
Alan membawa Irene ke area depan kantor tempat pedagang kaki lima favorit karyawan mangkal. Ada banyak jenis makanan yang dijual, salah satunya oden yang paling laris. Mendapat kesempatan makan gratis, Irene dengan semangat memakan oden yang dijual di sana. Alan sampai geleng-geleng kepala melihat Irene yang banyak makan seperti biasa.
"Bisa pelan-pelan makannya? Oden masih banyak, kamu tidak akan kehabisan." Alan baru habis satu tusuk oden sementara Irene telah menghabiskan tiga tusuk.
Wanita itu tersenyum lebar. "Ini enak ternyata," katanya.
Alan terhibur dengan tingkah konyol Irene yang sesekali membuatnya terhibur meskipun kadang juga menyebalkan. Irene tipe wanita yang ceria dan bisa menghidupkan suasana. Ketika orang ingin marah, melihat tingkahnya langsung jadi lupa.
Irene memakan dengan lahap sampai sausnya belepotan di sudut bibir. Melihat hal itu, Alan mengambilkan selembat tisu untuk mengelapnya. Sontak Irene memelankan kunyahan makanannya karena malu.
"Sayang, kamu ada di sini?"
Alan menoleh ke arah suara. Ia membuang muka saat tahu siapa yang datang menghampirinya. Sovia. Wanita itu, setelah semalam sudah bertingkah sangat tidak pantas, kini mendatanginya seolah tidak ada masalah apa-apa di antara mereka. Bahkan, ia tetap berpenampilan glamor dengan make up tebal sehingga menarik perhatian orang-orang. Apalagi dia seorang model, pasti akan banyak yang mengenalinya.
Irene melirik tidak suka kepada Sovia. Ia masih heran kepada Alan yang mempertahankan wanita semacam itu. Tak perlu kenal dekat, dari penampilannya saja sudah bisa dinilai Sovia orang seperti apa. Ia bahkan sering melihat wanita itu jalan dengan lelaki yang berbeda. Kalau benar Sovia sangat mencintai Alan, sudah pasti dia tak akan jalan dengan lelaki lain. Alan merupakan sosok lelaki paket lengkap yang tidak mungkin ditolak wanita.
"Kenapa kamu makan di pinggir jalan? Bukankah makanan di sini tidak higienis?" Sovia memeluk lengan Alan dengan santai. Alan sampai tak bisa berkata-kata. Sovia memang tipe wanita yang tidak tahu malu. Sedangkan dirinya, terpaksa diam karena tak ingin terlalu menarik perhatian.
"Sayang, aku minta maaf atas kejadian kemarin, ya ... jangan marah lagi. Bagaimana kalau kita pergi menonton pertunjukan biola? Sepertinya Arvy juga akan datang ke sana," ajak Sovia.
Alan yang tidak sudi mendengarkan permintaan maaf Sovia langsung melepaskan tangan wanita itu dari lengannya. "Ajak saja Ryuki, siapa tahu dia mau." Alan berjalan ke arah penjual odeng, meletakkan beberapa lembar uang.
"Irene, kita lanjutkan makan kapan-kapan lagi, ya! Kita pergi sekarang," ucap Alan kepada Irene.
Irene yang yang masih mengunyah makanannya menunjukkan ekspresi polos seperti orang bodoh karena tidak paham dengan situasi yang terjadi.
"Sayang ... kemarin itu hanya salah paham ... aku janji akan memperbaiki semua." Sovia merajuk agar Alan mau memaafkannya.
__ADS_1
Alan tak menggubris ucapan Sovia. Ia menarik tangan Irene dan mendaratkan ciuman di pipi wanita itu. "Tunggu di sini aku akan mengambil mobilku," ucap Alan.
Irene semakin terbengong dengan apa yang terjadi. Alan tiba-tiba menciumnya di depan umum bahkan ada banyak orang yang melihat mereka di sana. Entah apa yang mereka pikirkan ketika ada seorang lelaki tampan mencium wanita jelek, sementara di sana ada wanita yang sangat cantik.
Sovia merasa sangat kesal sampai tubuhnya sedikit bergetar. Otot-otot di lehernya tercetak jelas menunjukkan amarah yang membara. Ia tidak menyangka Alan bisa mencium wanita kampungan itu tepat di hadapannya. Semua orang yang melihat tersenyum-senyum seakan sedang meledeknya. Sovia, seorang model cantik terkenal dan dikagumi kaum lelaki tidak mungkin kalah hanya karena wanita itu.
"Kamu pasti sedang merasa menang dariku, kan ... hanya karena satu ciuman dari Alan?" Sovia berbicara kepada Irene dengan sikap angkuhnya.
Irene yang merasa tidak salah apa-apa malah jadi sasaran kemarahan Sovia.
