Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 169


__ADS_3

Irene tengah bersiap-siap pergi ke kampus. Ia mengecek peralatan kuliahnya sebelum pergi. Sebuah panggilan masuk datang dari Ron.


"Kenapa pagi-pagi begini dia meneleponku?" gumam Irene.


Ia segera mengangkat telepon itu. "Halo, Ron, kenapa?" tanyanya.


"Nona, saya sudah mendapatkan informasi tentang siapa pelaku kecelakaan di balapan waktu itu."


Irene terkejut mendengarnya. Setelah satu minggu berlalu, akhirnya mulai ada titik terang. "Siapa itu, Ron?" tanyanya penasaran.


"Pak Alex, Nona."


"Apa!?" Irene sampai menggunakan nada tinggi saking tidak percaya. Mana bisa Alex melakukan sesuatu yang sangat berbahaya dan bisa membuat seseorang kehilangan nyawa.


"Pak Alex turut serta dalam event balapan itu, Nona. Ia telah menyuruh orang untuk melakukan sabotase terhadap kendaraan yang Pak Alan pakai. Saya mengetahuinya dari percakapan ponsel pelaku yang berhasil saya retas. Memang target utamanya Pak Alan."


Irene masih belum bisa mempercayainya. Alex di matanya masih seorang lelaki yang baik. Ia adalah orang pertama yang menyambut kehadirannya dengan tulus.

__ADS_1


Irene terduduk lemas di ranjang memikirkan perbuatan Alex yang sudah di luar batas. Memang kakek cukup menyebalkan karena membedakan Alex dengan cucu lainnya. Namun, tidak seharusnya Alex berbuat sejauh itu. Apalagi keempat saudaranya menyayanginya, begitu pula dengan Alan.


"Anda harus berhati-hati, Nona. Mungkin Pak Alex kini sudah berubah menjadi orang yang berbahaya," kata Ron mengingatkan.


Irene menutup teleponnya dengan lemas. Ia mengambil tasnya dan bersiap turun ke bawah. Di ruang makan sudah berkumpul kakek, Alan, dan Ares. Alfa dan Arvy seperti biasa sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Makan, Ren. Aku buatkan roti panggang untukmu," kata Alan sembari menyodorkan sepiring roti untuknya.


"Terima kasih, Kak," jawab Irene.


Gigitan pertama yang Irene lakukan membuatnya sampai melebarkan mata. Ia mengunyah roti buatan Alan sembari menikmati rasanya. Ia menoleh ke arah Alan dengan tatapan heran.


"Iya, Kak. Enak," jawab Irene. Ia heran Alan bisa memberikan rasa roti panggang yang pas dan sesuai seleranya. Sudah lama ia tidak sarapan roti panggang dengan rasa seenak itu.


"Hari ini Irene berangkat dengan siapa?" tanya Kakek.


"Dengan aku, Kek," sahut Ares.

__ADS_1


"Oh, bareng Ares, ya? Kalau begitu, Alan nanti kamu antar kakek ke kantor! Kamu saja yang menyetir!" perintah Kakek.


"Baik, Kek," jawab Alan.


"Ares, kamu masih aktif di klab basket?" tanya Kakek.


Ares melirik ke arah Irene. Ia berharap Irene bisa membelanya kali ini. Ia memang masih aktif menekuni hobinya itu di kampus. "Masih, Kek. Tapi sudah sangat jarang," ucapnya.


"Mulai hari ini kamu keluar saja dari klab basket!" perintah kakek dengan santainya sembari menikmati sarapannya.


Ares menelan ludah. Ia tidak bisa melepaskan salah satu hobi kesukaannya. "Aku bisa membagi waktuku dengan baik, Kek ...." Ia berusaha mempertahankan kegemarannya.


"Tidak ada orang yang bisa membagi waktunya, Ares. Orang sukses adalah orang yang fokus. Contohlah kakakmu, dia bisa sehebat sekarang karena berani melepaskan minatnya di dunia perkokian."


Alan meskipun dipuji tidak terlalu menyukai perkataan kakek. Sebenarnya sesekali ia merindukan masa-masa ketika ia masih menjadi seorang koki dan bekerja membesarkan restorannya sendiri dengan senang hati. Menjadi presiden direktur di Narendra Group sangat menyita waktunya.


"Kamu sudah dewasa, Ares. Mulailah untuk fokus pada bisnis keluarga. Kamu harus membantu Alan. Cukup sudah kakek kehilangan Arvy dan Alfa."

__ADS_1


"Iya, Kek," jawab Ares setengah hati.


__ADS_2