Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 57: Dikerjai Pak Wibowo


__ADS_3

Irene tampak masih berkutat di depan laptopnya, menyelesaikan proses penerjemahan berkas perjanjian kerjasama perusahaan keluarga Narendra. Kali ini ia harus berhubungan langsung dengan Alan yang menjabat selaku direktur. Ia masih menggunakan identitas samarannya sebagai Alenta, penerjemah online yang tidak mau diketahui identitasnya.


Setelah pekerjaannya selesai, ia langsung kirimkan ke alamat email milik Alan. Diregangkannya tangan dan kaki untuk mengurangi kekakuan akibat terlalu lama duduk. Ia senyum-senyum sendiri mengingat perbincangannya kemarin dengan Alan bahwa Sovia telah diputuskan.


Meskipun belum bergerak sama sekali, mendengar tujuannya tercapai tanpa bersusah payah sudah sangat membuatnya senang. "Padahal aku ingin sesekali berperan sebagai pelakor. Hahaha ...." Irene tertawa-tawa sendiri mengingatnya. "Tidak perlu aku bertindak hidupmu sudah susah, Sovia. Sayang sekali kamu tidak tahu seberapa hebat aktingku."


Ting!


Pandangan Irene kembali terpaku pada layar monitor. Ada sebuah pesan masuk. Ia membelalakkan mata, memastikan dari siapa pengirim pesan itu. Atasan di kantornya, Alan.


"Kenapa lagi dia?" tanyanya pada diri sendiri. Irene membuka bagian percakapan yang ada di laptopnya.


Direktur: Halo, Alenta ... pekerjaanmu sungguh sangat baik. Saya menyukainya.


Irene tersenyum mendapat pujian tersebut.


Alenta: Terima kasih.


Direktur: Aku berniat menambah gajimu jika bersedia bekerja di kantorku secara langsung.


"Kenapa dia? Apa begitu penasaran padaku?" gumam Irene.


Alenta: Terima kasih atas tawarannya. Tapi, saya belum tertarik.


"Bisa gawat kalau dia tahu aku juga yang pura-pura jadi hantu. Kenapa juga aku pakai nama samaran Alenta ... bagaimana kalau dia sadar kalau Alenta juga hantu di rumahnya? Aku pasti akan diinterogasi habis-habisan olehnya. Pokoknya, aku tidak boleh ketahuan!" Irene menepuk kepalanya sendiri. Ia benar-benar pusing oleh aktingnya sendiri. Namun, terkadang ia juga senang. Apalagi melihat Alan yang sepertinya tertekan setelah dipaksa kembali ke perusahaan.


Direktur: Berapa yang kamu minta agar mau bekerja denganku secara langsung?


"Hais ... takutnya aku langsung dia nikahi kalau setuju. Kenapa juga dia begitu? Aku kan sudah bilang tidak mau bekerja offline." Irene geleng-geleng kepala membaca chat dari bosnya.


Alenta: Saya bekerja karena senang, Pak. Gaji hanyalah bonus. Terima kasih untuk tawarannya.

__ADS_1


Selepas membalas chat dari Alan, Irene menghapus jejaknya agar tidak bisa dilacak oleh Alan. Ia menyamarkan alamat IP di negara lain mengingat Alan pasti tidak bodoh untuk melepaskannya begitu saja.


*


*


*


Irene kembali ke kampus dengan kondisi masih mengantuk. Semua gara-gara pekerjaan tambahannya sebagai seorang penerjemah. Ia ditinggalkan oleh Ares karena bangun kesiangan. Meskipun tahu sudah telat datang ke kelas Pak Wibowo, ia nekad tetap akan masuk.


Irene memberanikan diri mengetuk pintu kelas.


"Masuk!"


Terdengar suara dari dalam. Irene menghela napas sebelum membuka pintu. Tampak seorang dosen tua dengan wajah galaknya sedang menatap ke arahnya. Irene hanya cengengesan mengembangkan senyum.


"Selamat pagi, Pak," sapanya dengan percaya diri dan tanpa rasa bersalah.


Pak Wibowo melirik ke arah jam tangannya. "Sepertinya setingan jam kita berbeda ya, Nona Irene. Bahkan perkuliahanku hampir selesai." Raut wajahnya tampak datar menyiratkan kekesalan.


Mahasiswa yang lain tampak menahan tawa dengan kelakuannya. Baru kali ini ada mahasiswa yang berani menguji nyali dengan Pak Wibowo.


"Enak saja mau keluar. Cepat, masuklah! Supaya kamu juga ikut merasakan neraka di kelas ini!"


