Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 103: Balapan


__ADS_3

"Semangat, Don!"


Alan tampak berada di belakang arena balapan sedang menyemangati jagoannya dalam lomba balapan siang itu. Doni merupakan salah satu pembalap yang ia sponsori. Alan turut membiayai pelatihan Doni sampai akhirnya lolos seleksi dan maju dalam balapan tingkat internasional di Perancis.


"Terima kasih, Kak. Kamu sudah turut datang ke sini secara langsung." Doni mengembangkan senyuman lebar. Ia sangat senang Alan mau menonton balapannya meskipun lelaki itu memiliki jadwal yang sangat sibuk.


"Tidak usah gugup, fokus dan berusaha saja sebaik mungkin. Kamu masih muda, masih banyak kesempatan menjadi juara."


"Ini debut pertamaku di luar negeri. Mudah-mudahan tidak memalukan apalagi ada Kak Alan di sini. Kayaknya bisa finish tanpa jatuh saja sudah prestasi yang bagus. Hahaha ...."


"Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya dengan lebih baik." Alan menepuk pundak Doni.


Doni menaikkan resleting baju balapnya. Ia mengenakan sarung tangan serta memasang helm di kepala sesuai trandar keamanan lomba.


"Kak, aku masuk sirkuit dulu, ya!" pamit Doni yang telah bersiap bersama pelatihnya.


"Oke. Aku akan menontonmu sampai balapan selesai."


Doni menutup kaca helmnya. Ia menyalakan mesin motor dan mengedarainya masuk menuju area sirkuit balapan.


Alan duduk di tribun penonton. Ia memandang ke arah lapangan di mana para pembalap sudah mulai bersiap dengan motornya masing-masing. Gadis-gadis cantik pembawa payung bertebaran di area balapan memayungi pembalap mereka.


Tanpa sengaja mata Alan menangkap sosok Alenta ada di sana. Ia sampai menyipitkan mata untuk memastikan bahwa wanita itu adalah Alenta. Senyuman lebarnya, rambut panjang pirangnya yang tergerai, meyakinkan Alan jika wanita itu benar-benar Alenta.


Alan bangkit dari tempatnya, berniat mendekat ke arah Alenta untuk menyapa. Namun, langkahnya terhenti saat tiba-tiba seorang lelaki merangkul pundak Alenta dengan lembut. Alenta memeluk lelaki itu dan bermanja padanya.


"Kamu yakin tidak mau ikut balapan?" tanya Hamish kepada wanita yang sedang bermanja padanya.


"Tidak. Aku mau menonton saja denganmu, Kak!" ucap Irene. Ia mengurungkan niat ikut balapan setelah mengetahui Alan berada di sana membawa pembalap dari tanah air. Ia tidak ingin Alan menyaksikan dirinya ikut dalam ajang balapan tersebut.


"Menurutmu, siapa yang kali ini akan menjadi juara?" tanya Hamish.


Irene melayangkan pandangan ke arena balap. Ia mempeehatikan setiap pembalap yang ada di sana. "Aku rasa kali ini yang akan menjadi juara George Louinzo."


"Dari tim Hayama?"

__ADS_1


Irene mengangguk. "Kalau Kakak sendiri? Siapa yang menurut Kakak akan memenangkan balapan?"


"Tentu saja Mark Zilguon," kata Hamish dengan percaya diri.


"Hahaha ... Jagoan Kakak itu sepertinya sudah tidak zamannya lagi. Tidak terjatuh di balapan saja sudah syukur, mana bisa jadi juara?" Irene mengejek jagoan Hamish. Berdasarkan catatan balapan selama tiga tahun terakhir, prestasi Mark memang terus menurun. Beberapa kali cedera akibat kecelakaan di area balap membuat pembalap itu turun performa.


"Menurutku dia lebih berpengalaman di sirkuit ini. Aku yakin kali ini dia akan menang."


Irene menyunggingkan senyum. "Kita buktikan saja nanti. Kalau Kakak kalah, traktir aku makan di restoran termahal di kota ini."


"Oke. Tapi, kalau aku yang menang, kamu harus menuruti kemauan Kakak."


Irene terdiam sejenak. Ia cukup takut juga kalau Hamish meminta hal yang macam-macam. Namun, ia sangat yakin jika pilihannya kali ini pasti akan menang. "Baiklah, aku tidak takut!" bukan Irene namanya kalau tidak nekad.


Hamish tersenyum dengan rasa percaya diri sepupunya yang sangat tinggi.


"Alenta!"


