Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 280


__ADS_3

Cahaya matahari perlahan menyusup melalui jendela kamar, menghiasi ruangan dengan kehangatan yang lembut. Irene masih terlelap di tempat tidur dengan senyum manis menghiasi wajahnya.


Srak!


"Uh ...."


Irene menggeliat saat terpaan silau mentari pagi mengenai matanya. Perlahan ia membuka mata memerhatikan sekeliling. Alan tampak berdiri di depan jendela sembari tersenyum memandangi dirinya.


"Selamat pagi, Sayang. Tidurmu pasti sangat nyenyak," sapa Alan dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


Irene memanyunkan bibir. Ingatan kejadian semalam kembali berputar dalam memorinya. Alan sangat menyebalkan hingga membuat seluruh tubuhnya terasa sakit akibat semalam.


Tadi malam menjadi malam yang paling romantis dalam hidup Irene. Ia menghabiskan waktu seharian bersama Alan. Bahkan akhirnya mereka melakukan bulan madu yang sesungguhnya.


"Oh, kenapa istriku pagi-pagi manyun?" tanya Alan. Ia berjalan menghampiri sang istri seraya memberikan kecupan selamat pagi. Ia turut merebahkan diri di samping Irene dengan mengenakan handuk kimononya.


Irene membuang pandangan ke arah lain. Ia terlihat kesal kepada suaminya sendiri.


"Kenapa, Sayang, masih sakit?" tanya Alan. Ia sepertinya tahu kenapa Irene kesal dengannya.


"Masih tanya! Ya sakit!" jawab Irene dengan ketus dan nada merengek.


"Oh, Sayang, kasihan," kata Alan seraya mencium dan memeluk sang istri dengan hangat. "Maaf ya, Sayang. Semalam aku sudah berusaha melakukannya dengan lembut," lanjutnya.


"Tapi tetap saja sakit!" keluh Irene.


Alan menyunggingkan senyum. "Katanya kalau belum terbiasa memang begitu. Kalau sering dilakukan juga bikin ketagihan," goda Alan.


"Nggak, nggak! Kapok. Pokoknya nggak mau!" tolak Irene dengan kesal. Ia sudah tidak percaya dengan Alan.

__ADS_1


Bujuk rayuan maut sang suami membuatnya terbuai hingga lupa daratan. Saat dilakukan, ternyata kesakitan. Ia sempat merengek dan ditertawakan Alan. Lelaki itu terus merayunya untuk bermesraan sepanjang malam hingga akhirnya seluruh tubuhnya terasa lemas tak berdaya.


"Sini aku buktikan, pasti sudah tidak sakit lagi," goda Alan lagi.


"Berani melakukannya, kita musuhan!" ancam Irene.


"Hahaha ... Maaf, Sayang, iya, tidak lagi-lagi," kata Alan menenangkan. Ia kembali mencium sang istri untuk menunjukkan betapa besar rasa cinta yang ia miliki terhadap wanita itu.


"Setidaknya semalam kita sudah berusaha demi mewujudkan impian Mama dan Papa untuk memiliki cucu. Kalau gagal, kita ulang lagi, ya," ledek Alan.


"Ah, Kakak!" seru Irene kesal.


"Hahaha, oke, oke ... Aku akan berhenti," katanya. "Bagaimana kalau sekarang kita sarapan dulu? Kamu pasti sudah lapar setelah semalaman berolahraga berat."


Irene melotot. Alan hanya bisa tersenyum.


"Jangan galak-galak, ah!" pinta Alan. "Ayo sarapan!" ajaknya lagi.


"Mau aku gendong ke meja makan?" tanya Alan.


Irene menggeleng.


"Baiklah, biar aku pindahkan makanannya saja ke ranjang," kata Alan. Ia terlihat seperti suami yang pengertian.


Alan membawa nampan berisi makanan ke arah tempat tidur. Ia meletakkannya di atas meja dekat tempat tidur.


"Sayang, pakai dulu piyamanya," kata Alan seraya memberikan kimono tidur kepada Irene. Ia tahu di balik selimut itu sang istri tidak mengenakan apapun.


"Jangan!" teriak Irene saat Alan berniat membuka selimut itu.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang. Aku kan hanya ingin menyingkirkan selimut ini. Kenapa istriku masih malu-malu padahal semalam juga sudah pegang-pegangan," goda Alan.


Irene mengenakan pakaian tidurnya sendiri dan duduk dengan rapi di atas ranjang. Ia berusaha menahan rasa pegal yang ada di tubuhnya.


Alan menyajikan makanan itu di hadapan Irene. "Silakan dinikmati sarapannya, Tuan Putri," kata Alan.


"Suapi!" rengek Irene.


Alan tertawa kecil dengan tingkah manja sang istri di pagi hari. Ia hanya mangguk-mangguk dan memaklumi kelakuan sang istri.


"Baiklah, memangnya apa yang tidak aku lakukan untuk Tuan Putri," katanya.


Alan mulai menyuapkan hidangan sarapan kepada sang istri. "Sayang, setelah ini kamu mau jalan-jalan kemana?" tanyanya.


Irene membuka mulutnya, membiarkan suapan Alan masuk dan mengunyahnya. "Hari ini aku tidak mau kemana-mana. Gara-gara Kakak sepertinya aku bahkan tidak akan bisa jalan," keluhnya.


Alan tersenyum kecil mengingat momen semalam. "Aku bisa menggendongmu, Sayang. Tidak perlu khawatir," rayunya.


"Tidak, aku mau di kamar saja. Terserah kalau memang Kak Alan mau jalan-jalan," kata Irene cuek.


"Oh, kalau memang kamu suka di atas ranjang, aku bisa menemanimu seharian." Alan tampak bersemangat mengatakannya.


Irene kembali melotot.


"Tidak, Sayang. Aku tidak akan macam-macam. Hanya menemanimu tidur di kamar," kata Alan sembari mengerlingkan sebelah mata.


"Kalau aku sudah pulih, aku mau ke Blue Lagoon, Kak," pinta Irene.


"Blue Lagoon ada di Oludeniz, kan? Aku dengar tempat itu sangat cantik, dengan air yang jernih dan pantai yang mempesona. Aku ingin kita bisa berenang dan bersantai di sana. Nanti kita naik mobil saja ke sana," kata Alan.

__ADS_1


"Ada satu lagi tempat yang ingin aku kunjungi bersamamu di Istanbul, yaitu Istana Topkapi. Aku ingin kita bisa merasakan atmosfer sejarahnya dan melihat keindahan arsitektur dan koleksi seninya," kata Irene.


"Tentu saja, Sayang! Aku juga sangat tertarik dengan sejarah dan kebudayaan Turki. Mengunjungi Istana Topkapi akan menjadi pengalaman yang luar biasa. Aku ingin mempelajari lebih dalam tentang peradaban dan kehidupan di masa lalu. Kalau bisa kita tidak usah pulang saja dan lanjut jalan-jalan keliling dunia," sambung Alan.


__ADS_2