
"Sovia, sepertinya kami harus kembali ke dalam lagi," kata salah satu wanita itu dengan perasaan tidak nyaman.
"Iya, ayahku juga pasti akan mencariku," sambung salah satu yang lain.
Raut wajah Sovia berubah kesal saat kedua teman yang dibawanya pergi. Kini, ia hanya sendiri menghadapi Irene yang memang sulit ditakhlukkan.
"Sovia, sepertinya kamu lupa dengan pelajaran yang waktu itu ... Apa perlu aku buat tanganmu patah dan mulutmu bisu?" ancam Irene.
Sovia mengepalkan tangannya. Ia sangat kesal, namun harus tetap menyembunyikan perasaannya.
"Aku sebenarnya sangat malas kalau ribut. Tapi, karena kamu lawannya, ayo kita buat keributan sekarang!" ajak Irene.
Sovia memilih untuk tidak menggubris Irene. Ia memilih pergi dari sana mengikuti kedua temannya. "Tunggu!" seru Sovia. Ia menyeimbangkan langkah agar bisa sejajar dengan kedua temannya. "Kalian kok pergi, sih!" kesalnya.
"Sori ya, Sov! Wanita tadi menyeramkan dan gila, ya! Kayaknya kamu sudah salah mencari lawan," kata salah satu teman Sovia.
"Iya, Sov. Aku juga takut dengan dia. Biarpun jelek, kenapa bisa sepercaya diri itu, ya? Bisa-bisanya juga Alan menyukainya." satu teman yang lain geleng-geleng kepala.
Sovia menghela napas. Memang, Alan lepas darinya karena kesalahannya sendiri, bukan karena Irene. Ia hanya masih tidak menyangka wanita sejelek Irene bisa menjadi saingannya.
"Sudahlah! Lupakan saja. Kalian masih mau membantuku menjalankan rencana, kan?" tanya Sovia.
"Tentu saja, Sov. Kami akan selalu mendukungmu dengan Alan dari pada wanita tadi!"
Sovia mengembangkan senyum. Ia mengajak kedua temannya untuk berdiskusi merencanakan aksi yang akan dilakukannya.
"Kita buat wanita itu kapok dan menyesal sudah berani membuat masalah dengan kita!"
***
Alan masih asyik mengobrol dengan rekan bisnisnya. Irene berusaha bertahan duduk di samping Alan. Ia kembali meneguk minumannya hingga habis. Entah mengapa kepalanya terasa semakin pusing.
Pandangan mata Irene menjadi semakin kabur. Ia terus memijit dahinya yang pusing. Obrolan orang-orang di sana membuatnya muak.
__ADS_1
"Kak, sepertinya aku kurang enak badan. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" kata Irene dengan nada lirih.
Alan juga sebenarnya ingin segera pulang, namun pembahasan bisnis yang sedang dilakukannya sangat tanggung untuk ditinggalkan.
"Apa kamu tidak bisa menunggu sebentar lagi?" tanya Alan.
"Aku tidak kuat berlama-lama ditempat seramai ini," katanya.
"Kamu istirahat dulu sebentar, ya! Masuk ke kamar dan tidur saja. Kalau aku sudah selesai, nanti aku bangunkan." Alan memberikan sebuah kartu akses kamar yang memang telah disediakan untuk para tamu yang butuh tempat istirahat.
"Apa perlu aku antar?" tanya Alan.
"Tidak usah, Kak. Aku bisa sendiri," jawab Irene.
Alan meraih tangan Irene dan menggenggamnya sebentar. "Maaf, ya. Aku akan segera menyusulmu," pesannya.
Irene mengangguk. Ia bangkit dari sofa dan kembali berpisah dengan Alan. Langkahnya terlihat agak lambat menahan sakit di kepalanya.
"Satu target sudah tumbang rupanya," kata Sovia senang.
"Kalau begitu, biar aku pergi membuntuti dia untuk meneruskan rencana selanjutnya," kata salah satu teman Sovia.
Sovia bersama satu temannya terus memperhatikan Alan yang masih asyik bersama rekan bisnisnya. Saat Alan meneguk alkohol yang telah mereka persiapkan, keduanya kembali tersenyum senang.
"Sov, cepat kamu masuk ke kamar. Sepertinya obat yang Alan minum sebentar lagi akan bereaksi. Nanti aku pastikan dia masuk ke dalam kamarmu," kata teman Sovia.
