
"Oh, iya. Bagaimana dengan acara pertunangan kita nanti? Kamu mau diadakan di hotel mana? Apa kamu juga akan mengundang teman-temanmu?" tanya Alan sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
Irene sejak tadi merasakan beban mental setiap kali mendengar Alan mengajaknya membahas masalah yang serius. Rasanya ia belum siap untuk menikah. Apalagi harus menikah dengan Alan .
"Bagaimana kalau acaranya sebatas acara keluarga saja? Aku akan mengundang kakek dan nenek untuk membahas hal ini," kata Irene.
Alan agak heran dengan permintaan Irene. Ia kira Irene mengharapkan pertunangan yang spektakuler seperti trend saat ini. Ternyata, wanita itu hanya menginginkan pertemuan dua keluarga.
"Baiklah, kalau itu maumu," kata Alan menyetujui.
"Ini untukmu!" Alan menyodorkan sebuah kotak bingkisan dengan hiasan pita di hadapan Irene.
Irene menatap penuh tanya ke arah Alan.
"Itu hadiah antal untukmu. Bukalah!" pintanya.
Irene mengambil bingkisan itu. Ia melepaskan pita yang menyimpul kotak dan membukanya.
Dari dalam kota itu ia mendapatkan sebuah gelang giok darah yang sangat indah. Irene sampai tercengang tidak percaya. "Kak, bukannya ini batu giok yang kamu dapatkan waktu itu?" tanya Irene memastikan.
Ia sangat paham jika batu itu tergolong langka. Alan mengatakan ingin membuat batu itu menjadi simbol perusahaannya. Ia tidak menyangka jika Alan juga membuat giok itu menjadi gelang untuknya.
"Kakak kenapa memberikan ini padaku?" tanya Irene.
"Karena aku mau memberikannya padamu. Biar aku bantu memakaikannya, ya!" ucap Alan.
Jantung Irene berdebar-debar saat tangan Alan menyentuh tangannya, memasukkan gelang giok itu ke pergelangan tangannya.
"Sangat cocok untukmu," ucap an dengan seulas senyum.
Usai makan, Irene kembali ke kamarnya. Ia memandangi gelang giok yang ada di pergelangan tangannya. "Apa Kak Alan mulai menyukaiku?" gumamnya.
Ia merasakan ketulusan yang sangat besar ketika Alan memberikan benda itu padanya. Tidak mungkin Alan memberikan barang berharga semacam itu untuk orang yang sembarangan.
"Apa ini juga dia lakukan karena kakek?" memikirkan hal itu membuat Irene menjadi over thinking.
***
__ADS_1
Irene pergi ke mall sendirian. Ia berkeliling di lantai 5 yang merupakan pusat busana dan barang-barang lain dengan brand ternama. Ia memilih masuk ke sebuah toko yang menjual baju-baju hangat.
Alan mengajaknya untuk pergi ke Swiss bersama. Udara di sana sedang dingin karena musim salju. Tidak mungkin ia menggunakan pakaian yang biasa dipakai sehari-hari. Ia bisa mati membeku.
Saat baru masuk ke toko, para pegawai yang melihatnya sudah memberikan lirikan tajam seperti mengawasi seorang pencuri. Ia hanya tersenyum dengan tingkah mereka.
Irene dengan santai tetap masuk ke dalam. Ia mendekati area yang dipenuhi dengan jajaran baju khusus musim dingin dengan model yang bagus-bagus.
"Kalau mau pergi ke gunung, tidak perlu memakai jaket-jaket seperti ini. Soalnya yang ada di sini khusus untuk musim dingin," celetuk salah seorang pegawai yang mengikuti Irene.
Irene menghela napas. Ia sudah mengira jika akan ada yang menganggapnya salah masuk toko karena penampilannya. Ia berusaha untuk mengembangkan senyum.
"Aku tidak sebodoh itu untuk masuk ke sini. Kamu tenang saja, aku bisa membayar pakaian yang akan aku beli," ucapnya dengan nada lembut. Agar tidak memperpanjang urusan, ia mengambil sebuah kartu dari dalam dompetnya.
