Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 78: Bertemu Elios


__ADS_3

"Pak ... ada restoran Jepang di sini!" Irene alias Alenta kegirangan seperti anak kecil saat melihat ada restoran makanan kesukaannya. Ia menarik-narik tangan Alan dengan semangat, mengajak lelaki itu masuk ke dalam.


Alan memang menjanjikan Alenta untuk mentraktirnya makan. Ia tidak mengira wanita itu langsung menagih janjinya saat itu juga. Ia kira wanita itu mungkin akan meminta makan malam mewah di restoran bintang lima yang megah. Akan tetapi, saat di jalan wanita itu melihat restoran Jepang sederhana, ia langsung histeris minta masuk.


"Saya mau pesan shabu-shabu, tambah sushi, onigiri, chicken katsu dan minumannya matcha." tanpa ragu, Alenta memesan begitu banyak makanan kepada pelayan menggunakan Bahasa Persia.


Tak berapa lama kemudian, makanan yang mereka pesan diantarkan oleh pelayan. Satu per satu makanan di hidangkan hingga memenuhi meja. Mata Alenta terlihat berbinar saat melihat ada banyak makanan di meja. Dengan semangat ia memakan pesanannya. Siapapun yang melihat akan ikut berselera makan sepertinya.


Melihat gaya makan Alenta mengingatkannya pada sosok Irene yang sangat suka makan. Apalagi kalau ia bilang akan mentraktirnya, Irene pasti langsung maju lebih dahulu. Gaya makan Alenta sangat mirip dengan Irene, begitu pula ekspresi yang ditunjukkan saat memakan makanan khas Jepang kesukaannya.


Alan menggoyangkan kepalanya. Ia merasa tidak beres dengan dirinya sendiri. Mungkin karena sudah lama tidak menghubungi Irene, ia jadi merindukan wanita itu. Irene jelek dengan segala tingkah menyebalkannya selalu memenuhi pikirannya, bahkan saat ia sedang berada jauh di luar negeri.


Irene sudah pasti tidak bisa dihubungi karena sedang berlibur di desa yang susah sinyal. Jika ia mau menghubunginya juga butuh alasan yang jelas agar wanita jelek itu tidak besar kepala merasa mendapat perhatian darinya.


"Pak, kenapa tidak dimakan? Nanti aku habiskan semua, loh! Jangan menyesal nanti Bapak kelaparan," tegur Alenta.


"Memangnya kamu kuat makan sebanyak ini?" tanya Alan.


"Kuat, Pak. Asalkan gratis, harus disikat habis!" Alenta mengacungkan jempolnya.


Alan hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Alenta. Wanita cantik itu bisa makan dengan bar-bar tanpa takut terlihat jelek. Tapi, bagaimanapun juga, Alenta tetap terlihat cantik meskipun gaya makannya agak rakus.


"Kamu itu seperti orang yang belum makan selama satu tahun, Alenta," gumam Alan.


"Saya memang kalau lapar butuh banyak makan supaya punya tenaga, Pak."

__ADS_1


Alan semakin merasa Alenta mirip dengan Irene. Ia mulai curiga kalau mereka adalah orang yang sama. Hanya saja, kecantikan Alenta terlihat natural. Kalau dibandingkan dengan Irene, paras mereka beda jauh.


"Pencuri! Pencuri! Pencuri!"


Saat mereka sedang asyik makan, tiba-tiba terdengar seseorang meneriaki pencuri tapi menggunakan bahasa yang mereka mengerti. Padahal, mereka sedang berada di Iran yang menggunakan Bahasa Persia. Alenta dan Alan saling berpandangan kebingungan. Sekali lagi ia mencermati suara yang baru mereka dengar dengan seksama, ternyata benar, ada rakyat dari tanah air sedang meminta bantuan.


Tanpa pikir panjang, keduanya meninggalkan meja. Mereka melihat ke luar dari lantai dua tempat makan mereka. Tampak dua lelaki lewat berkejar-kejaran dengan senjata tajam.