"Aku mengandalkanmu, Ayyun!" kata Sovia bersemangat. Ia sampai memeluk temannya sebagai wujud rasa terima kasih.
Sofia melenggang dengan bahagia menuju kamar yang telah dipersiapkan. Setelah sekian lama, akhirnya ia akan bisa menikmati waktu berdua dengan Alan. Sudah lama mereka tidak saling berpelukan. Malam ini, ia akan pastikan Alan menghabiskan setiap detik bersamanya hingga fajar tiba.
"Alan, malam ini kita akan tidur bersama," gumamnya senang.
Sovia memasuki kamar yang telah ditata dengan sangat rapi dan wangi selayaknya kamar pengantin. Ia menanggalkan gaunnya seraya mengganti dengan pakaian tidur yang menggoda.
__ADS_1
Alkohol yang diberikan kepada Alan telah ia campur dengan obat perang sang. Alan tidak akan mampu menahan hasratnya jika ia ajak tidur bersama.
Sovia telah menyusun rencana dengan sangat rapi. Ia mengganti akses kamar yang diberikan kepada Alan dengan kamar yang ditempatinya sekarang. Jika Alan datang dan masuk kamar, Alan pasti akan mengira dirinya adalah Irene.
Ting!
Satu pesan masuk ke ponsel Sovia. Dari Ayyun, temannya.
Alan sudah berjalan ke arah kamarmu. Kamu sudah siap, kan?
Sovia menyunggingkan senyum membaca pesan dari Ayyun. Ia kembali melihat penampilan dirinya yang sangat menawan dan sek si di cermin. Tak lupa ia semprotkan minyak wangi agar semakin menggoda. Tak sabar rasanya untuk bercumbu mesra dengan Alan.
"Malam ini wanita sialan itu akan tidur dengan lelaki yang aku sewa. Sementara, Alan akan tidur denganku. Pokoknya, malam ini benih Alan harus memenuhi rahimku. Aku harus mengandung anak Alan dan melahirkan penerus keluarga Narendra. Kakek tua bangka itu pasti tidak akan menolakku lagi kalau aku berhasil mengandung anak Alan."
Sovia tersenyum licik. Ia memang sudah menantikan rencana itu sejak lama. Apapun caranya akan ia lakukan asalkan Alan bisa kembali padanya.
Sebenarnya Sovia kurang berminat memiliki anak. Tapi, demi Alan, ia akan memakai hal itu untuk menjebak Alan.
Tak berapa lama, terdengar langkah kaki di bagian depan koridor luar kamar Sovia. Senyuman Sovia semakin lebar. Ia sengaja tidak menutup pintu kamarnya agar Alan bisa mudah masuk.
Sovia mematikan lampu di kamarnya. Ia ingin Alan mengira di kamar itu adalah Irene. Meskipun wanita itu jelek, Sovia rasa Alan menyukai Irene. Lelaki yang punya rasa suka pada wanita, pasti akan menginginkan hubungan badan apalagi di bawah pengaruh obat yang diberikannya.
"Sayang, akhirnya kamu datang," ucap Sovia seraya memeluk tubuh kekar lelaki itu.
Akibat pengaruh obat yang diberikan, pelukannya disambut dengan ciuman agresif. Sovia merasa sangat senang obat yang diberikannya bereaksi sangat kuat. Sudah lama ia tidak berciuman dengan Alan dan malam ini kerinduannya terbayarkan.
Alan menjadi lebih agresif dan berani menyentuh tubuhnya. Sovia merasa bahagia merasakan sentuhan Alan yang selama ini belum pernah ia rasakan.
Lelaki itu sampai menggendongnya ke atas ranjang tanpa melepaskan ciuman. Adegan erotis di antara keduanya terjadi. Suara-suara erangan meluncur dari bibir keduanya.
Sovia tidak menyangka menghabiskan malam bersama Alan akan terasa begitu mendebarkan dan romantis. Ia rasanya sampai ingin menangis saking bahagianya. Alan yang selama ini tak mau menyentuhnya, akhirnya kini menyatukan diri dengannya. Ia semakin mencintai lelaki itu dan tak bisa melepaskannya.
"Alan, I love you," katanya.
__ADS_1