Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 300


__ADS_3

Obrolan di ruang tengah masih berlanjut. Ares mulai merasa bosan berada di sana. Apalagi hal yang dibahas masih seputar bisnis.


"Aku mau ke dapur dulu, ya!" pamit Ares mencari alasan.


Ia bangkit dari tempatnya menuju ke arah dapur. Diambilnya sebotol minuman dingin dan meneguknya.


Percakapan dari arah ruang tengah masih bisa ua dengar. Ia berjalan mendekat ke arah taman samping. Di sana hanya ada Erika yang tengah main ayunan. Ares jadi penasaran dimana Irene berada.


Ares memutuskan naik lift menuju ke lantai tiga dimana terdapat kamarnya. Ia akan mengambil beberapa barang di kamar untuk dibawa ke apartemen tempat tinggalnya sekarang.


"Siapa itu?" gumamnya.


Ares melihat seseorang yang tengah berada di area balkon. Ia tak jadi masuk kamar dan mendekat ke arah sana. Ternyata Irene yang tengah berdiri di balkon lantai tiga tempat dulu sering menjadi tempat favorit mereka. Ada sedikit keraguan saat ia ingin mendekat. Namun, ia tepis keraguan dengan maju menghampiri wanita itu.


"Ren," sapanya.


"Eh, Ares. Di bawah masih pada ngobrol, ya?" tanya Irene.


Sejak tadi ia sengaja menyendiri untuk memberi waktu kepada suaminya yang butuh berbicara dengan keluarga. Ia juga sempat berbicara dengan Erika di taman belakang dan akhirnya pindah ke lantai atas.


"Iya. Kak Alan masih ada di bawah," jawab Ares.


Ia berdiri di belakang pagar besi pembatas balkon tepat di samping Irene. Bisa ia rasakan aroma parfum familiar yang biasa wanita itu kenakan.


Entah mengapa desiran di hatinya membali bangkit. Ia tak bisa menepis perasaannya sekalipun wanita di sampingnya kini telah menikah dan menjadi istri kakaknya sendiri.


"Bagaimana kuliahmu?" tanya Irene.


Di telinga Ares, nada bicara Irene kini lebih dewasa dan terdengar serius. Berbeda dengan Irene dulu yang menjadi teman bercandanya. Irene yang berani mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan meskipun seringkali membuat mereka bertengkar.


"Semuanya berjalan lancar. Sebentar lagi aku mau sidang," jawabnya.


Irene tersenyum. "Selamat, ya! Sebentar lagi kamu jadi sarjana. Mau langsung lanjut S2?"


"Entahlah. Papa akan menempatkanku di perusahaan. Setelah aku lulus, pasti akan sangat sibuk."

__ADS_1


Ares memandangi wajah Irene yang tengah fokus melihat ke arah langit. Rasa kekaguman itu belum juga pudar bahkan semakin kuat dan seakan ingin menjadikannya serakah.


Saat Irene kembali menoleh ke arahnya, buru-buru Ares mengalihkan pandangan agar tidak ketahuan kalau ia sedang memandangi wanita itu.


"Ada banyak program perkuliahan jarak jauh. Kamu tidak perlu repot-repot datang ke kampus. Kuliah online saja," usul Irene.


Ares membalas tatapan Irene. "Sayangnya tidak akan ada lagi yang akan membantuku mengerjakan tugas seperti dulu," katanya dengan ekspresi wajah datar.


Ucapan Ares membuat Irene tertawa kecil. "Kenapa? Kamu kurang percaya diri dengan kemampuanmu? Sekarang mau mengakui keunggulanku, ya? Hahaha ...."


Irene tiba-tiba teringat momen-momen kebersamaan mereka dulu. Keduanya sering bertengkar bahkan untuk hal sepele sekalipun.


"Kamu memang luar biasa, Irene. Aku kalah dalam segala hal darimu," aku Ares.


Mendengar hal itu, tawa Irene berubah menjadi senyuman yang kikuk. Tidak biasanya Ares mau mengalah kepadanya. Arez tipe orang yang sangat suka berkompetisi.


"Aku tidak salah dengar, seorang Ares mengaku kalah dariku?" tanya Irene memastikan.


