
Sovia mengepalkan tangannya. Sangat jelas teegambar di raut wajahnya yang tidak senang melihat Irene digandeng oleh Merlin berdiri di tengah panggung dan disambut tepukan meriah para pengunjung. Seharusnya spot utama itu miliknya. Dia yang semestinya menjadi primadona malam itu.
Perasaannya sangat kesal. Ia heran kenapa orang-orang menyanjung penampilan wanita berkulit gosong itu. Tidak ada menarik-menariknya jika dibandingkan dengan dirinya. Segala hal ia lakukan untuk menjatuhkan si jelek itu selalu saja gagal.
"Terima kasih ya, berkat kamu aku jadi mendapat banyak pujian malam ini," ledek Irene saat mereka telah kembali masuk ke dalam ruang ganti. Ia sangat menanti-nantikan momen dimana Sovia akan menyesali perbuatannya sendiri. Irene bukan tipe orang yang akan menyerah ketika ada yang berusaha menjatuhkannya. Kalau bisa, ia akan melakukan hal yang mampu membalikkan keadaan seperti saat ini.
Irene merasa sangat puas melihat kemarahan yang ditunjukkan oleh wajah Sovia kepadanya. "Bagaimana rasanya tersingkir dari tempat yang seharusnya kamu dapatkan? Apakah menyenangkan?"
Sovia tertawa kecil. Ia tidak menyangka si jelek itu akan berani mengolok-olok dirinya. "Sepertinya kamu tidak sebodoh yang aku bayangkan," ucapnya.
Selama ini Sovia mengira jika Irene merupakan wanita kampungan yang mudah untuk diserang secara mental. Beberapa kali bertemu dengannya, ia semakin paham bahwa seharusnya ia lebih hati-hati untuk menghadapi wanita itu. Irene sangat cerdik dan berani. Meskipun dari penampilannya begitu menipu, terlihat tidak berdaya, ia mampu membalas perbuatan orang lain yang tak disukainya.
"Kamu menganggapku bodoh?"
"Ya ... kemarin aku pikir kamu bodoh. Sekarang, aku tahu kalau kamu orang yang licik dan manipulatif."
"Hahaha ... apa kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?"
"Jangan merasa senang. Orang tidak selamanya menang. Aku tidak akan membuat hidupmu tenang."
Irene hanya tersenyum mendengar ancaman dari Sovia. Sejak awal pertemuan wanita itu memang sudah menaruh rasa iri kepadanya.
"Irene ...."
"Iya, Kak." Irene menjawab panggilan dari Alfa yang akan mengajaknya pulang. Sebelum pergi, ia sempat memberikan senyuman yang mengejek ke arah Sovia.
__ADS_1
Sovia semakin merasa kesal. Ia tidak terima dikalahkan oleh wanita yang sama sekali tidak pantas bersaing dengannya. Irene benar-benar harus ia beri pelajaran supaya tidak bisa lagi mengangkat wajah ketika berhadapan dengannya.
"Sovia, ada Alan di luar," ucap salah seorang teman Sovia.
Raut wajah Sovia kembali ceria. Ia sangat senang Alan menyusul dirinya ke sana. Dengan semangat Sovia berjalan cepat menghampiri Alan yang telah menunggunya di depan.
"Sayang ...." Sovia langsung memberikan pelukan saat melihat lelaki tampan bertubuh tinggi itu. Dilihat dari berbagai sudut, Alan tetap terlihat ganteng.
"Acaranya sudah selesai?" tanya Alan.
"Sudah ... makasih ya, mau datang menjemputku padahal kamu sibuk." Sovia menggandeng mesra lengan Alan seraya menyandarkan kepalanya.
"Aku dengar Alfa juga datang bersama Irene. Apa mereka masih ada di sini?"
Raut wajah Sovia berubah cemberut. Ia tidak suka Alan membahas tentang Irene. "Sepertinya tapi mereka sudah pulang. Kita juga pulang sekarang, ya!" ajak Sovia seraya mengalihkan pembicaraan.
"Kapan kita ada waktu liburan berdua? Kenapa kita malah jadi saling sibuk kerja seperti ini? Aku kangen masa-masa kita yang dulu."
