
Alan terbangun dari tidurnya. Sinar matahari yang masuk melalui celah tirai kamarnya menyilaukan mata. Kepalanya masih terasa sedikit pusing. Ia penasaran bagaimana semalam bisa pulang ke apartemen. Seingatnya ia sedang minum-minum bersama rekan bisnisnya sampai cukup mabuk dan tidak mengingat apapun yang terjadi semalam.
Hidungnya mengendus aroma harum makanan yang masuk ke kamarnya. Ia penasaran dengan asal bau tersebut. Ia keluar dari kamar, menoleh ke arah dapur. Ternyata Irene sudah lebih dulu terbangun dan sedang memasak sesuatu.
"Kamu masak apa?"
"Astaga!" Irene berjingkrak kaget saat Alan berbicara tepat di telinganya. "Kak! Jangan main mengagetkanku, bahaya ... aku sedang memasak!" protesnya.
"Hm, sepertinya enak." Alan melihat Irene sedang memasak nasi goreng.
Wajah Irene memerah. Seketika bayangan ciuman yang semalam terngiang di otaknya. Ia menjadi canggung bersikap seperti biasa dengan Alan.
"Semalam ... apa terjadi sesuatu?" tanya Alan.
Irene menunduk. Padahal semalam merupakan ciuman pertamanya yang spesial tapi pelakunya justru tidak mengingatnya. Ingin rasanya ia memukul kepala Alan dengan *4**** panci karena telah merenggut first kiss-nya.
"Semalam tidak ada yang terjadi. Duduklah, kita harus cepat sarapan dan pergi ke bandara."
Irene membagi nasi goreng ke dalam dua piring. Salah satunya ia berikan untuk Alan dan satunya untuk dirinya sendiri. Ia makan sembari terus menunduk, tidak berani menatap Alan. Sesekali ia melihat bibir lelaki itu, pikiran mesvm dalam otaknya mengingatkannya kembali dengan ciuman panas yang semalam.
"Aku semalam tidak berbuat gila, kan?"
Irene memperlambat kunyahan makannya. Apa yang lelaki itu lakukan semalam memang gila. Tapi, dia juga ikut gila karena merasa menikmati ciuman yang mereka lakukan. Sungguh memalukan jika Alan tahu yang sebenarnya.
"Bagaimana aku bisa pulang ke apartemen?" tanya Alan lagi.
"Sopir dari klab malam yang mengantar kita pulang. Lain kali jangan minum sampai mabuk agar tidak merepotkan orang."
"Iya, aku minta maaf. Lain kali tidak akan aku ulangi." Alan tak membantah. Semalam ia memang khilaf cukup banyak minum karena memendam kesal. Ada banyak orang yang menyukai Irene membuatnya entah mengapa jadi ingin marah tanpa sebab.
Usai menghabiskan sarapan, mandi, dan berbenah, mereka langsung meluncur ke bandara dengan mobil jemputan yang telah dipersiapkan pihak bandara. Fasilitas tersebut mereka dapatkan karena mengambil first class.
Alan terus memperhatikan tingkah Irene yang menurutnya aneh. Sejak dari apartemen hingga sampai di atas pesawat, wanita itu seakan enggan berbicara dengannya. Dia tidak akan bersuara jika bukan dia yang membuka pembicaraan. Wanita itu juga seakan tak mau menatap matanya saat berbicara. Irene seperti sedang berusaha menghindarinya.
Bahkan hingga sampai di mansion, Irene tetap berusaha menghindarinya. Ia yakin semalam pasti telah membuat kesalahan sampai Irene bersikap aneh.
"Halo, Kakek ...." Saat baru tiba, Irene langsung menghampiri kakeknya yang tengah asyik membaca di ruang tengah. Ia mencium tangan kakek dan memeluknya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan hasil kompetisinya? Siapa yang jadi juara?" tanya Kakek.
"Belum ada pengumuman resminya, Kakek. Mungkin akan diumumkan beberapa minggu lagi."
"Hasil itu urusan belakangan, yang penting kamu sudah berusaha." Kakek mengacungkan jempolnya.
"Aku mau ke atas dulu ya, Kek. Mau istirahat sebentar. Capek di perjalanan!"
"Ya, beristirahatlah!" ucap kakek.
Pandangan kakek beralih pada Alan. "Kamu kenapa? Kok seperti lesu?"
"Tidak apa-apa, Kek. Aku hanya lelah seperti Irene." Alan mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Jangan lupa kamu urusi perjanjian kerja sama tahap dua dengan pengusaha yang memakai Bahasa Persia itu. Hubungi penerjemah yang kamu rekrut itu secepatnya. Siapa itu namanya, kakek lupa."
"Alenta, Kakek."
"Ah, iya. Alenta. Kamu cepat bereskan masalah itu."
