
"Jadi, kamu itu Hyena?" tanya Bian memastikan.
Irene tersenyum. "Menurutmu bagaimana?" ia malah balik bertanya.
"Ya, masih tidak percaya saja selama ini aku dekat dengan penyanyi terkenal tapi aku tidak tahu." Bian merasa bodoh selama ini tidak bisa mengenali Irene.
"Aku memang tidak bermaksud untuk muncul sebagai Hyena. Acara waktu itu aku buat untuk seseorang makanya aku sekalian membuka identitasku," kata Irene.
"Tapi, kenapa selama ini kamu harus menyamar?" tanya Bian penasaran.
"Aku bosan jadi cantik!" jawab Irene dengan nada bercanda.
Bian menyerah. Ia tahu Irene tidak akan menjawab serius pertanyaannya. "Sudahlah, aku mau pulang!" ucap Bian sembari membereskan perlengkapan kuliahnya.
"Kamu marah?" tanya Irene melihat ekspresi wajah Bian yang muram.
"Nggak, untuk apa juga marah," jawab Bian. "Sekarang aku jadi tahu kenapa kamu bisa kenal baik dengan artis seperti Arvy, bisa dekat dengan Ares dan Pak Alan," katanya.
"Mereka juga baru tahu kok kalau aku aslinya seperti ini," kilah Irene.
Bian hanya mengembangkan senyum. "Aku pulang dulu, ya! Nida sudah menungguku," pamitnya.
Irene menghela napas. Bian terlihat kurang menyukai kejujurannya.
***
Ares berjalan sembali memantul-mantulkan bola basketnya usai latihan. Saat keluar dari aula, langkahnya terhenti. Ia lihat Irene ada di sana tengah dikerumuni beberapa lelaki. Irene terlihat tersenyum senang dan antusias berbicara dengan mereka.
Ada perasaan kurang nyaman yang Ares rasakan dalam dirnya melihat hal itu. Hatinya seperti tidak senang dengan apa yang Irene lakukan.
Selama ini teman Irene sangat terbatas. Bahkan Irene hampir tak memiliki teman selain dia, Bian, Winda, dan Jeha. Hari ini Irene seperti telah mencuri perhatian dengan penampilannya yang brrbeda.
Ares tak mau berpikir lebih jauh lagi. Ia lebih memilih memainkan kembali bolanya dan melewati kerumunan mereka.
"Ares!" seru Irene.
Ares menghentikan langkah. Terlihat Irene berlari ke arahnya meninggalkan kerumunan itu.
"Aku sudah menunggumu, kenapa malah kamu pergi?" protes Irene. Ia sengaja duduk di sana menunggu Ares yang masih latihan.
Keduanya melangkahkan kaki bersama melanjutkan jalan.
"Oh, kamu menungguku? Aku kira kamu mau ada acara jumpa fans. Banyak banget yang dekati kamu sekarang," ujar Ares dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Mereka hanya penasaran saja karena aku tampil beda di kampus. Paling besok juga sudah biasa lagi," kata Irene.
"Pasti menyenangkan rasanya ya, jadi pusat perhatian. Kamu melakukannya dengan sangat baik sampai semua lelaki terkagum-kagum padamu," sindir Ares.
Irene berhenti melangkah. Perkataan Ares barusan terasa menyakitkan untuknya. "Kenapa kamu menanyakan itu padaku?" tanya Irene.
Ares ikut berhenti. Ia lihat wajah Irene yang menunjukkan ekspresi kesalnya.
"Bukannya kamu pernah berada di posisiku? Bahkan sampai sekarang masih seperti itu, kan? Kamu tahu kan, rasanya?" tanya Irene lagi.
Ares terdiam.
"Apa salah kalau aku tampil apa adanya? Maaf kalau kamu merasa tempatmu digantikan olehku!" tegas Irene.
Awalnya Ares yang ingin marah dan kesal. Tapi, sepertinya Irene yang jadi berbalik kesal karena ucapan Ares. Bahkan tatapan Irene terlihat menyeramkan.
"Aku bahkan tidak mengharapkan perhatian orang dengan penampilan seperti ini. Sudahlah! Aku tidak jadi bicara denganm!" kesal Irene.
Ares menahan tangan Irene. "Maafkan aku! Ayo kita bicara," katanya.
Ares menarik tangan Irene agar ikut bersamanya. Ia membawa Irene ke salah satu kafe yang ada di lingkungan kampus. Ia memesan dua minuman untuk mereka.
"Jadi, kamu mau bicara apa?" tanya Ares seraya menyedot minumannya.