Perkataan Pak Wibowo membuat tawa mahasiswanya pecah. Sejak tadi, perkuliahan memang berlangsung cukup menegangkan karena mereka sangat serius mendengarkan perkuliahan yang disampaikan oleh Pak Wibowo.


Irene perlahan melangkah masuk, tidak lupa menutup kembali pintu tersebut.


"Mau kemana kamu?" Pak Wibowo menahan langkahnya saat akan menuju bangkunya. "Kemarilah!" perintah Pak Wibowo.


Irene sudah merasakan firasat kurang enak dengan hal tersebut. Namun, bukan Irene namanya kalau takut menghadapi bahaya. Dengan langkah mantap, ia berjalan menghampiri Pak Wibowo.

__ADS_1


Pak Wibowo tiba-tiba saja merangkul pundak Irene. "Mari kita ucapkan selamat kepada Irene. Makalahnya mengenai riset investasi terpilih sebagai topik favorit dalam ajang kompetisi mahasiswa nasional di bidang bisnis, manajemen, dan keuangan."


Seisi ruangan dipenuhi tepuk tangan gemuruh dari peserta perkuliahan. Mereka tidak menyangka orang seperti Irene bisa sehebat itu lolos dalam kompetisi yang biasa diikuti oleh ribuan mahasiswa berprestasi di seluruh tanah air. Jangankan mereka, Irene sendiri kaget. Ia merasa tidak pernah mengajukan lomba apapun, namun ternyata dinyatakan lolos.


"Irene akan menjadi salah satu perwakilan kampus kita. Membawa nama baik, kampus, fakultas dan jurusan. Kamu harus semangat, Irene."


Tepukan tangan Pak Wibowo justru membuatnya merasa terbebani. Ia masih tercengang seperti orang bodoh saking tidak masuk akal apa yang disampaikan dosennya.


"Pak, sepertinya Bapak salah. Saya tidak pernah mendaftar lomba," ucap Irene dengan nada lirih.


Pak Wibowo menyeringai. "Tentu saja bukan kamu yang mendaftar, tapi saya yang mendaftarkannya. Bian juga tahu tentang hal ini. Pokoknya, kamu harus semangat!"


Ucapan semangat dari Pak Wibowo lebih terlihat seperti hukuman untuknya. "Saya tidak mau ikut lomba, Pak. Bapak saja yang ikut," bantah Irene.


"Kalau kamu berani mundur, akan langsung saya beri nilai F di perkuliahanmu. Kembali ke tempat duduk sekarang!" Pak Wibowo merasa menang dari Irene.


Dengan langkah lunglai, ia berjalan menuju tempat duduk menghampiri Bian. Teman-temannya mengucapkan selamat, namun ia tidak merasa senang. Rasanya ia sudah salah memaksa masuk kuliah. Seharusnya ia melanjutkan tidur saja di kamarnya.


"Selamat, Ya! Aku ikut senang," ucap Bian dengan senyuman lebar di wajahnya ia begitu bangga memiliki teman seperti Bian.


Irene melirik Bian dengan tatapan kesal. "Kenapa tidak bilang padaku? Katanya kamu tahu kalau Pak Wibowo mendaftarkan aku lomba?" tanyanya.


Bian menggaruk rambutnya. "Waktu itu kamu sulit dihubungi, sih. Pak Wibowo bilang makalahmu bagus dan akan diikutkan lomba. Aku kira paling kamu akan kalah. Ternyata kamu bisa juara pertama di seleksi. Kamu hebat, Irene!" Binar mata Bian memperlihatkan kekagumannya kepada Irene.


"Jangan lupa, selain Irene, ada Juga Hansen dari jurusan akuntansi juga lolos," sahut Gito yang duduk di samping mereka.


"Tapi, Irene masih lebih hebat dari dia. Aku yakin, Irene yang akan memenangkan kompetisi ini," ucap Bian dengan percaya diri. Ia begitu bangga memiliki teman seperti Irene.


"Jangan salah, bisnis Hansen pernah mendapatkan penghargaan pengusaha muda tahun lalu. Selain karena tampan, Hansen juga terkenal cerdas baik dalam perkuliahan maupun praktik nyata di lapangan," Heni yang duduk di depan mereka ikut menyahut.


"Tapi, aku yakin kalau Irene yang bisa menang dalam kompetisi kali ini." Bian kekeh pada pendapatnya.

__ADS_1


"Siapapun yang menang, semua harus tetap kita dukung karena membawa nama baik perusahaan," ucap Gito.


Irene memilih merebahkan kepalanya di meja sembari mendengarkan perdebatan teman-temannya. Ia masih syok dengan pengumuman yang diberikan Pak Wibowo di kelas. Sepertinya, dosen paruh baya itu memang sedang berniat mengerjainya.


__ADS_2