," katanya pasrah.


"Syukurlah kalau kamu sadar!" kata Adila.


Arvy kembali menghela napas panjang. "Kita sudahi saja hubungan kita, Adila. Aku sudah tidak sanggup lagi," katanya dengan tatapan mata sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Bagus! Jangan pernah temui aku lagi!" tegas Adila.


Arvy hanya memasang senyuman kecewa. Ia meraih jaket yang ada di atas meja lalu bergegas melangkah pergi meninggalkan Adila.


__ADS_2