
Alan berjalan dengan langkah lunglai dari arah parkiran menuju area bangku taman. Sebelum masuk ke dalam rumah, ia ingin menghabiskan sebatang rokok dulu di luar. Bertemu dengan Sovia bukannya membuat ia merasa tenang justru semakin membuatnya stres.
"Hatchi!"
Suara bersin seseorang mengagetkan Alan sampai rokok di tangannya terjatuh. Saat ia memandang ke arah pagar di sampingnya, jantungnya juga hampir copot melihat seorang wanita tengah malam sedang duduk di sana.
"Hahaha ... kenapa? Kaget, ya?" ledek Miss A.
Irene yang merasa bosan malam itu memutuskan untuk keluar sebentar menghirup udara malam. Seharian ia harus menahan diri memakai cat pewarna kulit yang membuatnya tidak nyaman. Ia baru bisa merasa bebas saat melepas penyamarannya.
"Ngapain tengah malam di situ?" tanya Alan ketus. Kalau saja itu bukan hantu Miss A, mungkin ia sudah melepas sepatu untuk menimpuknya.
"Nungguin kamu, dong ...." Irene turun dari atas pagar. Gaun tidur panjang berwarna putih serta rambutnya yang tergerai memang membuat ia tampak seperti hantu.
"Habis kencan, ya?" tebak Irene. Ia duduk di sebelah lelaki yang wajahnya tampak kusut itu. "Mukanya kok kusut? Berantem?"
"Hantu kok kepo," Alan terkekeh melihat ekspresi ingin tahu yang tersirat di wajah Miss A.
"Oh, tidak suka. Ya sudah, aku pergi saja!"
Hampir Irene beranjak dari duduknya jika Alan tak cepat menahan tangannya. "Duduklah, aku butuh teman bicara," ucap Alan.
Irene rasanya ingin meninju orang yang mencoba mempermainkannya. Tadi meledeknya, sekarang seakan-akan membutuhkannya. "Aku heran dengan manusia sepertimu. Memangnya menyenangkan berbicara dengan hantu? Bukannya kamu punya banyak saudara yang bisa diajak bicara?"
Alan tersenyum. "Aku butuh yang bisa menjaga rahasia, terutama hantu sepertimu. Setidaknya kalau kamu bermulut besar, aku ceritaku akan viral di duniamu, tidak sampai heboh di duniaku."
Irene rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Ia membayangkan bagaimana reaksi Alan nanti jika tahu kalau dia juga manusia biasa yang bahkan sebenarnya sedang dijodohkan dengannya.
"Hahaha ... kamu benar, ketampananmu akan viral di kalangan kuntilanak, sundel bolong, dan sebangsanya. Tertarik jadi artis di duniaku?"
__ADS_1
"Tidak, terima kasih. Kalau aku ikut kamu, berarti kamu mengajakku mati."
"Hahaha ... kamu benar juga."
Alan mengambil rokok dan pemantik darindalam saku celananya. "Kamu tidak terganggu kan, kalau aku merokok di sini? Hantu tidak mungkin takut kena kanker paru-paru karena menjadi perokok pasif."
"Ck!" Irene hanya berdecak kesal melihat kelakuan Alan yang menyalakan rokok di sampingnya. Ia tidak suka bau asap rokok.
"Kenapa kelakuanmu seperti manusia? Sok takut asap rokok. Kan sudah mati ... nggak mungkin mati kedua kali." Alan keheranan melihat polah Miss A yang seperti mengusir asap dari puntung rokok di mulutnya.
"Aku kan sudah bilang kalau aku ini hantu yang dikutuk jadi setengah manusia. Tolong matikan atau aku pergi saja dari sini." Miss A mengibas-ngibaskan tangannya mengusir asap yang bergerak ke arahnya.
Alan geleng-geleng kepala. Meskipun ia masih ingin merokok, demi mendapatkan teman bicara akhirnya ia mengalah. Dua batang rokok yang masih panjang malam ini terbuang sia-sia.
"Kalau kamu memang hantu setengah manusia, berarti bisa kan kalau aku ajak jalan-jalan?" tanya Alan.
