
"Huah ... Akhirnya waktu istirahat tiba juga."
"Kita ke kantin, yuk!"
"Mau makan apa hari ini?"
Erika masih duduk di meja kerjanya terpaku pada layar monitor di hadapannya. Tatapannya kosong, pikirannya entah kemana. Seharian ini ia tak bisa fokus bekerja. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Erika mengusap kasar wajahnya.
Dimatikannya layar monitor setelah menyimpan file pekerjaannya. Ia bangkit dari tempat duduknya.
"Ibu Erika, mau ikut kita makan siang di restoran?" ajak salah seorang anak buahnya.
Erika mengulaskan senyum ramah seolah tak ada masalah. "Lain kali saja, ya! Hari ini aku ada urusan," tolaknya halus.
"Oh, baik, Bu. Kalau begitu, kami pamit dulu."
Erika mengangguk. Ia membiarkan anak buahnya menikmati makan siang di restoran. Sementara, ia melangkah ke arah yang lain. Beberapa kali ia menghela napas untuk memantapkan hatinya.
Erika mengetuk ruangan Alex.
"Masuk!"
Erika masuk dengan gugup ke ruang kerja Alex, hatinya berdegup kencang seakan belum sepenuhnya siap untuk masuk ke dalam sana. Ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan, dan ia berharap Alex mau mendengarkannya. Alex, yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, menoleh dan menyapanya dengan senyuman sebelum mengisyaratkan agar Erika duduk.
"Erika, kamu sudah makan siang atau belum?" tanya Alex, dengan sungguh-sungguh ingin tahu tentang urgensi dalam suaranya.
Erika menggeleng. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Ia memandang mata Alex dengan tatapan serius. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Boleh. Kita bicarakan saja sambil makan siang. Kamu mau di mana?" tanya Alex seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Tidak, tidak ... Kita bicara di sini saja!" pinta Erika.
Alex mengerutkan dahi. Ia kembali duduk di tempatnya. "Kalau begitu, kamu juga duduk dulu!" pintanya.
"Tidak perlu, aku hanya akan bertanya sedikit saja."
__ADS_1
"Masa kita membahas pekerjaan kamu sambil berdiri?" Alex bertambah heran.
"Bukan, ini masalah pribadi, bukan masalah pekerjaan. Aku akan bertanya yang terakhir kali. Setelah ini, aku tidak akan bertanya lagi," kata Erika pasrah.
"Baiklah, terserah kamu saja." Alex tak bisa memaksa kemauan Erika.
"Alex," panggil Erika.
"Ya?"
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Erika dengan sungguh-sungguh.
Alex tertegun sejenak lalu tertawa dengan pertanyaan itu.
"Aku sedang tidak bercanda, Lex. Jawab dengan jujur, apa kamu mencintaiku sebagai seorang wanita?"
Suasana berat terasa saat Alex memproses kata-katanya. Hati Erika berpacu, menanti jawaban yang akan menentukan jalannya hidupnya. Akhirnya, Alex memutuskan keheningan itu, dan suaranya penuh dengan ketulusan. Keduanya sama-sama tidak mau saling menyakiti atau tersakiti.
"Erika, kamu adalah orang yang luar biasa, dan persahabatan kita sangat berarti bagiku," Alex memulai. "Namun, aku tidak memiliki perasaan romantis terhadapmu. Bagiku, kamu hanya sahabat yang sangat berharga," katanya.
Erika merasakan campuran kekecewaan dan lega menghampirinya. Ia berusaha tetap tersenyum. Ia telah berpegang pada sedikit harapan, tetapi sekarang ia telah mendapatkan jawabannya. Dengan senyum palsu, ia menganggukkan kepala dan mengumpulkan dirinya.
Ekspresi Alex langsung berubah. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Erika. "Erika ... Kenapa harus resign? Kamu masih tetap bisa bekerja sekalipun sudah menikah," katanya.
"Kamu ini bagaimana? Masa tidak kenal siapa calon suamiku? Dia pengusaha dari Singapura. Jadi, setelah menikah tentu saja aku akan mengikutinya." Erika sedikit tertawa. Ia merasa selama ini Alex tak pernah mendengarkannya. Padahal, dalam banyak kesempatan ia selalu berbagi cerita tentang apa saja dengan lelaki itu. Termasuk perjodohannya dan rencana pernikahan.
"Apa ini benar-benar keputusanmu?" pertanyaan Alex terdengar seperti orang yang tidak rela jika sahabatnya itu menikah.
"Lalu aku harus bagaimana? Kamu pastinya tahu kalau lelaki yang aku cintai selama ini hanya kamu."
