Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 85:


__ADS_3

"Irene, ikut dengan mereka. Kamu juga harus bersiap untuk malam ini," pinta sang kakek.


Irene membelalakkan mata saat melihat dua orang perias yang ditugaskan untuk mendandaninya. Ia baru saja pulang dengan kondisi lusuh setelah seharian berkuliah dan mencari kado untuk Alan. Tentu saja ia tidak ingin jati dirinya terkuak jika harus didandani oleh mereka.


"Mari, Nona. Ikut kami ke ruang make up," ajak salah satu perias tersebut.


Irene menunjukkan senyumannya. "Sebentar, ya! Aku mau mandi dulu baru akan ikut kalian ke ruang make up," ucap Irene.


"Baik kalau begitu, kami akan menunggu di kamar sebelah sana." Perias tersebut menunjuk ke arah kamar tamu yang disulap menjadi tempat make up.


"Apa baju yang akan aku kenakan juga sudah ada?" tanya Irene.


"Ini bajunya!" perias lainnya mengangkat baju yang dibawanya. Sebuah dress cantik berwarna merah marun akan ia kenakan malam ini dalam pesta ulang tahun untuk Alan.


"Biar aku bawa sekalian ke atas, ya! Selesai mandi, aku akan langsung memakai baju ini dan kalian tinggal meriasku." Irene mengambil gaun tersebut dari tangan sang perias.


Ia segera berjalan menuju ke arah lift untuk naik ke kamarnya. Kondisi rumah telah didekorasi dengan sangat bagus, semua orang terlihat sangat sibuk. Bahkan area taman luar dan kolam renang ikut dihias. Sepertinya kakek akan membuat sebuah pesta ulang tahun yang meriah untuk Alan, cucu pertama kebanggaannya.


Sesampainya di dalam kamar, Irene langsung menanggalkan pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Momen mandi menjadi momen paling disukainya. Ia bisa terlepas sejenak dari segala penyamarannya. Kucuran air memberikan sensasi segar bagi tubuhnya.


Malam ini Alan akan berulang tahun. Sebagai salah satu penghuni kediaman keluarga Narendra, ia harus ikut serta dalam pesta tersebut. Dipandanginya gaun indah yang tergeletak di atas ranjang. Ia akan mengenakannya kembali setelah membalurkan krim untuk menyamarkan warna kulit aslinya.


Seharusnya ia didandani oleh orang di bawah. Akan tetapi, menurutnya akan lebih aman jika ia berdandan sendiri. Ia sesuaikan dandanan Irene dengan penyamarannya. Meskipun memiliki kulit yang lebih gelap, kemampuan berdandan yang Irene miliki tetap membuatnya terlihat cantik apa adanya.


Tok tok tok


Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk. Untung saja ia telah menyelesaikan dandanannya lengkap dengan gaun indah yang kakek berikan untuknya. Ia menghampiri pintu untuk melihat orang yang mengetuk pintu.


"Loh, Nona sudah berdandan?" tanya perias itu kaget.

__ADS_1


Irene hanya tersenyum. Kedua perias itu naik ke atas mencarinya mungkin karena ia terlalu lama di dalam kamar. "Tidak apa-apa kan, kalau aku dandan sendiri? Atau kalian ingin memperbaiki dandananku?" tanyanya. "Ayo, masuk dulu ke dalam!" ajak Irene.


Kedua perias itu masuk ke dalam kamar. Ia meneliti dandanan yang ada di wajah Irene, terlihat begitu rapi dan bagus seperti hasil make up perias profesional.


"Nona ternyata bisa make up sendiri, ya?" tanya salah satu perias sembari mengagumi betapa halus hasil riasan yang dihasilkan.


"Aku hanya bisa sedikit. Kalian lebih ahli dariku," ucap Irene merendah.


"Ini sudah sangat bagus, bahkan Nona tetap terlihat cantik dengan mempertahankan warna kulit asli," guman salah satu perias lainnya. Biasanya ia selalu kesulitan untuk mendandani klien yang berkulit terlalu gelap. Sementara, dandanan Irene bisa mengeluarkan pesona aura seorang dengan warna kulit eksotis.


