
"Tuan, Nona Irene telah datang," ucap seorang pelayan.
"Apa dia membawa seseorang?" tanya Tuan Alberto.
"Benar, Tuan. Nona bersama seorang lelaki."
Alberto mengembangkan senyuman. "Sepertinya akan menarik," gumamnya. "Suruh mereka masuk dan menunggu!" pinta Alberto.
"Baik, Tuan."
***
"Kak, pokonya jangan terlalu banyak bicara di hadapan ayah angkatku. Katakan yang perlu-perlu saja seperti yang sudah aku beri tahu."
Irene kembali mengingatkan Alan. Ia khawatir skenario yang sudah dirancangnya akan berantakan.
"Sudah aku bilang, kamu bisa mengandalkanku," kata Alan. "Sekarang, pegang lenganku!" pintanya.
Irene menurut dan menggandeng lengan Alan. Mereka berjalan memasuki rumah didampingi oleh pelayan. Keduanya melakukan peran sebagai pasangan kekasih yang romantis.
"Irene," sapa Bryan.
Irene hanya tersenyum. Ia membawa Alan mendekat ke arah ayah angkatnya.
"Ayah, kenalkan, ini Alan, kekasihku," kata Irene memperkenalkan pacarnya.
Alberto cukup terkesima dengan sosok lelaki yang Irene bawa. Kekasih Irene masih terlihat muda namun telah memiliki aura yang kuat.
"Selamat datang, Tuan Alan. Senang bisa bertemu dengamu."
Alberto mengulurkan tangannya menyambut dengan baik kehadiran Alan.
Sementara, Alan membalas jabatan tangan tersebut dengan perasaan membawa beban yang besar. Ia tidak menyangka jika ayah angkat Irene adalah Alberto Miguel, salah satu orang terkaya di dunia. Ia merasa terkesan dan masih belum percaya bisa bertemi dengan orang ternama itu.
"Terima kasih atas sambutan baiknya, Tuan Alberto. Suatu kehormatan bisa datang menemui Anda. Perkenalkan, saya adalah kekasih Irene saat ini." Alan berusaha menepis rasa gugupnya dan berbicara secara normal.
__ADS_1
Ia hampir kehilangan pengendalian diri saking terkejutnya. Irene pasti marah kalau dia melupakan skenario yang akan mereka jalankan.
"Oh, iya. Ini Bryan, anak buah kesayanganku juga." Alberto menyuruh Bryan berkenalan.
Alan dan Bryan saling berjabat tangan. Alan jadi heran kenapa Irene tidak mau dijodohkan dengan lelaki yang menurutnya tampan itu. Bahkan dia jadi minder karena ternyata Irene juga berusaha dijodohkan dengan lelaki di luar keluarga Narendra. Ia merasa punya saingan.
"Kalau begitu, mari kita duduk bersama." Alberto mengajak semua orang pindah ke ruang tengah.
"Asalkan Kakak bisa meyakinkan ayah angkat akan setia padaku, aku rasa Kakak tidak akan disusahkan," bisik Irene.
Alan tersenyum mendengar ucapan Irene. Dia menarik pinggang wanita itu agar menempel padanya. Irene sampai melebarkan mata dengan kelakuan Alan.
"Kak ...," tegurnya.
"Aku hanya melakukan apa yang kamu katakan, kita harus kelihatan mesra, kan?" kata Alan lirih.
Irene berusaha menenangkan diri. Ia tidak boleh terlihat gugup. Meskipun hanya pura-pura, namun sedekat itu dengan Alan membuatnya berdebar-debar.
"Jadi, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanya Alberto.
"Bagaimana kalian bisa saling kenal?" Alberto terus berusaha mencecar Alan dengan pertanyaannya. Ia ingin mengetahui sebaik apa lelaki yang Irene bawa ke hadapannya.
"Irene sedang bersekolah di Universitas XXX. Dia tinggal di rumah saya." jawab Alan.
Alberto melebarkan mata. "Apa? Kalian tinggal bersama?" tanyanya kaget.
"Ah! Ayah Angkat, itu tidak seperti yang Ayah pikirkan," sahut Irene. Ia khawatir ayahnya akan salah paham. "Kakek memang menyuruhku tinggal sementara di rumah Kak Alan karena sedang berkuliah di kota ini."
"Anda jangan khawatir. Kami memang tinggal bersama, tapi tidak pernah melewati batas. Kami saling menjaga diri dan menghormati Irene sebagai tamu di rumah," sambung Alan.
