
"Balapan akan lebih seru kalau ada yang kecelakaan."
"Makanya mereka yang di atas terkadang menyuruh orang-orang seperti kita untuk merekayasa balapan."
"Ya, demi apa lagi kalau bukan demi keseruan?"
"Jarang orang yang tahu kalau balapan juga dijadikan permainan nyawa oleh orang-orang atas. Mereka memang mengerikan.
"Ah, sebaiknya kita pergi sekarang."
"Ayo!"
Irene masih tampak syok mendengar percakapan orang-orang jahat itu. Ia sangat khawatir dengan keselamatan Alan. Ia mengambil ponsel yang biasa ia pakai sebagai Irene Jelek. Ia mencari nomor ponsel Alan untuk menghubunginya.
***
Alan mengambil ponselnya. Senyumnya mengembang saat melihat telepon masuk dari Irene lewat aplikasi chat. Ia berdehem supaya suaranya terdengar berwibawa.
"Halo?" sapanya.
"Apa Kak Alan sudah sampai di tempat balapan?"
"Ya, aku sudah ada di sini. Bagaimana, apa kamu jadi pulang ke desa?" tanya Alan.
"Iya. Sekarang aku di rumah kakek dan nenek."
"Seharusnya kamu ikut datang ke sini. Suasananya cukup seru. Apalagi banyak bintang pembalap di sini."
__ADS_1
"Aku tidak terlalu menyukainya."
"Ah, iya. Kamu mau oleh-oleh apa?" tanya Alan. Nada bicara Irene tidak seperti biasanya. Ia seperti sedang tidak bersemangat.
"Aku tidak ingin oleh-oleh apapun. Cukup Kak Alan berhati-hati dan bisa pulang dengan selamat, aku rasa sudah cukup."
Alan terharu mendengarkan kekhawatiran Irene terhadapnya. "Kalau kamu khawatir, seharusnya datanglah ke sini. Lihat aku mau ikut balapan juga."
"Hah? Bukannya Kak Alan hanya mau menonton?"
Nada bicara Irene terdengar sangat terkejut.
"Makanya aku bilang kamu akan menyesal tidak ikut ke sini. Kamu tidak bisa melihatku balapan."
"Kak, jangan ikut balapan!"
Alan mengerutkan dahi. "Kamu ini bicara apa? Aku sengaja datang memang untuk balapan."
"Hahaha ...." Alan terkekeh mendengar alasan Irene. "Aku sedang tidak memikirkan uangnya. Aku hanya ingin ikut balapan karena ada seseorang yang juga ikut balapan." Alan penasaran dengan pembalap AI. Ia ingin meskipun sekali akan berusaha balapan dengannya.
"Mungkin ini terdengar aneh. Tapi, tolong Kakak cek kondisi mobil sebelum balapan. Aku khawatir ada yang ingin berbuat jahat."
"Kamu tenang saja, ada tim teknisi mekanik yang akan mengecek kesiapan kendaraan." Alan berusaha membuat Irene tidak khawatir.
"Apapun bisa terjadi dalam balapan. Jangan terlalu percaya pada orang lain, sekalipun itu rwkan satu tim."
"Iya, nanti akan aku cek sendiri."
__ADS_1
Akhirnya Alan mengalah dengan kemauan Irene. Ia menutup telepon dan masuk dalam ruang tunggu.
Tak berapa lama berselang, ada seseorang yang memakai helm balap masuk ke dalam. Suasana langsung riuh dengan kedatangan pembalap tersebut. Alan ikut penasaran dengan orang yang baru masuk itu. Menyadari bahwa yang datang adalah AI, Alan ikut maju menghampiri AI.
"AI!" panggil Alan.
AI yang tengah memberikan tanda tangannya kepada salah satu fans menoleh ke arah Alan. Wanita itu telah memakai helm balapnya dan hanya memperlihatkan area matanya saja.
Alan seperti familiar dengan sorot mata itu. Baru kali ini ia melihat AI dari jarak yang dekat. "AI, selamat datang. Lama tidak melihatmu turun ke sirkuit."
"Hahaha ... Mungkin hari ini keberuntunganmu bertemu denganku."
"Bisa kita bertemu setelah lomba berakhir?" tanya Alan.
"Kalau aku tidak lupa, kamu boleh menemuiku. Asal bukan untuk menculikku juga!"
"Aku dengar kamu ikut balapan juga, kan?" tanya AI memastikan.
Alan mengangguk. "Ini semua karenamu. Aku ingin mencoba mengalahkanmu," kata Alan dengan percaya diri.
AI terdengar tertawa kecil. "Baiklah, kita buktikan saja siapa yang lebih hebat. Supaya lebih adil, bagaimana kalau kita bertukar kendaraan?" tanyanya.
"Kamu serius?" Alan tidak percaya dengan apa yang AI katakan.
"Kenapa? Kamu merasa hebat dengan mobil sendiri? Susah adaptasi ya kalau memakai mobil lain? Bukankah disitu tantangannya?" sindir AI.
Alan merasa terpancing untuk bersaing. "Kamu salah kalau menganggapku seperti itu. Baiklah, ayo kita bertukar mobil!" tantangnya balik.
__ADS_1
***
Terima kasih sudah membaca, ya! 😘