Irene terkejut saat seseorang menepuk bahunya dan memanggilnya dengan nama samaran. Alan sudah ada tepat di belakangnya. Ia sudah sangat syok bertemu Alan di saat ada Hamish di sana.


"Siapa dia? Apa kamu kenal?" tanya Hamish dengan tatapan tajamnya.


"Tapi, kenapa dia memanggilmu Alenta?"


"Nama samaran ... Jangan bilang-bilang, ya!" Irene tersenyum meringis.


"Pak Alan menonton balapan juga?" tanya Irene sembari menyunggingkan senyuman.


"Aku menjadi sponsor salah satu pembalap dari tanah air."


"Benarkah? Siapa namanya?" tanya Irene antusias.


Alan duduk di samping Irene. Melihat hal tersebut, Hamish menurunkan tangannya merangkul pinggang Irene, seolah ia ingin menegaskan agar Alan tidak macam-macam dengan sepupunya. Alan sedikit terkena mental melihat hal tersebut.


"Namanya Doni, mendapat urutan start nomor tiga dari belakang."

__ADS_1


Irene mengarahkan kembali pandangan ke arah sirkuit mencari sosok pembalap yang Alan maksud. Para pembalap baru saja melakukan pemanasan dan hampir mulai balapannya.


"Doni Januar, ya ... Kemampuannya lumayan juga," gumam Irene. Ia pernah sekali merasakan balapan dengan anak itu. Meskipun ia yang memenangkan balapan, namun ia akui kemampuan Doni cukup baik.


"Memangnya kamu sudah kenal Doni?" tanya Alan penasaran.


Irene sampai lupa kalau Alan tidak tahu siapa dirinya. "Ah, aku hanya menebak saja. Dari perawakannya kelihatan bisa cukup berprestasi di kancah internasional," kilah Irene.


"Aku juga berharap begitu. Ini merupakan debut pertamanya di level internasional."


Deru suara knalpot mulai menderu. Setiap pembalap sudah berada pada tempat start masing-masing. Perhatian Hamish, Irene, dan Alan langsung tertuju pada balapan.


Balapan baru dimulai, namun lima pembalap di row start terdepan sudah saling bersaing ketat mengerahkan kemampuan mereka. Balapan yang sengit membuat penonton seolah sesak bernapas saking tegangnya.


Ketiga orang yang ikut menonton di tribun itu juga hanya fokus mengamati jalannya pertandingan. Sesekali Hamish berseru saat pembalap jagoannya memimpin di depan. Ketika jagoan Irene ada di depan, giliran Irene yang berseru bahagia.


Alan tidak terlalu berharap pada Doni, namun ia senang pembalap yang disponsorinya itu mampu menempati urutan ke 12 dari 21 pembalap yang ikut. Ia berharap Doni mampu mempertahankan posisinya.


Sesekali pandangan Alan melirik ke arah Irene. Di matanya, wanita itu merupakan Alenta. Namun, sifatnya mengingatkan ia kepada Irene. Hal yang tidak membuatnya nyaman, ia seolah di sana sebagai obat nyamuk. Padahal ia berharap bisa berbicara banyak tentang balapan bersama Alenta.


"Alenta, aku pergi dulu," pamit Alan yang merasa kehadirannya di sana hanya mengganggu.


"Oh, iya, Pak. Hati-hati."


Alenta tidak terlalu peduli dengan kepergian Alan. Ia tetap memfokuskan pandangan pada balapan yang semakin seru.


"Yeay ... Jagoanku menang .... George Louinzo, I love you ... Thank you ... Muah! Muah!" Irene berjingkrak kegirangan saat jagoannya akhirnya bisa finish pertama.


Hamish hanya bisa terdiam melihat tingkah Irene. Jagoannya sendiri, Mark Zilguon, hanya menjadi juara kedua. Ia menerima diejek oleh Irene.


"Hahaha ... Louinzo juga kan juaranya, Kak? Apa aku bilang!" ucap Irene dengan sombongnya.


"Ya ya ya ... Kebetulan saja tebakanmu menang. Kalau tadi saat dibelokan Mark tidak terlalu lebar mengambil jarak, pasti dia yang akan juara."


"Tepati janji untuk mentraktirku nanti! Awas kalau tidak jadi!"

__ADS_1


"Kalau begitu, kita pergi sekarang saja. Aku akan menepati janjiku sebelum pergi ke pertemuan."


"Tuh kan ... Kakak tujuannya mengajak liburan atau apa? Kayaknya di sini terus menerus bekerja. Bagaimana kalau aku ikut Kakak? Aku juga sesekali ingin melihat rekan kerja Kakak."


__ADS_2