Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 73: Silsilah Keluarga


__ADS_3

Irene mengeluarkan sebuah CD yang berisi rekaman beberapa lagu ciptaannya. Ia memutarnya di kamar sembari mendendangkannya. Tidak disangka karya isengnya menjadi kesukaan netizen dunia maya.


"Irene ... Irene ...."


Irene mengecilkan volume musik mendengar ada suara panggilan untuknya. "Iya, Nek? Masuk saja!" serunya.


Tak lama berselang, pintu model sliding itu terbuka. Sang nenek masuk ke dalam kamar Irene yang bernuansa rumah Jepang tradisional.


"Kamu sedang mendengarkan apa?" tanya nenek.


"Ini lagu ciptaanku, Nek. Bangus nggak suaraku?" tanya Irene.


"Bagus ... Suaramu mirip Tantemu," ucap sang Nenek.


Irene mengerutkan dahinya. "Tante? Aku punya Tante?" tanyanya. Ia hanya sekedar tahu jika kakek neneknya hanya memiliki dua orang putra, ayahnya dan ayah Hamish. Keduanya juga sudah meninggal.


"Memangnya waktu kamu di luar negeri kamu belum pernah bertemu Myria Teressia Miguel?"


Irene ternganga. "Maksud nenek artis terkenal itu ya?"


"Iya."


Rasanya Irene masih tidak percaya wanita yang pernah ditemuinya di luar negeri dulu merupakan tantenya sendiri. Pantas saja kelakuannya menyebalkan, suka mengganggunya setiap kali ia sedang berada di keluarga Alberto Moguel, orang tua angkatnya. Setahu Irene, Myria tinggal di luar negeri menjalani karir sebagai artis sekaligus penyanyi. Irene kira orang itu adalah saudara dari ayah angkatnya.


"Kok Nenek tidak pernah cerita?" tanya Irene penasaran.


"Bahkan seharusnya juga tidak usah diceritakan. Nenek terpaksa membuangnya jauh ke sana demi menyelamatkan dirinya. Cukup dua putra nenek yang meninggal. Nenek harap Myria bisa hidup bahagia di luar sana."


Nenek bercerita dengan mata berkaca-kaca. Pasti berat menjalani kehidupan seperti nenek. Ia sampai memilih tinggal di desa karena kesedihan yang mendalam akibat kematian kedua putranya.


Irene tidak terlalu paham dengan cerita kehidupan keluarganya. Menurutnya, ada banyak hal yang disembunyikan darinya. Ia tumbuh dengan baik dalam bimbingan sang kakek, mempelajari banyak hal entah apa tujuannya. Ia memang jarang bertemu dengan neneknya yang lebih memilih menetap di desa.

__ADS_1


"Aduh! Nenek sampai lupa. Nenek datang untuk memberikan ini untukmu." Nenek mengeluarkan sebuah kalung perak dari kotak perhiasan. Bentuknya sangat indah menyerupai lumba-lumba.


"Ini adalah mas kawin yang kakekmu berikan kepadaku. Benda ini punya banyak kenangan yang sangat berkesan dalam kehidupan nenek."


Irene mendekat ke arah neneknya, memberikan pelukan manja seraya mendengarkan cerita nenek tentang benda bersejarah tersebut.


"Kok Kakek memberi mas kawin sejelek itu?" tanya Irene.


Nenek tertawa mendengar pertanyaan Irene. Mas kawin memang biasanya yang diberikan perhiasan emas atau berlian, tapi yang sang nenek terima justru perhiasan perak. "Dulu Kakekmu orang miskin, sangat miskin ... bisa memberikan kalung perak ini saja dia harus bekerja keras menabung."


"Berarti dulu nenek orang kaya?" Tanya Irene.


"Iya. Nenek berasal dari keluarga cukup kaya. Makanya waktu Kakekmu berniat melamar nenek, ia langsung ditolak oleh keluarga."


"Lah, tapi Nenek akhirnya bisa menikah dengan Kakek?" Irene tampak bingung.


"Itu karena nenek yang nekad menerima ajakan menikah dari kakekmu. Konsekuensinya, nenek dihapus dari kartu keluarga, tidak dianggap lagi sebagai anak. Nenek memutuskan hubungan dengan keluarga."


"Nenek juga tidak tahu. Tapi, dari kabar yang pernah nenek dengar katanya mereka tinggal di Surabaya. Katanya kamu juga tinggal di sana, kan?"