"Apa menurut kalian dandananku sudah pas? Cocok denganku dan gaun ini?" tanya Irene.


Keduanya mengangguk setuju.


"Kalau begitu, aku akan tampil seperti ini saja. Nanti kalian bilang ke Kakek kalau aku sudah didandani oleh kalian, oke?"


"Tidak apa-apa, ini juga salahku yang telah membuat kalian lama menunggu."


Irene turun ke bawah bersama kedua perias tersebut setelah melakukan diskusi yang cukup panjang. Rupanya persiapan telah selesai seluruhnya dan mulai ada tamu yang datang. Kakek tampak tersenyum bahagia berbincang dengan para tamu yang mulai hadir di sana. Irene memilih berada di area taman samping sengaja tidak ikut bergabung dengan kakek.


Sementara, Kakek Narendra menikmatinwaktu berbincang-bincangnya dengan tamu undangan. Ia tak henti-hentinya melayangkan pujian untuk Alan, cucu kesayangannya.


"Nanti aku akan menjodohkan cucuku dengan wanita yang sangat istimewa," ucap kakek dengan bangga.


"Jadi, Anda sudah memiliki calon untuk Alan?" tanya Pak Bagas, salah satu tamu penting kakek.


"Tentu saja sudah. Anak itu kalau tidak dicarikan jodoh bisa-bisa tidak ada keinginan untuk menikah karena sibuk kerja."


"Aku jadi penasaran dengan wanita beruntung yang menjadi kesayangannya Kakek Narendra," sahut Bobi.

__ADS_1


"Nanti juga kalian akan tahu siapa wanita itu."


"Alan pasti kaget tiba-tiba dijodohkan kakeknya."


"Dia pasti akan senang dengan wanita yang akan aku pilihkan untuknya," kilah kakek.


"Aku salut dengan cucu-cucumu, Tuan Narendra. Mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas, tampan, dan sukses," puji Pak Bobi.


"Iya. Bahkan Ares yang masih kuliah aku dengar sudah pintar ikut mengurus perusahaan," tambah Pak Bagas.


"Arvy sudah sukses menjadi artis dan Alfa sukses menjadi perancang busana."


"Paling beda sepertinya Alex. Aku rasa dia cucu yang paling tidak menonjol. Kalau bukan karena kebaikan hati Anda, cucu kedua Anda itu sepertinya tidak akan baik seperti sekarang."


"Maklum saja, dia berbeda dari saudaranya yang lain. Dia anak yang dilahirkan di luar hubungan pernikahan."


"Tolong hentikan pembahasan tentang Alex!" kakek Narendra terlihat tidak suka dengan perkataan mereka. "Aku juga tidak mengakuinya sebagai bagian dari meluarga sampai saat ini," ucapnya.


Mengingat kembali cerita tentang Alex selalu membuat Kakek Narendra ingin emosi. Di balik keharmonisan keluarga putranya, ternyata anak laki-laki kebanggaannya memiliki rahasia kelam. Diam-diam ia menjalin hubungan dengan seorang wanita dan melahirkan seorang anak yang kemudian menjadi adik Alan karena ibu kandung Alex saat itu meninggal.


Untung saja menantunya bisa menerima dengan lapang dada kesalahan yang diperbuat putranya. Ibu Alan turut mengasuh Alex layaknya anak sendiri.


"Halo, Sayang ... Selamat ulang tahun, ya ...." Sovia merasa kegirangan bisa bertemu dengan Alan malam itu. Ia langsung melabuhkan pelukan hangat ke tubuh Alan.


Sebenarnya Alan terkejut wanita itu bisa datang ke acaranya. Akan tetapi, saat melihat orang yang datang bersama Sovia ke sana, ia hampir lupa kalau Sovia datang bersama kakaknya, Laga, yang merupakan salah satu mitra bisnis sang kakek.


"Sayang, ini hadiah untukmu!" Sovia menyodorkan sebuah kotak berukuran kecil kepada Alan dengan senyuman yang terkembang.


"Terima kasih!" Alan menerima pemberian Sovia dengan raut wajah yang dingin. Ia kesal saja orang seperti Sovia bisa begitu percaya diri datang ke pestanya seperti hubungan mereka masih baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2