"Jangan begitu, dong ... Aku minta maaf. Aku paling tidak bisa dimusuhi olehmu," rayu Ares. Ia yang awalnya ingin marah jadi malah kena marah.
Dengan kesal Irene menyedot minumannya sampai tersisa setengah. "Pertengahan tahun akan ada kompetisi e-sport. Temanku sedang mencari anggota tim baru. Apa kamu minat untuk bergabung?" tanyanya.
Ares memicingkan sebelah alisnya. "Tim apa?"
"EagleWolf," jawab Irene.
Mata Ares langsung melebar mendengar nama tim esport yang Irene katakan. EagleWolf merupakan salah satu tim terbaik di negara ini.
"Ini serius?" tanya Irene memastikan.
"Serius. Ketua timnya pernah satu tim denganku. Dia bilang mau mengajakku tapi aku tidak bisa. Kalau kamu memang serius ingin mencoba ikut kompetisi tingkat dunia, gabung saja dengan mereka. Nanti aku kabarkan pada temanku," jawab Irene.
Masuk menjadi salah satu tim terbaik di tanah air tentu saja menjadi dambaan setiap gamer seperti Ares contohnya. Ia pernah ikut kompetisi nasional bersama timnya namun akhirnya kalah padahal telah dibantu beberapa kali oleh Irene.
"Kamu yakin merekomendasikanku?" tanya Ares masih tidak percaya.
"Kalau kamu mau ya oke. Akan langsung aku kabarkan pada temanku. Atau kalian bisa bicara secara langsung." Irene mengambil ponselnya dan mengirimkan nomor milik temannya kepada Ares.
__ADS_1
"Bukan begitu, kamu tahu kan kalau permainanku sangat payah," kata Ares.
Ia menyadari dirinya sendiri tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Irene yang memang sudah masuk menjadi jajaran pemain terbaik dunia.
"Masih ada cukup waktu untuk berlatih. Aku tidak bisa bermain setiap waktu bersamamu. Jadi, kamu bisa berlatih bersama mereka setiap hari," kata Irene.
"Takutnya nanti aku memalukan jika bermain dengan mereka."
Tim yang Irene rekomendasikan pastilah tim dengan kemampuan setingkat dunia. Meskipun ia menghabiskan banyak waktu dengan bermain game, kemampuannya pasti masih jauh di bawah mereka.
"Kapan orang bisa maju kalau tidak keluar dari zona nyaman? Katanya kamu mau jadi pro player, kan?" tanya Irene.
Ares menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. "Iya, sih. Tapi, sekarang aku juga mulai memikirkan untuk jadi pengusaha saja," ucapnya.
"Kalau bisa dua-duanya, kenapa harus satu?" ujar Irene.
Ares berdecih. Ares merasa Irene tengah memamerkan kelebihannya yang menguasai berbagai macam bidang.
"Kapasitas otakku tidak sebesar kamu, Ren. Otakku kecil," kata Ares.
"Ya, makanya otak dipakai supaya bisa membesar!" ledek Irene.
"Sudahlah, nanti aku pikirkan lagi," kata Ares. "Tapi, terima kasih kamu sudah merekomendasikanku. Jadi pro player memang keinginanku sejak dulu," ungkapnya.
Irene tersenyum. Ia menghabiskan minuman yang Ares berikan untuknya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu, ya!" pamit Irene.
"Tidak pulang selalian denganku?" tanya Ares.
"Kak Alan mau jemput, Res. Mungkin dia sudah menunggu di gerbang depan," jawab Irene seraya pergi meninggalkan kafe itu.
Ares hanya bisa memandangi punggung Irene yang semakin menjauh darinya. Setelah wanita itu pergi, ia menaruh kepalanya di atas meja dan merasa tidak bersemangat.
Ia mengerti bahwa perasaan yang ada di dalam hatinya tidak semestinya dipertahankan. Ia ingin menepisnya. Namun, ia seakan tak kuasa melakukannya. Bahkan setiap kali melihat Irene ia merasakan dua perasaan sekaligus: bahagia dan tersiksa.
***
Author ingin mempromosikan karya Author yang berjudul "Tangan Nakal Daddy".
Kisah Jessy yang akhirnya menjadi Sugar Baby demi mendapatkan uang untuk biaya hidupnya. Padahal di saat yang sama dia telah memiliki seorang pacar bernama Justin. Ternyata Sugar Daddy-nya adalah ayah pacarnya.
Bagaimana akhir kisah Jessy? Jangan lupa mampir dan baca 😘
__ADS_1