Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 112:


__ADS_3

"Irene ... Tunggu!" seru Ares seraya mengejar wanita itu.


"Aku kayaknya nggak mau bantu kamu lagi!" kesal Irene seraya terus berjalan dengan langkah cepat.


Sebelumnya terjadi pertengkaran antara antara saat belajar di perpustakaan daerah. Bahkan, karena hal itu Irene langsung pulang naik taksi. Ares memaksa ikut naik taksi dan sepanjang jalan Irene tak mau bicara dengannya. Bahkan hingga turun dari taksi, Irene masih kesal.


"Aku kan nggak tahu kalau ada temanku datang!" Ares berusaha membela diri.


"Teman apa pacar? Asyik banget ngobrolnya?" tanya Irene dengan nada ketus.


Saat mereka sedang berada di perpustakaan, ada seorang wanita yang datang. Wanita bernama Meghan itu mengajak Ares bicara berdua. Irene kira hanya sebentar, tapi sampai satu jam obrolan mereka tidak juga berakhir.


Irene bahkan sampai merasa kesal dan memutuskan untuk pergi dari sana. Menyadari Irene pergi, barulah Ares sadar dan mengejarnya.


"Ya Tuhan, aku tidak ada hubungan apa-apa ya, sama dia. Kita hanya teman. Kalau kamu kesal karena masalah ini, orang bisa salah paham kalau kamu sedang cemburu."


"Apa? Cemburu?" Irene terkekeh. "Makan itu cemburu! Kamu kira aku joki suruh menyelesaikan tugasmu? Sialan banget buang-buang waktuku saja! Kalau tidak niat belajar denganku, tidak usah minta dari awal! Aku bisa melakukan banyak hal yang lebih produktif dari pada membuang satu jam untuk menunggumu berbasa-basi dengan TEMAN!" gerutu Irene.


Ares menarik tangan Irene yang hendak kembali menjauh darinya. "Oke, aku minta maaf. Memang aku yang salah."


"Sudahlah! Aku sedang bad mood!" Irene melepaskan tangan Ares darinya.


"Lain kali belajar di rumah saja, lah! Dari pada di luar ketemu orang. Janji nggak akan lagi yang mengganggu kalau kita sedang belajar."


"Aku sudah tidak minat. Minta orang lain saja untuk menemanimu belajar!"


"Ayolah, please ... Aku kan baru satu kali membuatmu marah. Nanti aku belikan apa yang kamu minta." Ares memohon-mohon agar Irene berbaik hati memaafkannya.


"Benar ya, apa saja yang aku minta bakal kamu berikan!" Irene mencoba memastikan.


"Ya, asal jangan keterlaluan minta yang mahal-mahal. Gajiku kan belum besar." Ares menggaruk kepalanya sendiri. Jika menawarkan sesuatu, Irene pasti akan minta yang macam-macam.


"Itu terserah aku mau minta apa. Kamu kan sudah bilang mau mengabulkannya!"

__ADS_1


Irene kembali berjalan memasuki rumah. Ares mengikuti dari belakang.


Saat Irene masuk rumah, ternyata kakeknya sedang bersama cucu-cucu yang lain, terkecuali Alex.


"Oh, kalian sudah pulang?" tanya sang kakek yang sedang sibuk bermain catur ditemani Alan, Arvy, dan Alfa.


"Iya, Kek. Sudah selesai tadi." Irene menghampiri kakek dan mencium tangannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ares.


"Belajar apa kok cepet banget? Paling cuma numpang mampir di kafe!" celetuk Arvy.


"Tidak menerima komentar dari orang yang tidak pernah kuliah!" sindir Ares balik.


Ucapan Ares sangat mengena di hati Arvy. "Wah, dasar sialan anak ini!" kesalnya. Satu bantal sofa melayang tepat ke wajah Ares.


"Makanya hati-hati sama adik bungsu kita kalau bicara, Ar. Lidahnya itu pedas seperti bon cabe level 100," kata Alfa.


"Memang ucapan Ares benar. Makanya kuliah, Ar. Nanti akan ada yang menyindirmu seperti itu kalau kamu tidak mau kuliah." kakek yang masih berkonsentrasi dengan papan caturnya turut bersuara.