"Aku sudah menawarimu liburan waktu itu, tapi katanya kamu tidak bisa karena jadwal padat." Alan tetap berusaha fokus pada kemudi meskipun keberadaan Sovia cukup menyulitkannya berkonsentrasi.
"Kamu juga lebih mementingkan wanita jelek itu! Padahal aku sengaja mengosongkan jadwal agar bisa bersamamu, tapi kamu malah memilih bersamanya." Sovia memanyunkan bibirnya kesal. "Semua gara-gara dia."
"Kami tidak bilang dulu padaku. Aku sudah lebih dulu menyetujui untuk menjaga Irene."
"Iya, iya ... kamu tidak akan mau disalahkan. Aku memang tidak pernah menjadi prioritas untukmu."
__ADS_1
Alan sedikit terganggu dengan protes yang Sovia utarakan. "Kalau kamu bukan prioritas, tidak mungkin malam ini aku datang menjemputmu. Setiap kamu minta uang, selalu aku berikan. Apa hal itu masih kurang menjadi bukti kalau kamu orang yang paling penting?"
Apa yang diucapkan Alan ada benarnya. Alan memang lelaki yang royal, berapapun Sovia minta pasti akan langsung dikirim tanpa harus Alan tahu untuk apa saja uang yang Sovia minta.
"Maafkan aku, Sayang. Mungkin aku memang hanya cemburu dengan keberadaan Irene di rumahmu."
Alan menyunggingkan senyum. "Apa kamu benar-benar cemburu padanya?" Tidak bisa dipercaya jika seorang Sovia bisa merasa kalah dengan wanita biasa seperti Irene.
"Jangan meremehkan penampilannya, Alan. Aku yakin ada yang dia sembunyikan. Kalau dipikir-pikir pakai logika, tidak mungkin wanita seperti dia bisa masuk ke dalam keluargamu jika tidak melakukan sesuatu."
Alan mengernyitkan dahi. "Sesuatu? Memangnya apa yang sudah dia lakukan?" Menurut Alan, Irene yang ada di rumahnya biasa-biasa saja. Dia seorang wanita dengan penampilan di bawah standar, namun memang memiliki rasa percaya diri yang membuatnya terlihat menarik.
"Ya ... aku juga tidak tahu. Mungkin saja dia memakai cara mistis, melakukan jampi-jampi atau hipnotis agar kalian bisa menerimanya."
"Hahaha ... kamu ada-ada saja. Mana ada hal semacam itu terjadi di zaman sekarang." Alan hanya menertawakan perkataan Sovia yang sangat tidak masuk akal.
"Masih banyak hal seperti itu terjadi di negara ini. Orang pakai susuk juga banyak." Sovia berusaha mempertahankan pendapatnya.
"Kalau dia memakai susuk, mungkin kami berlima sudah berebutan untuk memilikinya. Namun, kami berlima justru saling berebut agar tidak terpilih menjadi pasangan Irene."
Sovia mangguk-mangguk. "Masuk akal. Aku takut nanti kamu yang disuruh menjadi pendampingnya. Secara, kamu anak tertua, anak pertama keluarga Narendra. Jika memang tujuannya perjodohan, biasanya yang diajukan adalah anak pertama. Lalu, aku bagaimana kalau sampai kampai kamu disuruh menikah dengannya?"
"Hahaha ...." Alan memijit keningnya. Membayangkannya saja ia tidak sanggup jika harus bersanding dengan Irene. Ia hanya menurut apa yang menjadi permintaan kakeknya agar bisnis yang baru saja mulai berbuah manis di tangannya, tidak dihancurkan oleh sang kakek. Namun, ia juga keberatan kalau harus dipaksa menikahi Irene.
"Kakekku bilang, ini hanya perjodohan. Jika di akhirnya tidak ada yang cocok, maka tidak akan dipaksakan," ucap Alan meskipun dirinya sendiri tidak begitu yakin dengan ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, Sayang. Aku benar-benar takut kehilanganmu." Sovia semakin mengeratkan pelukannya.
Mobil yang mereka naiki terus melaju melintasi jalanan ibu kota yang padat namun tidak sampai macet. Lampu-lampu jalan yang menyala menambah kesan indah suasana kota. Seakan mereka sedang melewati perjalanan romantis yang biasa ada di film-film percintaan.