Erika terus berusaha menahan luapan emosinya. Ia sangat lelah selama ini memperjuangkan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Aku ...." Alex kehabisan kata-kata.
"Aku tahu kamu tidak punya minat terhadap pernikahan. Sedangkan aku, aku hanya ingin membahagiakan orang tuaku. Mereka berharap agar aku segera menikah."
Air mata menggenang di mata Erika. Ia tahu bahwa itu tidak akan mudah, tetapi ia bertekad untuk memenuhi keinginan keluarganya dan menemukan kebahagiaannya sendiri dalam proses tersebut.
__ADS_1
Mereka berdua menyadari bahwa hubungan mereka akan berubah secara drastis. Erika akan memulai babak baru dalam hidupnya, meninggalkan kenyamanan persahabatannya dengan Alex. Mereka saling tersenyum pahit, diam-diam mengakui ikatan yang mereka miliki dan tantangan yang menanti.
"Kalau begitu, aku permisi. Hanya itu yang mau aku sampaikan."
Erika keluar dari ruangan dengan langkah gugup, air mata masih mengalir di pipinya. Tanpa sengaja, dia bertemu dengan Irene di lorong yang sepi. Irene melihat keadaan Erika yang sedih dan terkejut.
"Erika, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Irene dengan perasaan khawatir.
"Irene... Ini... Ini ... Aku ...." Erika tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia memeluk Irene dengan erat dan menumpahkan kesedihannya.
Irene membiarkan Erika menangis. Ia masih belum mengerti kenapa wanita yang biasanya ceria dan menyenangkan itu tiba-tiba menangis.
"Erika, ayo kita bicara di rooftop saja," ajak Irene saat tangisan Erika mulao mereda.
Keduanya bergandengan tangan dan berjalan menuju ke atap gedung. Di sana biasanya sepi, jarang ada yang mau datang ke sana.
"Katakan padaku, Erika. Apa yang terjadi?"
"Aku... aku mempertanyakan perasaan Alex terhadapku. Aku mengatakan padanya dan dia... dia mengaku bahwa dia hanya menganggapku sebagai sahabat." suara Erika terdengar penuh kekecewaan.
Irene menepuk lengan Erika. "Akubtahu perasaanmu."
"Aku mencintainya, Irene. Aku mencintainya sangat lama. Tapi sekarang, aku harus menghadapi kenyataan bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama. Dia tidak pernah mencintaiku."
Irene merangkul Erika erat-erat, memberikan dukungan dan kekuatan kepadanya. Mereka berdua duduk di sudut lorong yang sepi, memberikan ruang bagi Erika untuk mencurahkan isi hatinya.
Irene mengusap punggung Erika. "Aku tahu betapa sulitnya ini bagimu. Namun, kamu harus ingat bahwa kamu adalah seorang wanita yang kuat. Cinta tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan, tetapi itu bukan akhir dari segalanya."
Erika menghapus air mata. "Aku mencoba memahaminya, Irene, tetapi rasanya begitu sulit. Aku harus menerima kenyataan ini dan melanjutkan hidupku."
"Ya, Erika. Kamu harus menerima dan melanjutkan hidupmu. Kamu memiliki potensi yang luar biasa, dan ada banyak kesempatan dan cinta yang menunggumu di luar sana."
Erika mengangguk perlahan, mencoba menguatkan dirinya sendiri. "Aku harus menerima kenyataan ini dan melanjutkan hidupku. Aku telah memutuskan untuk mengikuti rencana pernikahan yang telah ditetapkan oleh keluargaku."
Irene menatapnya dengan penuh kehangatan. "Erika, yang terpenting adalah kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri. Jika menikah dengan Edward adalah pilihan yang tepat bagi kamu, maka aku mendukungmu sepenuhnya."
Erika hanya tersenyum. Sebenarnya pernikahan itu bukanlah pilihan, tapi suatu keharusan. Usianya sudah dianggap sangat cukup untuk menikah. Seorang wanita di keluarganya belum diakui kesuksesannya sebelum menikah dan memiliki anak.
__ADS_1
Erika tersenyum lemah, merasakan dukungan dari sahabatnya. "Terima kasih, Irene. Kamu selalu ada untukku. Aku beruntung memiliki teman seperti kamu."
Keduanya duduk berdampingan, saling menguatkan satu sama lain. Erika merasa sedikit lega setelah membagikan isi hatinya kepada Irene. Dalam saat-saat sulit seperti ini, persahabatan mereka menjadi jaminan bahwa Erika tidak sendiri dalam menghadapi cobaan hidupnya.