Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 89: Pengakuan Alan


__ADS_3

"Apa ini prank?" Irene benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja Dewa katakan kepadanya. Ia melihat ke sekitar memastikan jika ada kamera yang sedang mengarah kepada mereka.


Tidak mungkin seorang yang paling bersinar di fakultasnya, ketua BEM Fakultas, tiba-tiba menyatakan cinta kepadanya. Irene merasa tidak pernah dekat dengan Dewa. Ia hanya sekedar tahu lelaki yang cukup dikagumi oleh mahasiswi fakultasnya. Ia hanya beberapa kali sempat berpapasan, tapi untuk berbicara berdua bahkan baru kali kini.


"Aku mau masuk kelas, sebentar lagi kuliahnya mulai." Irene sengaja mencari alasan agar bisa pergi dari sana.


Dewa tak membiarkannya pergi. Tangan Irene ditahan olehnya. "Jadwal kuliah Ibu Rengganis hari ini libur. Beliau ada urusan."


"Hah! Mau bercanda, Kak? Jangan mengada-ada." Irene tidak percaya dengan informasi dari Dewa.


"Aku serius. Makanya aku ingin mengajakmu bicara berdua tanpa mengganggu waktumu."


Irene bertatapan dengan Dewa. Baginya, apa yang lelaki itu lakukan sangat aneh dan tidak bisa diterima nalar. "Terserah Kakak, lah! Aku tidak tertarik dengan Kakak. Sudah, ya ... Aku mau pulang kalau kuliah hari ini libur."


Dewa tetap menahan tangan Irene. "Aku serius. Kalau kamu butuh kita saling mengenal dulu, ayo lakukan! Aku sungguh tertarik kepadamu sejak lama tapi baru berani mengatakan ini."


Irene tetap tidak bisa percaya dengan apa yang lelaki itu katakan. "Ada banyak mahasiswi di sini kenapa harus aku?" Ia menggeleng-gelengkan kepala.


"Karena aku hanya tertarik kepadamu."


Irene menghela napas. "Terserah Kakak mau serius atau hanya prank, aku tidak tertarik untuk berkenalan dengan Kakak, apalagi sampai pacaran. Aku rasa jawabanku sudah jelas, ya!" ia berkata dengan tegas.


"Apa seperti ini cara yang sopan untuk menolak seseorang? Kamu bahkan belum memberiku kesempatan untuk mengenalkan diri kepadamu." Dewa tetap teguh pada pendiriannya. Ia tidak mau melepaskan tangan Irene.


"Siapa ini yang berani mengganggu Irene?"


Irene membulatkan mata saat Alan tiba-tiba datang di sana. Dengan kasar Alan melepaskan tangan Dewa dari Irene. Ia menarik Irene ke sisinya, memeluk posesif pinggang wanita itu. Tatapan matanya jelas menggambarkan ketidaksukaan dirinya terhadap lelaki yang baru saja menyatakan cinta kepada Irene.


"Siapa kamu?" tanya Dewa. Ia kesal seseorang telah mengganggunya saat ingin berbicara serius dengan Irene.


"Masih berani kamu bertanya aku siapa? Aku pacarnya Irene. Lebih tepatnya calon suami!" Alan mengatakan hal itu dengan tegas di hadapan Dewa.

__ADS_1


Irene sampai membulatkan mata dengan pengakuan Alan. Bisa-bisanya lelaki itu mengarang sebagai pacar dan calon suami.


"Oh, iya? Benarkah?" Dewa tidak percaya dengan apa yang Alan katakan. Ia yakin Irene belum memiliki pacar dari informasi yang dia dapatkan dari teman-temannya.


"Perlu aku buktikan? Apa kami harus berciuman di hadapanmu?" tantang Alan.


Irene semakin tertegun dengan kegilaan tingkah Alan.


Dewa mengepalkan tangannya. Ia cemburu melihat wanita yang disukainya dipeluk oleh lelaki yang kelihatan lebih tua darinya. Dilihat dari penampilannya, lelaki yang menjadi saingannya seorang pekerja kantoran.


Dengan kesal Dewa hanya bisa berbalik pergi meninggalkan Irene. Ia bertekad tidak akan menyerah untuk melakukan pendekatan dengan Irene.


Setelah Dewa pergi, Irene menjauh dari Alan. Keberadaan tangan Alan di pinggangnya sangat membuat ia tidak nyaman.