"Iya, sih. Kalau nenek saja setua ini, sudah setua apa saudara-saudara nenek di sana? Pasti Nenek juga punya banyak cucu-cucu." Irene geli sendiri membayangkan bertemu dengan keluarga neneknya suatu saat. Sudah pasti ia tidak akan mengenal.


"Kamu juga sebenarnya masih punya seorwng adik."


"Apa?" Irene terkejut. "Adik? Kok bisa? Nenek jangan macam-macam, deh ... ada-ada saja aku punya adik. Cerita Nenek saja sudah membuatku pusing membayangkannya, ini mau mengarang kalau aku punya adik?"


Rasanya apa yang baru saja ia dengar hanya sekedar dongeng karangan neneknya.


"Kamu tidak paham sekacau apa kondisi keluarga Abraham dulunya. Ada banyak pihak yang ingin menghancurkan keluarga kita karena rasa iri dan dengki. Apalagi ayahmu dan pamanmu dulu seorang pengusaha yang gigih hingga mencapai kesuksesan."


"Keluarga kita selalu diincar pihak-pihak yang kurang suka dengan keberhasilan kita. Belum lagi dari pihak keluarga nenek yang juga masih memiliki dendam karena nenek melanggar kebiasaan untuk menikah dengan orang biasa."

__ADS_1


"Ayah dan ibumu, paman dan bibimu, semuanya mati dalam kecelakaan yang direkayasa. Sebelum hal yang buruk itu terjadi, tantemu lebih dulu nenek kirimkan ke luar negeri."


"Zayn, tak lama berselang setelah lahir, diculik oleh adik nenek. Sehingga kamu mungkin tidak ingat kalau ibumu dulu pernah mengandung adikmu. Kamu masih kecil."


"Kamu cobalah cari keluarga nenek dan temukan adikmu."


Irene berusaha memahami kondisi keluarganya yang terlalu rumit. Ia kira selama ini dirinya hanya seorang anak tunggal yatim puatu. Ternyata ia memiliki seorang adik.


***


Irene telah tiba di bandara. Ia berada di toilet untuk berdandan sebagai Alenta. Hari ini ia akan terbang ke Iran bersama Alan untuk kepentingan kerjasama impor minyak. Irene bersedia kembali menjadi penerjemah bagi perusahaan setelah Alan menawarkan uang sejumlah 1 miliar kepadanya. Oleh karena itu, ia berdandan sebagai Alenta dengan wajah aslinya namun riasannya lebih tebal sehingga tampak seperti seorang wanita dewasa.


"Apa seperti ini cukup, ya? Kira-kira dia masih ingat hantu Miss A apa nggak?" Irene memperhatikan kembali penampilannya. Kalau sekarang ia tampil s3ksi dan menggoda seperti wanita nakal, mungkin Alan tidak mengenalinya.


Mengenakan sepatu hak tinggi, rok mini dan kemeja beserta blazer, Irene berjalan dengan percaya diri menjumpai Alan di lounge menunggu jadwal keberangkatan pesawat mereka.


"Selamat siang, Tuan Alan," ucap Irene dengan nada yang terdengar berwibawa.


Alan tercengang melihat wanita cantik yang menghampirinya.


"Perkenalkan, nama saya Alenta Serenity, penerjemah yang selama ini bekerja untuk Anda," ucapnya.


"Ah, oh, oke ... saya kira Anda tidak jadi datang."


Mereka berjabat tangan dan mulai merundingkan masalah pekerjaan yang akan mereka tangani di negara asing tersebut. Alan terpaku memandangi sosok wanita yang ia tahu sebagai Alenta, masih belum percaya jika penerjemah yang direkrut secara online, tidak mau memperlihatkan identitasnya, ternyata seorang wanita cantik.


"Kenapa Bapak sejak tadi terus memperhatikan saya? Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Irene.


"Ah, tidak. Saya hanya terkejut saja ternyata Anda cantik. Pantas tidak bisa diajak negosiasi dengan mudah," sindir Alan.


Irene menyunggingkan senyum. "Bagaimana, bukankah setara dengan uang yang sudah Anda keluarkan untuk saya? Satu miliar akhirnya berhasil membuat saya keluar dari goa untuk menemui Anda."

__ADS_1


Alan hanya terkagum-kagum. Wanita itu sangat percaya diri. "Ya, tidak sia-sia saya mengeluarkan banyak uang untuk bisa berkenalan dengan Nona Alenta."


__ADS_2