"Ya, Kakek. Akan aku urus secepatnya," jawab Alan dengan lemas.
Kakek menghentikan langkahnya yang hendak kembali ke dalam kamar. "Kenapa lagi, Kek?"
"Sebentar lagi bukankah hari ulang tahunmu?"
Alan memutar malas bola matanya. "Ya, apa kakek mau mengingatkan kalau usiaku sudah genap 30 tahun?" Ia malas mengungkit tentang umur. Memasuki kepala tiga ia merasa sudah tua.
"Kamu juga perlu mengadakan pesta untuk ulang tahunmu!"
Alan melebarkan mata. "Yang benar saja, Kek! Aku bukan anak-anak lagi? Ah, sumpah! Apa Kakek ingin membuatku malu dengan mengadakan ulang tahun di usiaku yang sudah setua ini? Aku rasa Ares juga tidak akan mau kalau disuruh membuat ulang tahun!" Ia sangat menentang ide aneh kakeknya.
"Kalau kamu tidak mau menyiapkan pestanya sendiri, Kakek yang akan membantu menyiapkannya. Mungkin kamu akan lebih malu dengan konsep yang akan kakek buatkan. Hahaha ...."
Membiarkan kakek mengurusi pesta lebih berbahaya. Bisa-bisa dia disuruh memakai kostum Naruto atau jubah Attact on Titan di hari ulang tahunnya. Kakeknya orang yang sangat random dan suka hal-hal aneh.
"Ya sudah! Biar nanti aku juga yang memikirkannya." Terpaksa Alan menyetujuinya. Ia segera berlari pergi meninggalkan kakek sebelum disuruh melakukan hal lain lagi.
__ADS_1
Kakek Narendra masih tertawa sudah berhasil mengerjai cucunya. "Beti ...," panggil kakek.
"Iya, Tuan Besar?" Beti yang sejak tadi berdiri tak jauh dari arah kakek ikut tersenyum-senyum melihat lelaki tua itu mengerjai cucunya sendiri.
"Sebenarnya aku ingin sekali melihat Alan dan Irene menjalin hubungan yang lebih dekat. Tapi, kenapa keduanya sepertinya belum ada tanda-tanda jatuh cinta, ya? Bagaimana menurutmu?"
Beti tersenyum kaku. Ia tidak enak hati memberikan jawaban jujur. Irene memang wanita yang menyenangkan dan baik hati. Selama di rumah itu, ia bersikap sopan. Akan tetapi, jika disandingkan dengan Tuan Muda Alan, tentu saja menurut Beti, Irene bukanlah pasangan yang tepat. Baik hati saja belum cukup untuk pantas bersanding dengan seorang Alan Narendra. Setidaknya dia juga harus cantik dan cerdas.
"Saya rasa mereka masih butuh waktu untuk saling mengenal, Tuan," ucap Beti.
***
"Pagi, Irene!" Bian menyapa Irene dengan semangat. Ia memberikan sekotak susu segar kepada temannya itu. Semenjak adanya kompetisi, mereka jadi sangat jarang bertemu. Apalagi Irene harus sering membolos karena mengikuti kompetisi tersebut.
"Terima kasih, Bian." Irene langsung membuka kotak susu pemberian Bian dan meminumnya.
"Aku ada kabar untukmu," kata Bian.
"Apa?"
"Fathir mau menikah."
"Uhuk! Uhuk!" Irene langsung tersedak saat mendengar ucapan Bian sembari minum. "Apa? Si tukang onar itu mau menikah?" Irene tercengang keheranan.
"Iya. Menikah dengan anak pengusaha juga. Kabarnya karena hamil duluan," ucap Bian.
Irene hanya mangguk-mangguk. "Syukurlah! Biarkan dia sibuk mengurusi anak istrinya nanti. Artinya kita aman kan, nggak musuhan dengan dia lagi. Kira-kira harus kita beri kado apa?" Irene kembali meminum susunya dengan perasaan senang.
"Memangnya kita diundang? Kamu terlalu percaya diri."
"Hahaha ... benar juga. Kalau nanti tidak diundang, akan tetap aku kirimkan ia karangan bunga," ucap Irene.
Saat sedang asyik bercanda dengan Bian, ponsel Irene bergetar. Sebuah email masuk ke alamat fiktif milik Alenta. Ternyata Alan menghubunginya.
to: Mrs. Alenta
Selamat Pagi, Nona Alenta. Perusahaan kami hendak memperpanjang kerjasama yang pernah kita jalin sebagai penerjemah Bahasa Persia. Apakah Anda sekiranya bisa bersedia untuk meneruskan kerjasama ini?
__ADS_1
to: Mr. Alan
Selamat Pagi, Tuan Alan. Senang bisa mendapat tawaran kembali dari perusahaan Anda. Akan tetapi, sepertinya saya belum tertarik untuk bekerjasama lagi.