"Kamu populer juga ya, sampai ada yang nembak di kampus. Dia juga ganteng," ucap Alan.


"Hah! Paling juga hanya main-main. Mana ada yang mau serius menyukai orang jelek seperti aku." Irene hanya tertawa dengan perkataan Alan.


Alan memiliki pemikiran yang berbeda. Irene memang punya sisi menarik yang membuat lawan jenis tertarik. Ia bahkan merasa kesal melihat langsung ada yang menyatakan cinta kepada Irene. "Bagaimana kalau ada yang sungguh-sungguh menyukaimu?" tanyanya.


Sebagai sesama lelaki, ia merasa lelaki tadi memang menyukai Irene. Ia tahu tipe lelaki yang hanya main-main dan serius.


"Oh, iya. Kenapa Kak Alan ada di kampusku?"


"Apa kamu berharap aku datang untuk menjemputmu pulang?" tanya Alan balik.


Irene menyunggingkan senyum. "Hati ini aku giliran pulang dengan Ares, Kakak juga pasti sudah tahu."


"Aku memang tidak datang untukmu. Ada urusan dengan salah satu dosen di sini. Kebetulan saja lewat dan mendengar ada yang sedang mendapat pernyataan cinta." Alan masih tidak menyangka dirinya memergoki Irene ditembak lelaki lain.


"Pak Alan!"

__ADS_1


Seseorang berseru dari jarak sepuluh meter. Sepertinya itu orang yang Alan ingin temui.


Alan melambaikan tangan kepada orang tersebut. "Irene, aku pergi dulu," pamit Alan.


Setelah Alan pergi, Irene mengambil ponselnya untuk mengecek kelanjutan perkuliahan hari ini. Ternyata benar, di grup perkuliahan sudah ramai dengan chat dari teman-temanya yang bahagia karena perkuliahan hari ini ditiadakan.


Ia memutuskan untuk langsung pulang. Sebelumnya, ia menghubungi Ares agar tidak perlu menunggunya. Irene ingin pulang sendiri hati ini.


Bukan tanpa alasan ia ingi pergi sendiri. Irene telah janjian untuk bertemu dengan Ron. Ia menggunakan toilet umum untuk mengganti dandanannya menjadi Irene yang biasa.


Ron sudah menunggunya di sebuah hotel yang tak jauh dari pusat kota. Ia menemui Ron di area lobi hotel dengan dandanan yang rapi dan memawan. Siapa saja yang melihat pasti akan terpesona dengannya.


"Ada apa, Ron?" tanya Irene.


"Terima kasih Nona sudah datang. Saya membutuhkan bantuan Nona," ucap Ron dengan ekspresi wajah yang sungkan.


"Katakan saja apa yang bisa aku bantu." Irene pasti akan membantu Ron dengan sekuat tenaga. Ron juga telah banyak membantunya terutama untuk menutupi identitas aslinya dari orang yang berniat mencari tahu tentang dirinya.


"Nona kan Hyena, pandai menyanyi dan membuat lagu. Bagaimana kalau Nona membantuku membuat satu lagu saja untuk saya," pintanya malu-malu.


"Untuk apa? Kamu mau jadi penyanyi, Ron?" Irene tertawa mendengar permintaan Ron.


"Bukan untuk saya, Nona. Tapi ... Untuk Arvy Galaksi."


Irene terdiam. Bisa-bisanya sang anak buah yang biasa mengurusi klab malam sekarang ikut mengurusi artis juga. Apalagi orang itu adalah Arvy, salah satu putra keluarga Narendra.


"Nona pasti bingung kan, kenapa saya sekarang mengurusi artis?"


"Ya, tentu saja. Kamu kan biasanya mengurusi orang minum-minum alkohol."


Ron tertawa. "Saya diajak teman untuk ikut mengurusi perusahaan rekamannya. Kebetulan artis yang telah melakukan penandatanganan kontrak kali ini adalah Arvy. Nona juga pasti tahu kan, kalau Arvy sekarang mulai merambah dunia tarik suara. Saya ingin Nona bisa menyumbangkan satu lagu untuk melengkapi albumnya."

__ADS_1


"Aku tidak bisa, Ron." Irene menjawab dengan tegas.


"Nona, coba pikirkanlah kembali ...," rayu Ron.


__ADS_2