
Irene masih memikirkan pihak yang berusaha mencari identitasnya. Ia sudah berusaha tidak menonjolkan diri dengan identitas asli agar tidak ada orang yang memburunya.
"Apa ini ada hubungannya dengan keluargaku?" gumamnya.
Irene sudah tahu kalau kedua orang tuanya meninggal bukan karena kecelakaan murni. Bahkan, neneknya sampai menyembunyikan anak perempuannya di luar negeri agar tidak menjadi korban seperti ayah Irene dan ayah Hamish.
"Tapi, apa mungkin mereka masih mengincar harta keluarga Abraham? Perusahaan ayah juga sudah tidak ada."
Irene menyusuri jalanan sembari pikirannya terus menerawang pada setiap kemungkinan. Lebih aneh lagi jika peretas hanya sekedar orang iseng. Dia bukanlah orang yang menarik untuk dikulik.
Tin! Tin!
Suara klakson mengagetkan Irene. Lebih mengejutkan saat Irene menoleh ternyata Alan yang menghentikan mobil di dekatnya.
"Irene, kamu kok ada di sini? Bukannya kamu masih ada jam kuliah?" tanya Alan heran.
Irene hanya menggaruk kepalanya. Ia tidak tahu harus memberikan alasan apa berkeliaran di jalanan pada jam kuliah.
"Cepat masuk!" pinta Alan.
Irene menuruti kemauan lelaki itu. Ia masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya.
"Kak Alan sendiri kenapa ada di sini?" tanya Irene.
"Aku mau belanja. Kamu mau ikut?"
"Boleh," kata Irene.
Alan menyunggingkan senyum. Sebenarnya ia tidak ada agenda belanja, melainkan urusan pekerjaan untuk melakukan pengecekan ke mall baru yang berada di bawah naungan perusahaannya.
__ADS_1
"Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Alan.
Tidak biasanya Irene terlihat muram. Wanita itu seperti tengah banyak pikiran. Namun, Irene mengelak dan mengatakan baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di mall. Alan memberikan kunci mobilnya kepada petugas parkir. Karyawan yang menyadari kehadirannya berjajar memberi hormat.
Irene terkagum-kagum dengan desain mall yang baru pertama kali ia datangi. Bangunannya tampak besar dan megah.
Alan mengajak Irene ke lantai 5 dimana terdapat pusat barang-barang bermerk. Ia membisikkan sesuatu kepada salah satu staff yang langsung direspon dengan mengosongkan lantai 5 khusus untuk Alan dan Irene.
"Kenapa orang-orang pergi semua?" tanya Irene heran.
Alan tersenyum. "Aku sengaja supaya kamu lebih leluasa untuk berbelanja," katanya.
Irene tercengang mendengar jawaban Alan. "Memangnya Kak Alan yang punya mall ini? Kok bisa suruh-suruh orang?" tanyanya.
Alan merasa bangga pada dirinya melihat ekspresi yang Irene perlihatkan. Wanita itu pasti tidak akan percaya kalau perusahaan miliknya yang hampir bangkrut dan memiliki banyak musuh itu bisa semakin berkembang, bahkan bisa mendirikan sebuah mall.
"Jangan bengong begitu, ayo beli semua yang kamu mau selagi aku berbaik hati," kata Alan.
"Benar ya, Kak. Hari ini belanna tanpa batas?" tanya Irene memastikan.
Alan mengangguk.
"Asyik!" Irene bersorak senang.
Ia langsung berjalan melihat-lihat setiap toko di mall yang menurutnya menarik. Kesempatan belanja sepuasnya dan gratis tidak bisa ia sia-siakan.
Irene mengambil baju-baju yang diinginkannya. Ia juga membeli beberapa sepatu dan tas. Tak lupa Irene membeli aneka jajanan yang dijual di sana.
__ADS_1
"Leker yang dijual di mall menurutku yang terenak!"
Irene antusias menunggu leker pesanannya dibuatkan oleh pegawai di stan makanan.
"Kamu masih belum kenyang?" tanya Alan heran. Sejak tadi ia lihat Irene terus makan di sela-sela kegiatan belanja. Bahkan kedua tangan Alan telah penuh dengan tas belanja Irene.
"Ini masih sekedar camilan, Kak. Mana bisa kenyang? Tadi aku lihat ada restoran shabu-shabu. Nanti ke sana juga, ya!" kata Irene penuh semangat.
Alan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Irene. Namun, ia juga senang wanita itu sepertinya sudah kembali ceria tidak seperti tadi.
"Oh, kita bertemu lagi!"
Irene kembali bertemu dengan Sovia. Wanita itu tengah bersama Jonathan, penyanyi yang ia lihat sebelumnya tampil di mall lain.
"Alan, kamu sedang belanja?" tanya Sovia saat menyadari keberadaan Alan tengah menenteng banyak barang. "Kamu benar-benar tidak punya hati ya, tidak lihat Alan kesusahan bawa barang? Kenapa tidak kamu bantu?" Sovia mengomel.
"Ini kemauan Kak Alan sendiri. Dia memang tidak mau aku bantu," kilah Irene.
"Sudahlah, kita kembali ke mobil saja," ucap Alan. Ia benar-benar tidak mau berurusan dengan Sovia. Alan mengajak Irene pergi melewati Sovia dan Jonathan.
"Alan!" kesal Sovia. Ia merasa Alan sudah tidak peduli lagi padanya.
"Sovia, sudahlah! Kamu harus menerima realita kalau Alan tidak mau lagi denganmu," kata Jonathan.
"Kamu tidak usah berkomentar apa-apa. Ini urusanku!" bentak Sovia.
"Hah! Kamu gila? Aku ini tunanganmu, apa tidak boleh menyadarkanmu supaya tidak berharap lagi pada Alan? Kita akan menikah, Sovia!"
Jonathan merupakan lelaki yang dijodohkan oleh paman Sovia. Tujuan perjodohannya jelas terutama demi kepentingan bisnis. Apalagi Jonathan dan Sovia sama-sama berkecimpung di dunia keartisan dan akan mudah untuk membawa perusahaan keluarga lebih dikenal publik.
__ADS_1