Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 161


__ADS_3

"Kak, sepertinya aku akan kesana dan ikut balapan," kata Irene saat menelepon Hamish.


"Benarkah? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Aku kira kamu sudah tidak tertarik lagi untuk ikut. Padahal aku mengusahakannya karena kamu dulu sangat menyukainya."


"Aku sudah memikirkannya lagi dan aku menginginkannya," ucap Irene.


"Baiklah, aku akan menyiapkan semua untukmu. Datanglah secepatnya!"


"Iya, Kak. Terima kasih."


***


Ares membawa bola basketnya setelah pulang dari kampus. Dilihatnya Alan tengah bersantai sembari membaca koran di ruang tengah.


"Kak! Aku dengar pembalap AI mau ikut di event balapan yang mengundang Kak Alan," kata Ares seraya duduk di samping kakaknya.


"Oh, aku sudah dengar," jawab Alan santai.


"Jadi bagaimana? Kakak mau datang memenuhi undangan itu?" tanya Ares.


"Tentu."


"Yah ...." Ares lemas mendengar jawaban kakaknya.


"Memangnya kenapa, Res?" Alan terkekeh melihat kelakuan adiknya.


"Kalau Kakak tidak jadi berangkat kan aku yang akan menggantikannya. Tapi, sepertinya mustahil kalau Kak Alan melewatkan momen balapan AI."


Alan tersenyum. "Kalau sudah tahu kenapa tanya?" ledeknya.


Padahal Ares sangat ingin liburan ke Eropa tapi gratis sekalian menonton balapan. Dengan tiket jalur undangan, orang bisa bertemu dengan pembalap yang diinginkan.


"Tapi, kalau dipikir-pikir selera Kak Alan memang agak aneh-aneh, ya ... Seperti penyanyi tanpa rupa Hyena, Si Menor Alenta, juga pembalap tidak jelas seperti AI. Nggak heran sih dulu Kak Alan bisa pacaran dengan wanita random seperti Sovia. Hahaha ...." Ares meledek balik Alan.

__ADS_1


Alan yang tidak terima, memukulkan koran yang dipegangnya ke wajah Ares.


"Memangnya seleramu juga jelas? Kamu sering membahas Xunqi, kan? Yang kamu sebut Dewi Game itu? Kalau dia cowok, berarti kamu homo!" Alan tak mau kalah meledek adiknya.


"Nggak mungkin, aku yakin Xunqi itu cewek!"


"Bisa jadi dia jelek."


"Bisa jadi juga cantik seperti Jessica Jane!"


Keduanya saling berdebat tak ada yang mau kalah.


***


Irene membawa tiket dan kopernya menuju ruang tunggu di lounge bandara. Hamish telah mempersiapkan segalanya termasuk tiket keberangkatannya. Ia pamit kepada keluarga Alan ingin pulang sebentar ke desa.


Irene berdiri di depan sebuah cermin besar menatap penampilannya. Ia tak perlu menyamar sebagai orang lain.


"Eh, bisa berikan saya segelas jus?" tanya Irene kepada salah seorang pramugari yang bertugas di pesawat itu.


"Oh, baik, tunggu sebentar," ucap pramugari tersebut dengan ramah.


Irene terlihat antusias menikmati perjalanannya kali ini. Sudah cukup lama ia tidak melakukan perjalanan jarak jauh, apalagi untuk balapan.


"Loh, Alenta?" sapa Alan.


Irene tertegun saat terdengar suara Alan menyapannya. Ia menoleh ke arah suara, Alan tepat berada duduk di sampingnya.


"Kak Alan? Ah! Maksud saya, Pak Alan!" Irene sampai hampir salah memanggil Alan. Seharusnya Alan tahu kalau Irene tidak akan pergi karena pamit ke desa. Ternyata lelaki itu akhirnya mau pergi. Ia kira Alan tak mau datang.


"Kamu mau kemana?" tanya Alan.


"Mau mengunjungi teman lama," jawab Irene. "Anda sendiri?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku mau menonton balapan."


Irene mangguk-mangguk. "Anda memiliki hobi yang cukup mahal."


"Aku bekerja memang untuk menyenangkan diri sendiri," jawab Alan.


"Tidak bawa pacar, Pak? Masa bersenang-senang sendirian? Ini bukan urusan bisnis, kan?" sindir Irene.


"Kalau aku punya pacar juga pasti sudah aku ajak. Memangnya sendirian dilarang untuk bersenang-senang?"


"Tidak juga sih, Pak. Aneh saja orang seperti Anda masih sendiri," pancing Irene.


"Nona, ini jus yang Anda minta." pramugari membawakan pesanan yang diminta Irene.


"Terima kasih," ucap Irene.


Alan dan Irene melewati penerbangan panjang yang tidak membosankan. Mereka menghabiskan waktu dengan memperbincangkan hal-hal random yang membuat suasana lebih menyenangkan. Hingga akhirnya mereka sampai di bandara tujuan.


Hamish berdiri di bagian kedatangan menunggu Irene muncul. Saat ia melihat wanita itu, ia melambaikan tangan memberi tanda keberadaannya.


Irene tampak setengah berlari menghampiri Hamish. Seperti biasa, ia akan berubah menjadi anak kecil yang manja ketika bertemu dengan sepupunya. Tanpa sungkan ia memeluk erat Hamish.


"Bagaimana perjalanannya, apa menyenangkan?" tanya Hamish dengan wajah bahagianya. Ia mengusap kepala Irene dengan lembut.


"Menyenangkan, Kak. Cuaca sepanjang perjalanan juga bagus. Penerbangan tidak ada kendala."


"Aku sudah memesankan hotel di dekat sirkuit. Mau langsung ke sana istirahat atau mau makan dulu?"


"Terserah Kak Hamish saja." Irene menggandeng lengan Hamish dan bergelayut manja kepada lelaki itu.


Alan melihat mereka dari jarak yang cukup dekat. Entah mengapa ia merasa tak begitu suka melihat kedekatan Alenta dengan lelaki yang pernah bertemu dengannya di sirkuit waktu itu.


Lelaki itu sepertinya punya hubungan yang dekat dengan Alenta, tidak mungkin hanya sekedar teman lama seperti yang wanita itu katakan di pesawat.

__ADS_1


__ADS_2