Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 62: Diam Tapi Dibela


__ADS_3

Meera sudah merasa puas menikmati waktu jalan-jalannya. Ia menghabiskan waktu sorenya bersama teman-temannya. Waktunya sekarang ia ingin mengecek ponselnya sembari tidur-tiduran di kamarbasramanya. Ia sudah membayangkan pasti akan heboh akun miliknya karena postingan tentang Irene. Pasti akan banyak yang menghujat Irene dan menuntutnya untuk mundur dari kompetisi.


"Orang seperti itu tidak layak ikut kompetisi ini. Melihat wajahnya saja aku sudah muak!" gumam Meera sembari mengambil ponsel dari dalam tasnya.


Seperti yang ia perkirakan, ada banyak notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Ia tidak sabar menikmati kata-kata mutiara netizen untuk mahasiswi yang punya pekerjaan sampingan sebagai simpanan bapak-bapak.


Meera tercengang saat membaca satu per satu komentar yang masuk. Tidak sesuai prediksinya, komentar-komentar itu justru ditujukan kepada dirinya. Banyak hujatan yang masuk untuk dirinya sampai tangan Meera gemetar membaca komentar-komentar jahat di postingannya.


"Kok malah jadi benini, sih ...." Meera tak menyangka perbuatannya akan menjadi boomerang yang menyerang dirinya sendiri.


***Elenderies: Ini salah satu peserta kompetisi mahasiswa itu ya?


Hob.Kitty: Apaan sih jaman sekarang mahasiswa bukannya ngampus malah ngamar


Inka: Jijik banget!


Glenda: Murahan 🤪***


A_rest: Woy! Hapus fotonya atau aku yang akan menghapus namamu dari dunia ini! Tukang fitnah sialan!


***Bio_1: Itu presdir Narendra Group, block!


Bocil.ep_ep: Mau cari mati nih orang. Serbu kampusnya yuk!


Shou-cute: Setahuku Irene magang di Narendra Group. Nih orang punya masalah apa, ya?


Adelle.Heho: Kayaknya ada yang takut kalah saing sama kampus kita @Zigaaaa. Irene memang keren!


I'm_Bian: Tolong hapus postingannya. Itu tidak benar***!


Matanya membelalak saat membaca komentar yang menyebutkan lelaki itu adalah presdir Narendra Grup. Degup jantungnya semakin kencang mengingat ia melibatkan orang yang terkenal. Meera langsung menutup kolom komentar akunnya agar tidak ada lagi yang berkomentar.


Meera membuka kontak panggilan di teleponnya. Ia mencari nomor yang diberikan oleh lelaki yang dia lihat bersama Irene. Ia harus menjelaskan semuanya dan meminta maaf agar masalahnya tidak melebar.


"Nah! Ini." Segera Meera menekan tombol panggilan dan menunggu lelaki itu mengangkat teleponnya.

__ADS_1


"Halo, selamat malam dengan Rumah Sakit Jiwa Jaga Rasa, ada yang bisa kami bantu?"


Seketika tubuh Meera mematung. Nomor yang diberikan oleh lelaki itu ternyata nomor rumah sakit jiwa. Wajahnya langsung pucat. Ia tengah mencari masalah dengan orang yang salah. Meera memutuskan untuk segera mengemasi barangnya, ia akan meminta pindah kamar kepada pengurus asrama. Ia yakin ketiga teman sekamarnya tidak akan melepaskannya begitu saja. Lebih baik ia menghindar.


Tak lama setelah Meera pergi, Jeha, Winda, dan Irene kembali ke kamar. Mereka masih membahas postingan yang memuat foto Irene di sana. Mereka yakin bahwa postingan tersebut diunggah oleh akun milik Meera.


"Kemana tuh anak?" tanya Winda yang mencari-cari keberadaan Meera. Bahkan ia juga mengecek ke kamar mandi, tapi orangnya tidak ada.


"Barang-barangnya juga sudah tidak ada," ucap Jeha saat membuka lemari sharing-nya. Di dalam lemari hanya tersisa pakaian miliknya saja.


"Kayaknya anak itu kabur deh. Dasar nenek lampir, sudah buat masalah malah minggat!" gerutu Winda.


"Kok aku nggak bisa lihat akunnya lagi, ya?" tanya Jeha saat mengecek di ponselnya.


"Masa, sih?" Winda ikut membuka aplikasi di ponselnya. "Masih ada, kok. Kayaknya dia kunci akunnya saking banyak yang silaturahmi. Hahaha ... banyak yang menghujat dia."


"Coba lihat!" Jeha merapat pada Winda. Irene ikut-ikutan melihat ponsel Winda.