"Aku tidak bisa keluar saat siang." Irene berusaha mencari alasan.
"Kamu ini hantu, bukan vampir. Memangnya kalau ada matahari bisa melebur juga jadi abu?"
"Maksudku, jadwal keluarku memang hanya tengah malam. Itu juga tidak bisa setiap hari. Aku juga sibuk di duniaku, memangnya kamu saja yang sibuk."
"Hah! Sibuk apa di sana? Kerjaanmu kan hanya menakuti orang."
"Mau tahu? Makanya ikut aku, tapi mati dulu ... hahaha ...." Irene tampak puas sekali membercandai Alan.
"Dasar marketing kematian!"
Alan membuang muka. Ia kembali dalam mode serius. Tatapannya seolah kosong seperti orang yang memiliki banyak beban. Bisa ditebak jika lelaki itu memang sedang punya masalah.
__ADS_1
"Kalau punya masalah yang berat, tidak terselesaikan ... mending mati saja ...." Miss A mendekatkan wajahnya sambil berkata dengan suara dibuat-biat agar seram. Alan mendorong wajah Miss A dengan telapak tangannya.
"Aduh!" pekik Irene yang hampit terjengkang ke belakang. Untung saja Alan memeganginya sehingga tidak jatuh.
"Bicara denganmu seperti curhat di dunia maya dengan orang yang tidak dikenal secara personal. Rasanya lebih nyaman dibandingkan bercerita dengan sesama manusia."
"Ternyata orang seperti kamu bisa punya masalah juga, ya? Aku kira kamu orang yang perfect hidupnya tanpa masalah."
"Semua orang hidup pasti punya masalah. Beda denganmu yang sudah mati, tidak punya masalah lagi."
"Masalahku mungkin hanya satu. Bosan."
Alan tertawa kecil. "Kalau aku beda. Baru saja aku tahu teman baikku telah menjual resep yang kami kreasikan bersama kepada perusahaan saingan."
"Resep apa kalau boleh tahu?"
"Resep menu di restoran baruku. Ada sekitar 15 menu unik yang aku dan temanku kreasikan selama setahun belakangan. Konsepnya belum pernah ada di restoran manapun. Mendekati hari pembukaan restoran, temanku tiba-tiba mengundurkan diri sebagai mitra bisnis. Tak lama setelah itu, aku dengar dia memimpin restoran kometitor memawa seluruh resep yang pernah kami kreasikan. Bahkan untuk konsep restoranku juga sudah lebih dulu mereka pakai."
Kalau mengingat kejadian tadi siang, ia ingin berteriak kencang melampiaskan emosinya. Bagaimana tidak, teman baik yang sudah lama ia kenal sejak zaman kuliah sampai berencana membuka restoran bersama, justru memberikan resep-resep yang susah payah dibuat kepada pihak lain. Temannya tega berkhianat di saat-saat terakhir ia akan membuka restoran barunya.
Terpaksa Alan menunda pembukaan restoran miliknya. Ia harus mengganti rugi kerugian yang diderita investor di restorannya. Otaknya sudah pusing harus memikirkan konsep baru yang akan dihadirkan dalam restoran, serta menu-menu baru yang berbeda dengan restoran lain.
"Sebenarnya aku turut prihatin. Berhubung aku hantu dan dulunya juga wanita bangsawan yang terhormat, sudah jelas kalau aku tidak bisa memasak." Miss A tampak serius mendengarkan cerita Alan. Namun, raut wajahnya yang datar serta kata-katanya justru membuat Alan ingin tertawa. Hantu di sampingnya sangat lucu. Ia bersyukur bisa bertemu dengannya malam ini. Di saat-saat yang sangat membuat frustasi, ada orang yang bisa menghibur dan membuatnya tertawa.
"Bagaimana kalau kapan-kapan kita keluar berdua saat malam? Aku ingin mencoba rasanya kencan dengan hantu secantik dirimu."
"Sudah aku bilang kalau aku sibuk." Miss A sok jual mahal.
"Tentukan saja jadwalnya kapan kamu bisa. Aku akan mengikuti."
__ADS_1