Alberto masih belum yakin dengan Alan. "Apa benar kamu menyukai putriku? Bukankah dia sangat jelek? Bagaimana bisa orang sepertimu bisa menyukainya?"
"Oh, Ayah Angkat sedang menjelek-jelekkanku?" protes Irene.
"Kamu memang jelek, kan? Hahaha ...," ejek Alberto.
__ADS_1
Alan justru semakin merapatkan duduknya dengan Irene seraya merangkul pinggang wanita itu. Irene kembali kaget dengan yang Alan lakukan.
"Apa putriku membayarmu untuk berpura-pura menjadi pacarnya?" tanya Alberto kepada Alan.
"Tidak sama sekali. Saya benar-benar mencintai Irene dengan tulus," jawab Alan.
Irene menoleh ke arah Alan. Mata mereka saling bertatapan. Alan mengatakannya seakan itu sebuah pernyataan dari hati yang tulus. Irene seperti berharap bahwa Alan tidak sedang akting di depannya. Lelaki itu benar-benar bertingkah dengan natural sebagai seorang kekasih.
"Bagi saya, ketertarikan tidak hanya bisa dibatasi dengan fisik. Terkadang ada sisi-sisi lain yang membuat seseorang tampak istimewa di mata orang lain. Dan saya menemukan sisi itu pada diri Irene."
"Entah mengapa dia bisa membuat saya tidak pernah bisa memalingkan pandangan darinya. Setiap hari ingin selalu bersamanya. Irene orang yang sangat menyenangkan. Bahkan jika ditanya kenapa bisa menyukainya, itu karena memang saya menyukainya. Dia wanita yang paling istimewa yang pernah saya temui."
Kata-kata Alan terdengar sangat indah dan membuat Irene terpana. Padahal, sepertinya ia tidak mengajari Alan sejauh itu. Kalau saja ini bukan akting, dia juga pasti sudah meleleh mendengar ucapan Alan.
Sementara, Bryan terlihat tidak suka dengan kedekatan Alan dan Irene. Ia merasa seharusnya lelaki itu tidak pernah ada di sana. Alberto telah mengatakan ingin menjodohkan dirinya dengan Irene. Seharusnya dia yang berhak menjalin kedekatan dengan Irene, bukan lelaki itu.
Bryan juga tidak yakin kalau Alan benar-benar menyukai Irene dengan penampilan seperti itu. Alan termasuk lelaki di atas standar, tidak mungkin suka dengan wanita di bawah standar. Ia yakin Alan juga sudah tahu seperti apa wajah asli Irene. Dan Irene sengaja berpenampilan seperti itu agar ia menolak dijodohkan oleh Alberto. Bryan tidak akan menyerah terhadap Irene.
"Lagi pula, orang seperti Anda juga bisa menyayangi Irene dengan tulus. Itu artinya Anda juga pasti merasa bahwa Irene memang sangat spesial," sambung Alan.
"Lalu, pekerjaanmu apa sekarang?" tanya Alberto. Ia semakin penasaran dengan sosok kekasih Irene itu. Cara bicaranya begitu tertata dan menunjukkan orang yang berkelas.
"Saya ini saya bekerja di Narendra Group," jawab Alan.
"Dia Presiden Direkturnya di sana," sahut Irene.
"Oh, kamu pimpinan di perusahaan yang hampir bangkrut karena demo sebagian karyawan itu?" tanya Alberto memastikan.
Alan mengangguk. Sebenarnya dia kurang nyaman disebut sebagai pemilik perusahaan. Ia hanya merasa sebagai pengganti kakeknya karena perusahaan tentu saja milik dia dan saudara-saudaranya.
"Benar, Tuan. Itu juga termasuk aib yang memalukan karena permasalahannya juga melibatkan keluarga."
Alberto terkesima dengan fakta yang baru saja diketahuinya. Ia tidak tahu kalau lelaki yang Irene bawa ternyata salah satu konglomerat di negeri ini. Ia jadi merasa kagum karena selera Irene memang tidak main-main.
Bryan hanya bisa diam. Ia merasa khawatir melihat Alberto yang sepertinya merasa terkesan dengan Alan. Ia tidak ingin perhatian Alberto kepadanya tergantikan oleh lelaki yang Irene bawa.
__ADS_1
"Irene, ajak Alan untuk berkuda denganku besok," ucap Alberto.