
Tepat di hari kesepuluh setelah Imlek, acara pertunangan antara Alan dan Irene benar-benar dilaksanakan. Acara tersebut hanya dihadiri oleh keluarga dekat dengan suasana kekeluargaan.
Kakek dan nenek Irene terharu saat melihat prosesi penyematan cincin pertunangan oleh kedua cucu mereka.
"Alan, kami titipkan Irene kepadamu. Tolong jaga dia, bahagiakan dia. Jangan buat Irene menangis. Kami percaya padamu," ucap Nenek.
Mata Irene berkaca-kaca. Ia sangat terharu dengan apa yang neneknya sampaikan kepada Alan. Irene memeluk neneknya sembari menitihkan air mata bahagia.
"Irene, ini hadiah nenek untukmu. Simpan ini baik-baik." Nenek menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna merah kepada Irene.
"Tidak perlu ada yang Nenek dan Kakek khawatirkan. Aku akan menjaga Irene dengan sepenuh hati. Aku sangat menyayanginya," ucap Alan. Perkataannya sungguh mengandung ketulusan yang mampu dirasakan oleh mereka.
Irene masih berusaha mengusap air matanya yang menetes. Ia benar-benar tak ingin menangis, namun air matanya tetap mengalir.
Alan merangkul pinggang Irene. Ia mengembangkan senyuman untuk menghibur Irene agar wanita itu tak perlu menangis lagi.
"Ren, ini hadiah untukmu, selamat, ya!" Ares memberikan sebuah paperbag kepada Irene. Entah apa yang lelaki itu berikan kepada Irene di hari pertunangannya.
Irene tersenyum. "Terima kasih, ya," katanya.
Sejenak Ares memperhatikan wajah Irene. Ia tidak menyangka jika wanita itu kelak akan menjadi kakak iparnya.
"Setelah ini kita main game, yuk!" ajak Ares.
Irene tercengang dengan ajakan Ares. Lelaki yang seumuran dengannya itu bisa-bisanya masih memikirkan game di acara seperti itu.
"Heh, kamu tidak melihatku di samping Irene? Masih saja kamu mau main game," protes Alan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, Kak? Harusnya kan Kak Alan senang aku bisa dekat dengan calon istri Kakak," ujar Ares.
"Ck!" Alan hanya bisa berdecak kesal.
"Sudah, Ares. Kita main lain kali saja, ya!" kata Irene. Semenjak Ares tahu ia adalah Xunqi, lelaki itu menjadi semakin akrab padanya dan selalu mengajak main game bersama.
"Baiklah, kapan-kapan saja kita main game bareng. Kayaknya Kak Alan bakalan terus melotot kalau aku tidak segera menyingkir," sindir Ares yang melihat kakaknya terus mengintimidasi dirinya dengan tatapan.
Ares berbalik pergi menuju dapur. Ia mengambil sebotol minuman dingin dari dalam kulkas dan meneguknya.
"Ngobrol apa tadi kamu sama Irene? Kalian main game bareng?" tanya Arvy.
"Iya, Kak. Kita satu tim sekarang," kata Ares.
Arvy mengerutkan dahinya. "Memangnya dia pintar bermain game?" ia terlihat heran.
"Kak Arvy bisa menilainya sendiri kalau sudah melihat kami bermain. Pasti Kak Arvy bakalan kaget," ucap Ares.
"Hati-hati mencucinya, ya! Akan lebih baik kalau dicuci menggunakan tangan secara perlahan, karena hiasannya dikhawatirkan bisa rusak," kata Irene memberi tahu.
"Iya, nanti akan aku cuci dengan hati-hati." Eka melipat rapi gaun yang baru saja Irene kenakan dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam koper.
"Oh, iya. Aku mau berterima kasih sekali lagi padamu, Irene."
"Memangnya kenapa?"
"Desain yang waktu itu kita bicarakan ternyata dilirik oleh dosen. Beliau sangat tertarik pada usahaku dan mau memodali realisasi karyaku nanti."
__ADS_1
"Wah, selamat, ya. Aku turut senang mendengarnya," ucap Irene.
"Kapan-kapan kita ketemu lagi, ya! Aku ingin mengajakmu makan," kata Eka.
Irene mengacungkan jempolnya. Eka pamit pulang setelah selesai mengemasi barang-barangnya.
Irene menghela napas lega. Rasanya masih tidak bisa dipercaya jika kini ia telah bertunangan dengan Alan. Cincin yang tersemat dijarinya menjadi bukti. Ia terus memandanginya sembsri berdiri memandang ke taman samping lewat jendela kaca.
"Kamu sedang memikirkan apa?"
Alan datang begitu tiba-tiba langsung memeluk Irene dari belakang. Karena terkejut, reflek mendorong tubuh Alan agar menjauh darinya.
"Ah! Kak! Maafkan aku! Aku kira siapa." seru Irene setelah menyadari orang yang baru saja ia dorong ternyata adalah Alan.
Alan turut terkejut. Ia kira Irene telah menolak dirinya secara sengaja. "Kamu ... Tidak suka dipeluk?" tanya Alan.
Irene merasa salah tingkah mendapat pertanyaan semacam itu. "Bukan begitu, rasanya memang masih canggung." ia meraba tengkuk lehernya.
Alan menarik tangan Irene. Ia mendudukkan wanita itu di atas ranjang. Keduanya duduk berdampingan dengan mata yang saling bertatapan.
Alan kembali melabuhkan pelukannya. Ia memeluk wanita itu dengan penuh kelembutan. "Jangan menahanku lagi untuk melakukan ini. Aku sudah lama ingin memelukmu," ucapnya.
Irene mematung. Alan seperti seorang lelaki yang tengah kasmaran dan tak mau dilarang.
"Terima kasih sudah bersedia menerima pertunangan kita. Hari ini akan menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Tetaplah menambatkan hatimu padaku hingga nanti kita menikah dan hidup bahagia selamanya.
Alan melepaskan pelukannya. Ia memandangi wajah Irene yang terlihat tersipu malu padanya. Ia mengecup bibir mungil wanita itu dengan lembut.
__ADS_1
"Aku juga boleh kan, menciummu seperti ini?" tanya Alan.
Wajah Irene terlihat semakin memerah.