"Kayaknya banyak yang komentar dari anak-anak kampusmu ya, Ren?" tanya Jeha.


"Kalian mau jajan nggak? Temani aku makan kwetiau di depan, yuk!" ajak Irene.


"Kamu kok santai banget sih, Ren? Nggak ada keinginan untuk membawa masalah ini ke jalur hukum?" tanya Winda heran.


Irene tersenyum. "Untuk apa? Dia juga pasti sudah sadar kalau dia salah. Orang-orang juga pasti tahu kebenarannya seperti apa. Untuk apa aku repot? Lebih baik makan banyak supaya perut kenyang, iya nggak?"


"Makanmu banyak banget ya, Ren! Tapi tubuhmu tetap kecil."


*****


Irene, Jeha, dan Meera tertawa-tawa membahas setiap komentar lucu yang ada di postingan Meera. Perut mereka yang kenyang rasanya berguncang karena kebanyakan tertawa. Selesai makan, mereka memutuskan untuk kembali ke asrama.


"Irene!" panggil Alan.


Ketiga wanita itu tertegun melihat Alan sudah ada di sana. Irene juga bingung, padahal tadi siang mereka baru bertemu, malam ini lelaki itu kembali datang menemuinya. Dengan penampilan casual memakai celana jeans dan sweater membuatnya terlihat keren. Setiap orang yang melihat pasti akan terpesona olehnya.

__ADS_1


"Halo, Om ... kami berdua teman Irene! Nama saya Winda." sapa Winda seraya merangkul pundak Jeha. Ia langsung cari perhatian di depan orang ganteng.


"Nama saya Jeha, Om," ucap Jeha dengan nada canggung. Ia hanya ikut-ikutan memperkenalkan diri seperti Winda.


Alan mengerutkan dahi mendengar dipanggil om oleh teman-teman sepantaran Irene. Usianya memang sudah genap 30 tahun, tapi belum merasa terlalu tua sampai harus dipanggil dengan sebutan om. "Nama saya Alan," ucapnya dengan seulas senyum.


"Kak Alan kenapa datang ke sini?" tanya Irene.


Alan sekilas melirik ke arah kedua teman Irene. Sebenarnya ia merasa sangat tidak nyaman untuk berbicara dengan Irene di hadapan mereka. "Aku dengar ada yang membuat berita tidak benar tentang kamu. Aku ingin tahu apa kamu baik-baik saja?"


"Om Alan tidak perlu khawatir, ada kami yang akan membela Irene. Orang yang memposting berita itu malah sudah pindah kamar sendiri, Om, tidak perlu kami beri ultimatum," sahut Winda dengan bangganya.


Irene tersenyum. "Mereka benar, Kak. Aku baik-baik saja," ucapnya.


"Om kok bisa jadian sama Irene? Kita boleh tahu ceritanya, nggak?" tanya Winda penasaran.


"Iya, Om ... kami kaget saat tahu Irene ternyata sudah punya pacar yang ganteng seperti artis Hollywood," sambung Jeha.


Irene dan Alan saling pandang. Mereka jadi canggung karena kedua wanita itu membahas hal pribadi mereka.


"Ah! Kok kalian bicara sembarangan ... siapa yang pacaran? Kami tidak pacaran. Kami hanya kenal karena aku magang di perusahaan Kak Alan. Iya kan, Kak?" ucap Irene sembari tersenyum canggung karena sungkan kepada Alan.


"Hah, jadi kalian nggak pacaran, ya?" tanya Jeha.


"Yang benar? Kita bisa dapat kesempatan jadi pacar Om Alan, dong ...." Winda tampak senang mendengarnya.


"Jeha juga mau jadi pacar Om Alan."


Irene tertawa dengan kelakuan kedua temannya. "Kak, ada dua teman Irene yang mau daftar jadi pacar tuh. Dua-duanya aja sekalian jadi pacar Kak Alan. Hahaha ...."


Alan hanya terdiam dengan candaan yang mereka berikan. Tawa di wajah Irene peelahan hilang menyadari sepertinya Alan tidak menyukai candaannya. Lelaki itu justru terlihat marah padanya.


"Aku kemari ingin memberikanmu ini. Segera masuk kamar dan istirahat. Aku pulang dulu!"


Alan menyerahkan sekotak kue lalu pergi begitu saja meninggalkan Irene. Kedua teman irene masih tertawa kegirangan mengetahui lelaki setampan itu ternyata bukan pacar Irene. Sementara, Irene masih tertegun memikirkan letak kesalahannya yang membuat Alan marah.

__ADS_1


__ADS_2