Ares tersenyum getir. "Kamu menikah dengan Kak Alan saja sudah membuatku kalah," ucapnya.


"Kamu tidak mau melanjutkan kuliahmu?" tanya Ares.


Irene menundukkan kepala melihat ke arah bawah. Di sana ia melihat Erika dan Alex yang tampak berjalan menuju ke arah gerbang depan.


"Sebenarnya aku kuliah di sana hanya untuk mengisi waktu luang, Res," kata Irene.


"Ah. Iya. Aku lupa kalau kamu sudah pernah lulus kuliah bahkan di dua jurusan. Irene memang luar biasa," kata Ares.


"Kamu juga luar biasa menurutku, Res," kata Irene.


Keduanya kembali bertatapan.


"Benarkah?" tanya Ares.


Irene mengangguk. "Kamu juga punya banyak kelebihan. Selain jadi primadona kampus, hobi basket, jago main game, dan yang lebih utama ... Kamu seorang teman yang sangat menyenangkan," katanya.

__ADS_1


"Apa aku semenyenangkan itu?" tanya Ares.


Ada rasa kekecewaan mendengar Irene hanya mengakuinya sebagai sebatas teman. Ia masih heran kenapa harus kakaknya yang berhasil mendapatkan hati Irene. Ia merasa dirinya tak kalah dengan Alan dalam berbagai hal.


Tampan, cerdas, kharismatik, dan banyak bakat. Hanya perbedaan dalam hal usia dan kemapanan saja. Ia memang belum sehebat kakaknya. Namun, rasa cintanya kepada Irene tak bisa diragukan. Mau Irene versi cantik maupun jelek, ia bisa menerima keduanya.


Irene kembali mengangguk. "Terima kasih untuk semua keseruan yang pernah kita lakukan dulu. Aku tidak akan melupakan bahwa kamu merupakan teman terbaikku," ucapnya.


Ares tak tahan lagi dengan perasaannya. Apalagi menatap kedua mata bening wanita itu membuatnya tak bisa mengendalikan perasaan. Secara reflek ia meraih tangan Irene dan menariknya ke dalam pelukan.


Irene melebarkan mata karena terkejut. Ares tiba-tiba saja memeluknya.


"Ares," panggil Irene.


"Sebentar saja," kata Ares. Kedua tangannya merengkuh tubuh Irene dan memeluknya begitu erat. Rasanya ia tak rela melepaskan Irene dari pelukannya.


Irene hanya bisa berdiri kaku ketika Ares memeluknya. "Res, lepaskan aku," pintanya dengan nada lembut.


"Ren, berat sekali rasanya. Aku tidak sanggup," aku Ares.


Ingin rasanya ia menangis meluapkan rasa kecewanya. Ketika ia benar-benar jatuh cinta kepada seorang wanita, ternyata wanita itu malah menjadi kakak iparnya.


"Kamu jangan begini. Kalau ada orang yang melihat, nanti akan salah paham," tegur Irene. Ia berusaha mendorong tubuh Ares, namun lelaki itu memeluknya dengan erat.


Ares melepaskan pelukannya. Ia meraih kedua tangan Irene dan menggenggamnya. Tatapan matanya terlihat sendu memperlihatkan kesungguhannya.


"Iren, aku tidak bisa menepis perasaanku sendiri meskipun kamu sudah menikah dengan kakakku," kata Ares.


Irene menjadi semakin bingung. "Res, dulu hubungan kita sangat baik seru dan menyenangkan. Kamu bicara begini membuat aku tidak bisa lagi bersikap biasa padamu."


"Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku sangat mencintaimu, Ren. Selama kamu pergi, aku merindukanmu sampai tidak bisa fokus mengerjakan tugas akhirku," ucap Ares. "Apa yang harus aku lakukan dengan hatiku yang selalu gelisah dan tersiksa karena memikirkanmu?"


Irene melepaskan tangan Ares darinya. "Ini semakin membuatku tidak ingin menemuimu lagi, Res. Aku juga tidak nyaman kalau kamu seperti ini," protes Irene.


Ia seakan syok dengan pengakuan Ares. Ia kira perasaan yang Ares miliki hanya sebatas keisengan atau perasaan sesaat saja. Ternyata Ares begitu kuat memiliki rasa cinta kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2