Pelayan itu langsung tertunduk melihat black card yang ditunjukkan oleh Irene kepadanya.
"Boleh aku lanjut belanja?" tanya Irene.
Pelayan itu mengangguk.
Irene memilih beberapa lembar pakaian yang sekiranya cocok untuk cuaca di Swiss. Pelayan membantu membawakan barang yang dibeli. Tampak beberapa orang pelayan yang berjaga di sana berbisik-bisik melihat salah satu rekan mereka terlihat patuh membawakan barang yang diambil wanita jelek itu.
"Oh, maaf," kata Irene saat tangannya menyentuh tangan pengunjung lain yang hendak mengambil pakaian yang ia minati juga.
Ia menoleh ke arah orang di sampingnya. Mereka saling berpandangan.
"Irene, ya?" sapa wanita itu.
"Adila?" tanya Irene memastikan. Ia sempat bertemu dengan artis cantik itu secara langsung, namun penampilannya kali ini membuatnya sedikit pangling.
Irene menyuruh pelayan itu menyimpan dahulu barang belanjaannya di kasir dan memintanya tidak perlu mengikutinya lagi. Ia ingin berbicara dengan Adila, kekasih Arvy.
"Kamu apa kabar? Lama tidak bertemu," kata Irene.
"Aku baik. Sengaja menghilang sebentar gara-gara berita waktu itu. Kamu tahu sendiri lah," kata Adila sembari memilih-milih pakaian yang mungkin menarik untuk ia beli.
"Jonathan memang sangat keterlaluan membuat berita. Syukurlah semua bisa teratasi dengan baik," ucap Irene.
__ADS_1
"Aku dengar kamu mau menikah dengan Kak Alan, ya?"
Irene terkejut ternyata berita itu sudah sampai di telinga Adila. "Kamu tahu dari siapa? Kak Arvy?"
Adila mengangguk. "Aku dengar kalian juga mau liburan ke Swiss."
Irene merasa semakin malu. Sepertinya Arvy menceritakan semua hal kepada pacarnya itu. "Arvy juga ikut dengan kami," ucapnya.
"Iya, dia bilang malas dijadikan kakaknya sebagai obat nyamuk kalian."
Irene hanya melebarkan senyum. "Kalau kalian kapan mau meresmikan hubungan? Bukannya melelahkan menjalin hubungan sembunyi-sembunyi?"
"Kan harus melewati tiga kakak tertuanya dulu baru giliran Arvy. Setelah Kak Alan menikah juga masih ada Kak Alex dan Kak Alfa."
"Memang harus sesuai antrian, ya?" Irene terkekeh.
"Kalau tradisi adat daerah sini memang begitu. Pernikahan harus menunggu anak tertua mendapatkan jodoh. Kalau dilanggar, bisa membuat saudara yang dilangkahi tidak laku seumur hidup."
"Aku malah baru tahu ada adat seperti itu?"
"Kamu kan pendatang ...."
Usai belanja, Irene dan Adila menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka. Irene mengeluarkan kartu debit tabungannya untuk membayar baju-baju yang harganya cukup lumayan. Adila berniat membayari belanjaannya namun ditolak.
Para pelayan saling berbisik-bisik melihat kedekatan Irene dengan Adila yang terkenal sebagai artis. Mereka sepertinya telah salah menilai orang.
"Dia juga punya black card di dompetnya," ucap salah seorang di antara mereka.
"Aku yakin dia orang kaya, belanjaan ratusan juga dibayar lunas dengan kartu debitnya."
"Makanya lain kali jangan pernah melihat orang dari luarnya saja. Penampilan belum tentu mencerminkan isi dompet."
"Iya, seperti kita, kan? Setiap hari dandan rapi, pakai outfit kekinian, tapi gaji cuma numpang lewat."
"Hahaha ...."
Mereka geli sendiri dengan pembahasan yang mereka lakukan. Mereka yang bekerja di sana saja tidak mampu membeli pakaian di toko mereka sendiri. Gaji mereka lebih rendah dari label harga yang tertera pada merk baju toko mereka.
__ADS_1