Alan langsung melompat turun dari atas. Alenta tampak khawatir melihat atraksi Alan yang melompat dengan baiknya dan mendarat tepat di tengah. Lelaki itu berlari membantu mengejar sang pencuri.


Sempat terjadi perkelahian yang sengit, Alan bersama korban pencurian itu bekerjasama melawan pencuri yang memiliki kemampuan bela diri tidak bisa diremehkan. Pencuri itu akhirnya mengalah setelah merasa terdesak. Ia lari tunggang langgang meninggalkan dompet yang sebelumnya ia ambil.


Alan mengambil dompet tersebut dari tanah, diberikannya kepada orang yang memiliki wajah Asia seperti dirinya. "Dari Indonesia juga, ya?" tanyanya sembari memberikan dompet itu.


"Oh, iya. Boleh tahu siapa namamu?" tanya orang itu.


"Namaku Alan Narendra," ucap Alan sembari mengeluarkan selembar kartu nama dan menyerahkannya kepada orang tersebut.


"Aku Elios," kata orang tersebut. Ia turut memberikan selembar kartu nama kepada Alan.


Mata Alan melebar saat membaca identitas yang tertera pada kartu nama tersebut. "Loh, kamu putra bungsu keluarga Hector, ya? Elios Hector, pengelola Hector Hotel & Restaurant?" Alan terlihat tidak asing dengan nama tersebut. Keluarga Hector memang cukup terkenal dalam bidang bisnis perhotelan dan restoran. Alan mengenal nama tersebut karena dulu bisnis restorannya juga belajar dari strategi bisnis yang dilakukan oleh Hector Restaurant.


"Iya. Ternyata ada yang mengenalku juga, ya!" Lelaki bernama Elios itu menggaruk-garuk kepalanya karena tidak menyangka ada yang mengenalnya.


"Siapa yang tidak mengenal pengusaha muda sukses sepertimu? Hotel dan restoran milik keluargamu ada di mana-mana."

__ADS_1


"Iya juga, sih! Tapi, biasanya orang akan mengenal nama ayahku atau kakakku." Elios merasa tersanjung namanya dikenal sebagai salah satu bagian dari keluarga Hector.


"Ngomong-ngomong, ada urusan apa kamu di sini?" tanya Alan.


"Tentu saja untuk bekerja. Memangnya ada yang datang ke negara ini untuk jalan-jalan, ya?" Kalau bukan karena alasan pekerjaan, Elios tidak akan mau datang ke negara itu. Apalagi bahasanya sangat sulit dipahami. Belum lagi dari segi makanan dan iklim yang sangat tidak ia sukai. Sayangnya, sang ayah memaksanya datang ke sana untuk mempelajari makanan khas daerah sana dan menerapkan pada cabang restoran yang akan mereka buat.


Pandangan Alan teralih ke satu arah. Tampak Alenta sedang berdiri sembari melipat tangannya dan menatap ke arahnya. Ia sampai lupa kepada wanita itu saking asyiknya mengobrol.


"Ah, Maafkan aku, ya ... sepertinya ada yang marah karena terlalu lama aku tinggalkan," ucap Alan kepada Elios.


"Oh, kamu tidak datang sendiri? Itu pacarmu, ya?" tanya Elios saat tatapan matanya mengikuto arah tatapan Alan.


"Bukan, dia penerjemahku. Kalau tidak ada dia, aku mungkin akan hilang di negara ini."


"Wah, senangnya punya penerjemah cantik. Kalau penerjemahku lelaki pemalas. Sekarang saja dia masih tidur di hotel makanya aku kesusahan melakukan apa-apa sendiri di luar. Jarang yang bisa Bahasa Inggris soalnya."


"Ya sudah, aku kembali dulu, ya! Wanita kalau sudah marah biasanya susah dijinakkan," ucap Alan lirih.


"Hahaha ... kamu benar. Jangan sampai dia meninggalkanmu sendirian di sini."


"Senang bertemu denganmu."


"Aku juga. Kapan-kapan kita harus bertemu ya, di Indonesia."


Alan berlari menghampiri Alenta. Wajahnya merengut karena terlalu lama menunggunya tak kunjung kembali.

__ADS_1


__ADS_2