
Irene terbangun saat merasakan sentuhan yang tidak biasa. Matanya mulai terbuka dan mendapati kedua tangannya dalam kondisi terikat pada kepala ranjang. Ada Hamish di hadapannya tengah memandangi seraya membelainya dengan perasaan cinta yang membara.
"Kak! Apa yang kamu lakukan padaku!" Irene berusaha melepaskan ikatan tangannya. Kedua kaki Irene juga sulit digerakkan karena Hamish menahan dengan kakinya.
"Irene ... gadis kecilku semakin tumbuh besar dan susah diatur," ucap Hamish yang masih sibuk menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajah Irene.
"Kenapa Kak Hamish melakukan ini padaku? Maksudnya apa?" tanya Irene.
"Benarkah kamu tidak bisa memahami segala yang aku lakukan selama ini? Aku jadi sedikit kecewa, Irene," kata Hamish sembari memasang ekspresi wajah kecewa.
"Kak, lepaskan ini. Kita bicara baik-baik, jangan seperti ini," kata Irene dengan nada lembut.
Hamish tersenyum. "Irene, aku selalu menyayangimu, sangat menyayangimu. Kita bisa hidup bahagia bersama mulai hari ini. Aku ingin kamu menjadi istriku," kata Hamish.
Irene terhenyak kaget dengan perkataan Hamish. "Kak, kamu sudah gila? Aku sepupumu! Kita sudah seperti kakak adik!"
"Memangnya itu salah? Kamu bukan adik kandungku, kamu hanya sepupuku. Kita bisa menikah dan saling menyayangi."
Hamish mendekatkan wajahnya. Irene berusaha menghindar menyadari lelaki itu hendak menciumnya. Namun, Hamish semakin kasar dan memaksanya menerima ciuman darinya. Bahkan Hamish dengan berani mencium bibir Irene dengan agresif.
Hamish tak berhenti mengecupi bibir itu, memaksa Irene membuka mulutnya dan memberikan ciuman yang lebih mendalam. Dalam kondisi tubuh terkunci, Irene tak bisa berkutik. Ia menitihkan air mata kesedihan merasa benci dengan apa yang Hamish lakukan padanya.
"Gila! Gila! Lepaskan aku, Kak!" Irene berteriak histeris memohon Hamish melepaskannya. Ini pertana kalinya lelaki itu memperlakukan dirinya dengan begitu buruk. Perlakuan sayang yang selama ini Hamish curahkan berganti dengan hal gila yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa sih, Kak? Kenapa jadi seperti ini?" Irene menangis tersedu-sedu. Bukan hanya karena ciuman paksa itu, tetapi juga karena sikap Hamish yang telah berubah.
Hamish mengeratkan pelukannya kepada Irene seakan tak ingin melepaskannya. "Aku sudah mencoba jujur padamu, kalau aku sangat mencintaimu, Irene. Hanya aku di dunia ini yang sangat mencintaimu. Makanya, ayo kita menikah dan hidup bahagia."
"Aku seperti sudah tidak mengenalmu, Kak. Aku benci kamu! Aku tidak mau menurutimu! Lepaskan aku!" Irene terus mencoba memberontak.
Hamish terlihat kesal. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Irene. Ia beralih ke arah meja untuk mengambil ponselnya.
Kesempatan itu dimanfaatkan Irene untuk bangkit. Ia duduk di ranjang dengan posisi kedua tangan yang disatukan dan terikat pada kepala ranjang. Ia berusaha menggerakkan tangan agar ikatan itu terlepas. Ia sampai menggunakan bantuan gigi-giginya untuk berusaha melepaskannya.
"Apa setelah ini kamu masih bisa menentangku?" tanya Hamish.
Lelaki itu memperlihatkan ponselnya yang tengah tersambung dengan panggilan video bersama anak buahnya. Tampak di sana ada banyak anak buah Hamish di kediaman kakek dan nenek Irene di desa. Kakek dan nenek dalam kondisi terikat pada tiang rumah.
Hamish menyeringai. "Aku berencana untuk membakar mereka beserta rumah mereka. Soalnya mereka selalu mengatakan hal-hal yang membuatku kesal," tuturnya.
"Kak! Jangan gila! Itu kakek dan nenek kita! Ini sudah sangat keterlaluan! Jangan lakukan!" Irene berteriak-teriak mencoba menghentikan kegilaan itu.
"Mereka itu hanya pura-pura baik padamu, Irene. Jangan mudah kasihan kepada mereka. Hanya aku yang punya kasih sayang tulus padamu. Mereka hanya ingin memanfaatkanmu," ujar Hamish.
Irene termenung sembari menangis. Saat itu ia juga sempat mendengar bahwa dirinya bukanlah cucu kandung. Ia diminta mengikuti perjodohan itu hanya sebagai alasan agar mereka bisa lebih leluasa mencari keberadaan Zayn.
"Apa mereka sudah menceritakan kalau kamu bukan cucu kandung mereka? Apa mereka juga menceritakan kalau sebenarnya kamu anak dari pernikahan pertama ibumu?" tanya Hamish.
__ADS_1
Irene tertegun mendengarnya.
"Oh, aku rasa kamu belum mendengarnya," kata Hamish membaca dari ekspresi yang Irene perlihatkan.
"Ibumu sudah pernah menikah dengan seorang lelaki asing, namanya Dylan Miguel kalau tidak salah. Apa nama itu terdengar familiar untukmu?" tanya Hamish.
Irene hanya diam. Ia syok mendengar setiap perkataan Hamish kepadanya.
"Dia adik dari Alberto Miguel yang sering kamu panggil ayah angkat. Ayah kandungmu meninggal saat kamu belum lahir akibat kecelakaan ketika balapan. Setelah kamu lahir, ibumu menikah lagi dengan pamanku dan kamu mendapatkan nama belakang Abraham. Kamu pasti baru tahu, kan?"
Tubuh Irene terasa lemas mendengar kenyataan itu.
"Kemarin kakek mengatakan padaku agar menjauhimu. Dia bilang kamu sudah dijodohkan dengan salah satu putra keluarga Narendra. Tentu saja aku sangat marah. Makanya aku ingin membakar tua bangka itu. Apa kamu setuju?"
Irene hanya terdiam. Ia kembali menangis. Irene tak bisa mengerti kehidupannya yang sesungguhnya. Semua terasa sangat rumit.
"Sudah aku bilang kakek tidak benar-benar menyayangimu. Makanya jangan terlalu sayang padanya. Hanya aku yang tulus menyayangimu," ucap Hamish.
"Keluarga kita punya hubungan yang kurang baik dengan keluarga Narendra. Ah, sebenarnya bukan keluarga Abraham langsung, tapi mereka bermasalah dengan saudara nenek kita. Mereka suka memakai nama keluarga kita, makanya sering dikira jadi bagian keluarga Abraham."
"Padahal, hubungan keluarga kita dan keluarga nenek jauh dari kata akur. Keluarga nenek sangat dendam kepada kakek karena dulu nekad menikahi nenek. Kakek kita dulu miskin. Mereka juga yang sudah membunuh orang tua kita dan juga menculik adikmu."
"Mungkin kakek sengaja mengadakan perjanjian dengan keluarga Narendra karena punya musuh yang sama. Keluarga saudara nenek juga pernah menyingkirkan pasangan suami istri keluarga Narendra."
__ADS_1
"Kakek ingin tenang mencari keberadaan Zayn di kota S. Dengan adanya kamu di rumah keluarga Narendra itu sebagai sandra untuk memastikan kakek memang tidak terlibat dengan hilangnya anggota keluarga Narendra."