Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 314


__ADS_3

"Kamu sudah menghubungi keluargamu?" tanya Arvy.


Adila mengangguk. "Sudah," katanya.


Mereka kini tengah duduk berhadapan di atas ranjang double bed yang terdapat dalam satu kamar hotel yang sama. Setelah berhasil dievakuasi dari pulau, mereka disuruh istirahat sampai kondisinya pulih dan lebih baik. Luka-luka lecet yang ada pada tubuh mereka juga sudah ditangani.


"Terima kasih, ya, sudah membantuku," kata Adila.


"Kamu tidak perlu mengucapkan itu. Aku hanya melakukan kewajiban sebagai sesama manusia," ujar Arvy.


Suasana kembali hening, keduanya sama-sama terdiam.


"Boleh aku memastikan sesuatu?" tanya Arvy dengan wajah seriusnya.


"Apa?"


"Benarkah kamu sudah tidak mengharapkan aku lagi?"


Pertanyaan Arvy membuat Adila tertegun. Lidahnya kelu untuk bersuara.


"Apa ... Kita benar-benar sudah putus?" tanya Arvy memastikan. Ia seakan masih belum menerima hubungan baik yang terjalin selama bertahun-tahun kandas begitu saja. Ia tidak puas mendengar alasan Adila. Menurutnya, tidak ada alasan yang masuk akal sampai mereka harus putus.


"Kamu ini bicara apa? Aku kan sudah bilang kalau aku muak denganmu," kata Adila seraya mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia tidak bisa jujur pada perasaannya sendiri.


"Kalau begitu tatap aku. Ucapkan langsung di depanku, Adila," pinta Arvy.


Kali ini ia tidak main-main. Ia ingin memastikan perasaannya sendiri. Jika memang Adila telah menyerah dengan hubungan mereka, Arvy akan benar-benar melupakannya.


"Kali ini benar-benar yang terakhir. Katakanlah dengan lantang di depanku!" pinta Arvy.


Namun, Adila tetap diam dan memalingkan pandangan ia tak bisa menghadapi Arvy saat ini.


Arvy menghela napas. Sepertinya Adila memang sudah yakin dengan keputusannya. Ia memilih bangkit dari tempatnya dan berniat pergi.


"Apa kamu masih mau menerima korban perk osaan?"

__ADS_1


Ucapan Adila menghentikan langkah Arvy. Lelaki itu tampak sangat terkejut, terlihat dari wajahnya yang panik.


"Selama aku hilang, ada yang telah melecehkanku berkali-kali sampai akhirnya aku berhasil kabur. Apa kamu masih mau menerima wanita seperti itu?" tanya Adila.


Perasaan Arvy seketika berubah kalut. Ia tak menyangka akan mendengarkan cerita seburuk itu. Ia berbalik badan menatap Adila yang tengah memandang ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku merasa tidak pantas lagi untukmu, Arvy. Cari saja wanita lain," kata Adila dengan senyuman tertahan sembari menahan tangisan.


Arvy berjalan menghampiri Adila dan memberikan pelukan erat. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Rasanya ia ingin marah kepada diri sendiri.


Adila menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka Arvy masih mau menyentuhnya setelah ia ceritakan semua. Dadanya terasa sesak akibat menangis, namun di sisi lain ada perasaan lega.


Arvy tak bisa mempertahankan ketegarannya. Air matanya mengalir meskipun sudah sekuat tenaga ia tahan. Beberapa saat mereka habiskan dengan saling bertukar perasaan.


Arvy duduk di samping Adila dengan menggenggam erat tangan wanita itu. Ia mencoba mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. Ditegakkannya kepala Adila agar menatap wajahnya.


"Tegakkan kepalamu, Adila. Kenapa kamu menanggung semuanya sendiri? Semua itu bukan salahmu," kata Arvy.


Bukannya tenang, air mata Adila kembali mengalir dengan deras mendengar ucapan Arvy. Bukan karena sedih, namun terharu mendengar kalimat itu dari lelaki pujaannya.


"Bukan kamu yang seharusnya meminta maaf," kata Arvy.


Ia menarik kepala Adila agar bersadar di bahunya. Dalam hati, Arvy bersumpah akan mencari lelaki bajingan itu sampai ketemu dan akan menghabisinya. Ia tidak terima melihat wanita kesayangannya harus kehilangan senyumannya.


"Kenapa kamu masih bersikap baik padaku, Arvy. Aku jadi sulit melepaskanmu," ucap Adila.


"Siapa yang ingin lepas darimu? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" tegas Arvy.


Apa yang telah menimpa Adila tidak menyurutkan rasa cinta kepada wanita itu. Baginya, Adila adalah satu-satunya wanita yang istimewa baginya.


"Kamu jangan seperti itu! Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku!"


Adila merasa dirinya sudah tidak berharga lagi. Namun, bagi Arvy, dia adalah segalanya.


Arvy meraih tangan Adila dan menciumnya. "Jangan pernah berusaha lari lagi dariku. Aku sangat mencintaimu."

__ADS_1


Arvy tanpa sungkan mengakui perasaannya. Adila kembali menangis haru.


"Kenapa kamu menangis terus? Memangnya kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Arvy memastikan.


Adila menggeleng. "Aku selalu mencintaimu, Arvy. Aku sangat mencintaimu," katanya sembari menangis dan memeluk Arvy.


Arvy tidak bisa membayangkan seberapa jauh penderitaan yang selama ini wanita itu pendam. Ia bahkan sempat mendengar diagnosa dokter bahwa kekasihnya itu hampir depresi. Ternyata trauma uang dialami begitu mendalam.


"Arvy!"


Suara seruan serta pintu yang terbuka dengan keras mengagetkan Arvy dan Adila. Tampak Mario ada di sana merasa sebagai pengganggu kemesraan mereka. Ia mematung sejenak.


"Masuk saja, Kak!" pinta Arvy.


Mario masuk dan menutup kembali pintu kamar tersebut. "Syukurlah kalian selamat," ucapnya lega. Ia duduk di hadapan mereka berdua.


"Apa kondisi kalian sudah membaik?" sambungnya.


"Kami baik-baik saja, Kak," jawab Arvy.


Mata Mario terlihat begitu peka. Matanya terus memandangi setiap detil ruangan itu, termasuk wajah Arvy dan Adila. Ia merasa heran kenapa Adila sampai menangis padahal sudah selamat.


"Proses syutingnya bagaimana, Kak?" tanya Adila.


"Proses syuting film kamu maksudnya?" tanya Mario memastikan.


Adila mengangguk.


"Aku rasa sutradara, produser, dan tim produksi tempatmu bekerjasama sedang makmur-makmurnya," kata Mario dengan nada sedikit nyinyir.


Adila dan Arvy saling berpandangan.


"Asal kalian tahu, kru film terbaru Adila sampai sekarang masih melakukan proses produksi walaupun tanpa pemain utamanya. Waktu kalian hilang, mereka santai saja. Bahkan meminta tim pencari untuk kembali satu minggu lagi. Kalau benar demikian, mungkin mereka akan pulang tinggal nama saja!" Mario mengomel meluapkan emosi jiwanya yang tertahan.


"Aku rasa kalian mau hidup atau mati, mereka tidak akan bersusah payah mencari kalian!" lanjut Mario yang masih kesal.

__ADS_1


"Itu memang kesalahanku juga, Kak. Gara-gara liburan sampai harus memberi imbas pada banyak orang," kata Adila.


__ADS_2