
"Irene ... Jawabanmu apa?" tanya Alex menunggu balasan dari wanita yang baru saja ia berikan pernyataan cinta.
Irene langsung gugup. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang Alex lakukan. Ia sama sekali tidak menyangka lelaki itu akan menyatakan perasaan di sana.
Alex melakukan hal tersebut di momen yang sangat sulit bagi Irene. Ia bahkan belum mencicipi hidangan utama di sana. Kalau menolak dan tetap bertahan di sana, ia akan menjadi wanita paling tidak tahu diri yang tetap mengharapkan traktiran. Kalau diterima ... Rasanya ia belum punya perasaan sedalam itu kepada Alex.
"Maaf ya, Kak. Aku tidak bisa menerima cinta Kak Alex," tolak Irene.
"Kenapa?" tanya Alex penasaran.
"Nggak tahu! Aku malah takut kalau membahas soal cinta-cintaan. Aku pulang sekarang ya, Kak!"
Secepat kilat Irene langsung kabur meninggalkan Alex. Ia sungguh tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Alex lelaki yang baik hati sejak pertemuan pertamanya. Ia juga mengagumi sifat kedewasaan dan tanggung jawab yang dimilikinya. Akan tetapi, hatinya tak bergetar seperti saat ia bersama Alan.
Irene langsung pulang begitu saja ke rumah dengan taksi. Ia seperti wanita yang baru saja kabur dari acara pernikahannya sendiri. Mendapat pernyataan cinta malah membuatnya takut.
Ia masih tidak habis pikir kenapa Alex bisa tiba-tiba membuat makan malam yang romantis serta melamarnya. Ia sadar diri dengan penampilannya yang sekarang, rasanya ada banyak wanita di luaran sana yang lebih cantik dari dirinya.
Irene melirik ke arah dinding, memperhatikan jam yang tertempel di sana. Sudah hampir pukul delapan malam. Ia bergegas mengambil laptop untuk menepati janjinya mengajari Alan berbahasa Persia. Saat ia terhubung dengan aplikasi, ternyata Alan sudah lebih dulu online. Lelaki itu bahkan yang berinisiatif menghubunginya terlebih dahulu.
"Halo ...." terdengar suara Alan dari seberang lewat aplikasi.
"Halo, Pak. Selamat malam," balas Irene.
"Ah, aku kira kamu akan telat online, Miss Alenta."
"Kenapa, Pak? Anda sangat menantikan saya? Kangen, ya?" goda Alenta.
"Hahaha ... Apa kamu berharap aku merindukanmu?"
"Tidak, Pak. Terima kasih."
__ADS_1
"Oke, kita mulai saja sesi pembelajaran pertama kita, Alenta. Kalau terlalu banyak basa-basi, nanti tidak ada pelajaran yang aku peroleh." Alan berbicara seperti seorang pengusaha yang tidak mau rugi.
Pembelajaran Bahasa Persia dimulai. Baik Irene maupun Alan keduanya sama-sama serius belajar. Mereka benar-benar fokus melakukan apa yang sudah menjadi komitmen awal. Meskipun kesusahan, Alan tetap berusaha mengikuti pembelajaran yang Irene berikan.
Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu hingga satu jam telah berakhir. Pembelajaran diakhiri. Irene meregangkan tangannya yang lumayan terasa pegal setelah satu jam berada di depan monitor.
Perutnya berbunyi. Ia sampai lupa kalau belum makan malam. Akibat acara makan dengan Alex gagal, ia sama sekali belum makan apa-apa setelah pulang.
Urusan perut menjadi hal yang penting untuk Irene yang suka makan. Wanita itu langsung turun menggunakan lift ke lantai dasar menuju dapur. Jam sembilan malam pelayan sudah kembali ke belakang. Ia terpaksa mencari makanan sendiri di dapur.
Makanan paling enak disantap tentu saja mie inatan. Untung saja persediaan di sana masih ada banyak. Irene cukup mendidihkan air untuk memasak mie instan tersebut. Hanya butuh waktu sekitar lima menit mie instan telah siap disajikan.
Saat suapan pertama masuk ke dalam mulut, Irene merasakan suatu kelegaan. Makanan itu terasa begitu nikmat untuk dirinya yang kelaparan.
"Irene."