"Asal kamu tahu saja, ciuman itu tidak ada artinya sama sekali untuk Alan." Sovia berusaha mengingatkan Irene agar tahu diri dan tidak perlu terlalu tinggi memimpikan sesuatu.
Irene kembali memakan oden dengan santai sembari menatap lawan bicaranya. "Kalau memang tidak berarti apa-apa, kenapa jadi kamu yang kepanasan?" ledeknya.
Sovia melebarkan mata mendengar wanita yang lebih muda darinya bisa berkata begitu tidak sopan kepadanya bahkan berani menantangnya. "Aku hanya sekedar mengingatkan dari pada kamu nanti sakit hati."
"Oh, peduli sekali kamu padaku. Padahal kita tidak ada hubungan apapun. Apa kamu sedang berusaha menjadi seorang kakak yang baik?"
Sovia terkekeh. Irene memang begitu percaya diri setiap berhadapan dengannya. "Mereka berbuat baik hanya karena kasihan padamu. Dan tentunya karena tuntutan dari kakek. Kalau bukan karena alasan itu, kamu hanya wanita biasa. Sampai sekarang juga tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Narendra."
"Memangnya kamu pantas menjadi bagian dari keluarga Narendra?" Irene masih meladeni ucapan Sovia sembari menghabiskan odennya.
"Tentu. Aku sudah lama berpacaran dengan Alan. Hubungan kami sudah sangat jauh dan mendalam, melebihi ekspektasimu." Sovia tak mau kalah. Ia tetap berbicara dengan kesombongannya. "Kami sudah sering tidur bersama layaknya suami istri," lanjutnya.
Irene semakin gregetan mendengar pengakuan menjijikan dari Sovia. Berkali-kali ia mengutuk Alan sebagai orang bodoh yang bisa jatuh cinta pada wanita ular macam Sovia.
Irene tertawa. "Mungkin dia menganggapmu pelacvr sampai ditiduri berkali-kali tanpa dinikahi. Selama ini transferan dari dia lancar, kan? Jangan sampai kami rugi sudah jadi pelacvr tapi tidak dapat bayaran," ejeknya.
__ADS_1
"Kamu!" Sovia hampir melayangkan tamparan ke pipi Irene saking kesalnya. Perkataan Irene sudah sangat keterlaluan sampai mengatainya sebagai wanita murahan. Akan tetapi, tangannya dicekal oleh Alan yang sudah kembali.
"Kita pulang sekarang!" Alan menarik tangan Irene untuk ikut sengannya.
"Alan!" teriak Sovia yang ditinggalkan begitu saja di jalan. Sementara, Alan dan Irene masuk ke dalam mobil.
"Kalian bertengkar tentang apa sampai Sovia kelihatannya sangat kesal?" tanya Alan sembari fokus pada kemudi mobilnya.
"Bukankah kalian yang sebenarnya sedang bertengkar? Aku jadi kena imbasnya gara-gara kamu," timpal Irene.
Alan terdiam. Ia bukan lagi bermusuhan dengan Sovia, tapi ia sudah muak untuk bertemu dengan wanita itu lagi.
"Pasti kesalahannya sangat fatal sampai kamu mengabaikannya dan memilih pergi bersamaku. Ternyata lelaki punya sisi lemah saat kecewa dengan orang yang sangat dicintainya."
"Aku tidak mencintainya!" bantah Alan.
Irene berdecih. "Hahaha ... tidak mau mengaku?"
"Aku memang tidak pernah mencintainya sejak awal. Aku hanya berusaha untuk mencintainya. Sekarang, aku rasa sudah tidak bisa."
Irene berhenti meledek Alan. Sepertinya lelaki itu sedang tidak ingin diajak bercanda.
"Jadi, kamu tidur berkali-kali dengannya tanpa rasa cinta?" celetuk Irene.
"Apa?" Alan sampai kaget dan mengerem mobilnya. Ia menepikan mobil ke pinggir agar tidak menyebabkan kecelakaan.
"Kenapa kaget begitu? Pacarmu sendiri yang cerita tadi dengan bangganya." Irene memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Oh, sh*it! Sovia benar-benar gila." Alan sampai menepuk-nepuk kemudinya saking kesalnya. "Dengar, Irene ... aku tidak pernah sekalipun tidur dengan Sovia." Alan menatap sungguh-sungguh mata Irene. "Aku dan dia sudah putus, kami tidak ada hubungan lagi. Bahkan, semalam aku memergokinya tidur bersama temanku. Kalau bertemu dia lagi, tutup telinga dan anggap dia orang gila!"
Irene senyum-senyum mendengar penjelasan Alan. "Padahal kamu juga tidak perlu menjelaskannya padaku. Kesannya kamu sedang berusaha agar aku tidak cemburu," ledek Irene. Ia memalingkan pandangan ke arah kaca jendela sembari terus senyum-senyum. Padahal, di dalam hatinya ia sangat senang dan merasa lega mendengarnya.