Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 288


__ADS_3

"Mba Mawar, ini lemarinya mau ditaruh dimana?" tanya pelayan rumah.


"Oh, itu di taruh saja di ruang tengah. Tanya pada Pak Mujib, aku sudah berdiskusi dengannya kemarin," kata Mawar.


"Baik, Mba."


Mawar naik ke lantai atas hendak ke kamarnya.


"Hiks! Hiks! Hiks!"


Mawar menghentikan langkah saat melewati kamar Adila. Dari arah luar terdengar suara sesenggukan yang memecah keheningan rumah. Mawar yang sedang berada di dekat pintu kamar, langsung merasa khawatir. Ia menghampiri pintu dan dengan cemas membuka kamar tersebut. Di dalamnya, ia menemukan Adila, sepupunya, sedang duduk dengan wajah yang basah oleh air mata.


"Adila, apa yang terjadi? Kengapa kamu menangis?" tanyanya khawatir.


Adila, dengan suara terputus-putus karena tangisannya, mencoba menjelaskan situasinya. "Mawar... aku... aku... hari ini aku memutuskan hubungan dengan Arvy. Huhuhu ...." ia menghambur memeluk Mawar. Keduanya saling berpelukan.


Mawar terkejut dan tertegun. "Memutuskan hubungan? Tapi kamu mencintainya, kan? Kenapa kamu melakukan itu?" tanyanya heran.

__ADS_1


Setelah kembali dari luar negeri, sikap Adila memang sudah banyak berubah. Bahkan Adila sempat mengalami trauma kepala yang membuatnya hilang ingatan. Selama itu Mawar diminta untuk sering menemani Adila agar tidak merasa kesepian. Apalagi mereka sepupu yang dulunya sudah dekat.


Adila berusaha menghentikan tangisannya. "Aku... aku tidak bisa bersama Arvy lagi. Aku tidak pantas lagi untuk dia," ucapnya.


Mawar sama sekali tidak paham dengan apa yang Adila maksud. Sejak pulang, Adila tidak bercerita apapun. Sepupunya itu menjadi lebih pendiam.


"Duduk dulu, Dil. Coba ceritakan dengan jelas kepadaku." Mawar mengajak Adila beralih ke ranjang. Keduanya duduk-duduk di sana.


Mawar menghapus air mata yang mengalir di pipi Adila. Ia membiarkan sepupunya sedikit lebih tenang.


Adila kembali menangis. Ia tidak kuat untuk membuka kembali luka lamanya yang menyakitkan. Ia hampir depresi dan ingin mati akibat hal itu.


Mawar tertegun dan tak bisa menyembunyikan ekspresi keprihatinannya. Ia mengerti betapa beratnya beban yang Adila pikul.


"Dila, apa Om dan Tante juga tahu tentang ini?" tanya Mawar.


Adila mengangguk. "Hanya kamu yang aku beri tahu, War. Jangan katakan pada siapapun, ini sungguh memalukan. Huhuhu...." ia menutup wajahnya sendiri.

__ADS_1


"Ini tidak benar, Dil. Kita harus lapor polisi. Siapa yang sudah melakukan itu padamu?" tanya Mawar kesal. Ia tidak terima ada yang melecehkan sepupunya.


Adila menggeleng sembari menangis. "Kalau sampai kamu melakukannya, aku lebih baik mati, War. Pokoknya jangan bahas itu lagi!"


"Tapi kamu sudah menjadi korban kejahatan, Dil! Orang itu harus dilaporkan pada polisi!" ujar Mawar.


"Tidak, tidak! Sudah, jangan bahas itu lagi. Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Huhuhu ...."


Adila tampak ketakutan. Ia tahu bahwa lelaki yang menolong dan melecehkannya itu bukanlah orang sembarangan. Meskipun ia menempuh jalur hukum, belum tentu akan berhasil. Apalagi orang tersebut merupakan orang asing.


Mawar dengan lembut mengusah kepala Adila. "Aku sangat menyesal mendengar apa yang telah kamu alami. Tapi itu bukanlah kesalahanmu. Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri atau merasa tidak pantas. Kamu adalah sosok yang berharga dan pantas mendapatkan cinta dan kebahagiaan," ucapnya.


Adila mengangkat wajahnya yang sedih, mencoba memahami kata-kata Mawar. "Bagaimana aku bisa membagi hidupku dengan Arvy setelah semua yang telah terjadi padaku? Aku merasa hancur dan takut dia akan mengetahui dan meninggalkanku."


Mawar mendekati Adila dan duduk di sampingnya. Dia meletakkan tangannya di pundak Adila sebagai tanda dukungan. "Jika Arvy benar-benar mencintaimu, dia akan mendukungmu dan memahami situasimu. Kita tidak bisa memprediksi bagaimana seseorang akan bereaksi, tetapi kamu juga berhak mendapatkan kebahagiaan. Jangan biarkan rasa takut dan keraguan menghalangimu mencari kebahagiaanmu sendiri."


Adila menatap Mawar dengan pandangan yang penuh harap dan keraguan. Tetapi dalam tatapannya juga terpancar keteguhan hati yang perlahan tumbuh. "Tapi aku tidak yakin. Mungkin Arvy akan nekad mencari orang itu jika aku mengatakannya."

__ADS_1


__ADS_2