Saat sedang asyik menikmati makanannya, Alex datang menghampiri. Ia kembali merasa sungkan berhadapan dengan lelaki yang ia tinggal kabur itu. Rasanya ia masih belum bisa berbicara normal dengan lelaki yang baru saja mengatakan cintanya.
"Aku ... Makan mie, Kak. Tapi ini juga sudah selesai." Irene memasukkan suapan terakhirnya dan buru-buru menuju washtafel untuk mencuci peralatan makannya.
Saat sudah selesai dan berbalik badan, Alex sudah berdiri di sana. Ia semakin kikuk. "Aku masuk kamar dulu ya, Kak," ucapnya.
Alex menahan tangan Irene. "Kenapa kamu terkesan menghindariku? Apa salah kalau aku menyukaimu?" tanyanya.
Irene semakin gemetar. Ia tidak tshu bagaimana harus bersikap kepada Alex. Lelaki itu sangat dihormatinya, namun ia belum ada rasa kepadanya. "Maaf Kak, aku sangat tidak nyaman dengan pembahasan ini." Ia berusaha melepaskan cekalan tangan Alex.
"Aku sungguh-sungguh dengan perasaanku," katanya.
"Aku tidak tahu, Kak. Aku benar-benar tidak bisa menerima perasaan Kakak." Kali ini Irene melepaskan cekalan tangan Alex dengan lebih kasar hingga terlepas. Ia segera berlari pergi ke arah lift meninggalkan Alex.
Tanpa disangka, ternyata Alan melihat semuanya. Entah mengapa dadanya terasa panas seperti ada yang membakar. Ia semakin tidak suka dengan kelakuan Alex yang semakin terlihat berusaha memiliki Irene dengan sikap lembut namun menghanyutkan.
__ADS_1
"Bisa kamu berhenti mengganggu Irene?" tanya Alan yang membuat Alex terkejut.
"Kak Alan lihat?" Alex jadi kikuk dipergoki kakaknya sendiri.
"Ya! Berhenti bersikap seperti itu kepada Irene!" pinta Alan tegas.
Alex tidak habis pikir sang kakak bisa berkata seperti itu kepadanya, seolah menuduh ia hanya ingin mempermainkan Irene. "Apa aku tidak boleh menyukai Irene?" tanyanya dengan menahan emosi. Tatapan matanya tajam beradu dengan mata Alan. "Memangnya kenapa kalau aku berusaha mendapatkan wanita yang aku sukai?" lanjut Alex.
"Jangan mempermainkan Irene dengan perasaan palsumu!" Alan benar-benar mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.
Alex hanya bisa tersenyum getir. "Mungkin memang hanya kamu yang punya perasaan tulus kepada orang lain." Nad bicara Alex menunjukkan kekecewaan.
Alan terdiam. Ia tidak bisa menimpali perkataan Alex. Akhirnya Alex pergi dari sana membawa perasaan kesal.
***
Irene tercengang saat keluar rumah mendapati sebuah mobil mewah berwarna merah yang dihiasi pita raksasa seperti sebuah hadiah.
"Mobil baru siapa ini?" tanya Irene.
"Tentu saja mobil yang baru aku beli." Ares melipat tangannya sembari bersandar di tepi mobil. Kacamata hitam yang dikenakannya semakin menambah kesan keren lelaki muda tersebut. Ia sedang menyombongkan barang pertama yang dibelinya dengan hasil kerja keras sendiri. Hasil magang di perusahaan berhasil dikumpulkan untuk membeli mobil tersebut.
"Ares ... Ayo kita ke kampus dengan mobil barumu!" ajak Irene antusias.
"Heh! Sembarangan! Ini kado untuk Kak Alan dariku!"
Lagi-lagi Irene lupa kalau hari merupakan hari ulang tahun Alan. Padahal Ares saja sudah mempersiapkan hadiah semewah itu, sedangkan dirinya tidak memiliki apa-apa untuk dibelikan.
"Jangan bilang kamu lupa ya ...." Ares mengerutkan keningnya.
Irene hanya nyengir kuda karena memang ia lupa.
__ADS_1
"Nanti malam akan ada kejutan di rumah ini. Kalau mau mempersiapkan kado, sebaiknya secepat mungkin kamu pikirkan mau memberikan apa kepada Kak Alan."