Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 293


__ADS_3

"Papa sepertinya tidak bisa memahami perasaan kami," ucap Alan ketika sang ayah memintanya untuk menerima keputusan Vito dengan lapang dada.


"Alan, Papa tahu perasaanmu. Tapi, untuk apa lagi kita berlarut-larut dengan masalah yang sudah berlalu?" Vito berusaha membujuk Alan agar mau menerima Alex kembali.


Alan terlihat malas berada di sana. Ia tidak sudi satu ruangan dengan Alex. Begitu pula dengan Ares yang ingin cepat-cepat pergi dari sana.


Alex merasa tidak enak keberadaannya membuat situasi menjadi tidak harmonis. Ia merendahkan dirinya berlutut di hadapan Alan. Ia menyadari bahwa dirinya yang dulu memang jahat dan pernah berpikir untuk menyingkirkan kakaknya sendiri.


"Kak, aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal dengan perbuatanku yang dulu," kata Alex.


"Alex, apa yang kamu lakukan?" Vito terkejut melihat perbuatan Alex.


Alan tampak masa bodoh sekalipun Alex sudah berlutut di hadapannya. "Percuma kamu minta maaf! Kakek juga tidak akan bisa hidup lagi!" ungkapnya kecewa.


"Aku tahu, Kak. Selama ini aku sudah hidup dalam penyesalan karena kematian kakek. Meskipun kesalahanku tidak termaafkan, aku tetap ingin terus meminta maaf. Terutama kepadamu. Maafkan aku."


Mata Alex berkaca-kaca. Sebagai seorang lelaki, ia juga tak kuasa untuk menahan air matanya. Ia terlihat benar-benar menyesal.


"Alan, beri Alex kesempatan. Bagaimanapun juga dia adikmu, kalian satu keluarga," kata Vito dengan nada bicara yang lembut.


"Kalau dia merasa satu keluarga, tidak mungkin kakek celaka!" Alan berbicara dengan nada tinggi. "Memangnya dia menganggap kami keluarga saat memusuhi kami?" ia begitu kesal dan ingin rasanya menghajar Alex.


Ares tidak berani ikut campur. Ia hanya berdiri mematung memperhatikan anggota keluarganya yang lain.


Alex semakin tertunduk. Ia tak bisa membela diri karena apa yang disampaikan Alan adalah kenyataan. Ia memang sejahat itu. Ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya pernah menjadi orang yang sangat jahat.


"Alan ... Setiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Beri adikmu kepercayaan untuk melakukannya," pinta Vito.

__ADS_1


"Hah! Apa lagi yang bisa dipercaya setelah kakek akhirnya meninggal?" Alan berkata dengan mata sendunya.


Setiap kali mengingat kakek, hanya kesedihan yang terbayang di pikirannya. Selama kedua orang tuanya menghilang, kakek yang bersusah payah berperan sebagai orang tua untuk mereka berlima.


Meskipun terkadang kakek membedakan perlakuan terhadap Alex, sebenarnya kakek masih menyayanginya. Bahkan sebelum kakek meninggal, kakek masih sempat berpesan agar Alan tidak boleh membenci adiknya.


"Jadi, mau sampai kapan kamu keras kepala seperti ini? Beri waktu kepada Alex untuk menebus kesalahannya, Alan!" tegas Vito.


"Itu terserah Papa saja! Aku ingin pura-pura tidak pernah melihat dia! Aku mau pulang dulu!" kata Alan.


Tanpa berkata sepatah katapun, Alan langsung berbalik badan dan berjalan dengan langkah tegas meninggalkan ruang rapat.


"Kak Alan! Tunggu aku!" seru Ares seraya berlari mengikuti kakaknya.


"Kamu tidak mau tetap di sana?" tanya Alan saat berada di dalam lift bersama Ares.


"Aku kira kamu sepakat dengan Papa," terka Alan.


"Hah! Kalau aku sepakat, untuk apa aku pergi dari rumah itu dan menumpang di tempat Kak Alfa!" keluh Ares.


Alan tersenyum. "Kamu betah di tempat Alfa?" tanyanya.


"Terpaksa, Kak! Mau bagaimana lagi? Tidak ada enaknya hidup menumpang! Aku sering digoda teman Kak Alfa yang wanita jadi-jadian!"


"Hahaha ...." Alan menertawakan keluhan Ares. Ia sudah menduga kalau Ares akan sangat tertekan berada di sana. Rumah sekaligus studio milik Alfa sering didatangi pengunjung. Kebanyakan teman Alfa memang pria melambai.


"Kenapa tidak ikut Arvy saja?" tanya Alan.

__ADS_1


"Kalau ikut Kak Arvy nanti aku disuruh mondar-mandir jadi asisten dadakan. Belum lagi ketemu banyak orang, biasanya aku ditawari casting. Itu lebih menyebalkan!" kata Ares.


Selama ini, orang yang paling suka ia buntuti adalah Alan dan Alex. Kedua kakak tertuanya lebih bisa memanjakan dia sebagai anak bungsu. Bahkan Alan tidak akan protes jika dirinya banyak minta.


"Nih!" Alan menyodorkan sebuah kartu kepada Ares tepat saat lift yang mereka naiki sampai di lobi.


"Sebentar lagi kamu lulus kuliah, sudah waktunya punya tempat tinggal sendiri," kata Alan.


Tanpa basa-basi, Ares menerima kartu akses apartemen milik Alan yang pernah ia pakai dulu. Ia merasa kegirangan dan bisa segera pindah dari tempat Alfa yang menyebalkan.


"Terima kasih, Kak," ucap Ares.


"Aku harap kamu berhati-hati kalau nanti memulai kerja di sini. Apalagi posisimu tinggi. Jangan sampai ada yang menjatuhkanmu. Jangan mudah percaya kepada orang lain. Fokus saja pada pekerjaanmu," nasihat Alan.


"Iya, Kak. Aku mengerti," kata Ares.


"Aku mau pulang dulu, ya!" pamit Alan.


"Loh, Kakak mau langsung pulang? Aku kira hari ini Kakak sudah mulai bekerja," ujar Ares.


"Aku malas melihat dia. Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk keluar dan mengurusi restoran lagi," kata Alan.


"Jangan, Kak! Kalau nanti Kak Alex berulah lagi bagaimana? Kakak tahu kan, bagaimana repotnya dulu? Aku saja sampai kewalahan ikut mengurus perusahaan." Ares tidak mau kakaknya keluar dari perusahaan.


"Itu malah lebih baik. Biarkan Papa tahu bagaimana hasil atas keputusannya," kata Alan cuek.


"Yah, jangan seperti itu, Kak! Kasihan Papa. Kalau ada apa-apa dengan perusahaan, takutnya nanti jantungan."

__ADS_1


__ADS_2