Arvy seakan kehilangan keberanian bicara, sementara Ares semakin berani mengejeknya dengan menjulurkan lidah.


Semua orang tertawa dengan kepercayaan diri Arvy yang tinggi.


"Kayaknya di sini yang gak ganteng cuma aku," sahut Irene.


"Ya, kamu itu nggak ganteng, tapi juga nggak cantik!" ledek Arvy.


Irene langsung manyun.


Kakek yang mendengar hal itu memukul kepala Arvy. "Anak tidak sopan!" omelnya.


"Siapa lagi yang berani bilang Irene jelek? Biar sekalian Kakek coret dari kartu keluarga dan daftar ahli waris!" ancam kakek.


"Aduh, Kek ... Aku kan hanya bercanda ...." Arvy sudah ketakutan dengan kemarahan kakeknya.

__ADS_1


"Oh, iya. Irene, ini berkas pekerjaan yang katanya mau ikut lihat." Ares baru saja kembali setelah mengambil map berisi lembaran kertas yang ia taruh di dalam lemari.


"Loh, kok kamu bawa pekerjaan ke rumah, Res. Masa mau merepotkan Irene lagi?" Alan agak protes dengan kelakuan Ares. Ia sengaja memberikan pekerjaan itu untuk Ares agar adiknya bisa lebih belajar bertanggung jawab pada tugasnya.


"Masa aku mau minta pendapat sama Kak Arvy. Dia kan tidak tahu apa-apa. Kak Alfa juga tahunya cuma gunting-gunting kain, coba kerja di perusahaan juga kebanyakan bingung." celetuk Ares.


Arvy dan Alfa yang merasa sedang disindir langsung berdiri dan menoyor kepala Ares dari arah kanan dan kiri. Kakek memberi isyarat dengan mata melotot agar mereka tidak melanjutkan pertengkaran itu.


"Irene juga tidak keberatan, kok! Lagi pula, aku hanya minta tolong padanya untuk mengecek. Aku sudah menyelesaikannya, Kak!" Ares ngeyel seraya duduk di samping Irene dan menyodorkan pekerjaannya.


"Alan, fokus pada permainanmu. Kamu hampir kalah itu," ucap Kakek.


Alan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sementara, Ares tampak berdiskusi kecil dengan Irene.


Usai permainan catur selesai, kakek mengajak cucu-cucunya makan bersama. Ia kelihatan bahagia berkumpul dengan mereka. Kakek harap keempat cucunya bisa terus akur selamanya.


"Oh, iya. Kakek mendapat undangan pesta dari keluarga Sovia. Katanya akan ada pesta ulang tahun," kata Kakek.


Mereka tampaknya langsung tidak berselera makan. Kelimanya saling bertukar pandang seakan mengisyaratkan tidak ada yang ingin datang ke sana. Mereka sudah tahu bahwa kakek pasti akan menyuruh salah satu dari mereka untuk pergi.


"Alan, kamu datang untuk mewakili kakek."


Seperti yang mereka duga, kakek menyuruh salah satu untuk pergi. Ares, Arvy, dan Alfa sengaja mengarahkan pandangan mata ke tempat lain saat Alan mulai menoleh minta tolong. Tidak ada yang mau mengalah menggantikan Alan.


"Bagaimanapun juga, Kakak Sovia adalah rekan bisnis juga. Jadi, kita tetap harus menghormati. Meskipun kakek juga tidak menyukai Sovia."


"Irene, kamu ikut datang ya, menemani Alan!" pinta Kakek.


"Hah! Kok aku?" Irene terkejut namanya disebut.


"Memangnya kenapa, Irene?" tanya Kakek.


Irene hanya meringis. "Tidak apa-apa, Kek. Aku akan pergi," jawabnya yang tidak berani membantah kemauan kakek.

__ADS_1


Keempat lelaki itu terlihat menahan tawa dengan respon Irene. Segalak-galaknya Irene, masih berusaha menghormati kemauan kakek mereka.


Alan merasa lega. Setidaknya ia punya teman untuk pergi ke tempat Sovia. Apalagi partnernya nanti adalah Irene sendiri. Ia selalu suka melihat Irene yang mau tampil lebih rapi jika datang ke pesta. Berbeda jauh dengan penampilan sehari-harinya.


__ADS_2