Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 155


__ADS_3

"Jo, kamu sudah tahu berita yang sedang trending?" tanya Zumi, manajer Jonathan.


Tampak Jonathan tengah duduk bersantai sembari menghisap rokok di ruangannya. Ia hanya tersenyum mensengar kabar yang Xumi bawa.


"Jangan bilang ini semua ada hubungannya denganmu, Jo!" selidik Zumi. Melihat tingkah santai lelaki itu, ia jadi curiga pada Jonathan.


"Memangnya kenapa kalau ada hubungannya denganku? Itu hukuman untuk orang sombong dan angkuh seperti dia!"


Jonathan tanpa takut mengakui perbuatannya di hadapan sang manajer. Perasaannya sedang berbunga-bunga karena kabar yang menghampiri Arvy sangat menguntungkannya.


"Kamu ... Apa kamu sudah gila sudah melakukannya? Bagaimanapun juga, Arvy masih satu naungan manajemen denganmu!" Zumi menggerutu dengan perbuatan Jonathan.


"Job manggungku bertambah, kan?" tanya Jonathan sembari menghisap rokoknya. Tak ada beban maupun rasa bersalah yang terlihat pada raut wajahnya.


"Job manggung kamu memang bertambah karena banyak yang membatalkan kontrak dengan Arvy. Meskipun begitu, tidak seharusnya kamu menjatuhkan rekan sesama manajemen! Pimpinan sangat tertekan saat ini. Apa kamu tidak memikirkan imbas terhadap perusahaan?"


Jonathan melirik Zumi. "Kalau dia bisa menjaga sikap, mungkin hal semacam ini tidak akan terjadi. Salahnya sendiri punya hobi membuat orang sakit hati. Bukan hanya aku yang senang melihat pemberitaannya sekarang. Kamu kira aku yang menyebarkan rumor itu sendiri?" ia tak peduli dengan masalah yang menimpa Arvy.


"Kamu tidak usah repot mengurusi dia. Toh dia punya manajernya sendiri. Lebih. Baik tangani jadwal manggungku dengan baik!" pinta Jonathan.


Zumi tak bisa berkata-kata lagi. Ia justru mencemaskan Jonathan. Kalau sampai artisnya itu ketahuan terlibat, entah apa nanti yang akan terjadi.


***


"Jadi, bagaimana dengan kondisi Arvy sekarang?" tanya Bian khawatir.


Semalam Bian berkirim pesan dengan Arvy. Lelaki itu meminta maaf kepadanya tidak bisa mengantar dia ke sekolah seperti janjinya. Namun, ia tetap mengirimkan orang untuk mengantar Bian ke sekolah.


Bian bisa memaklumi, apalagi Arvy tengah dirundung fitnah yang menggemparkan.


"Aku tidak tahu. Semalam dia tidak pulang ke rumah," jawab Irene.


"Memang sebaiknya Arvy sementara tidak muncul sampai berita mereda. Aku lihat di kantor manajemennya, wartawan berkumpul untuk menunggu," sahut Nida.


Wanita itu sebenarnya sedikit kecewa karena gagal bertemu Arvy. Bian bilang ia boleh ikut berangkat ke kampus bersamanya agar bisa bertemu Arvy. Ternyata, semalam Arvy justru mendapat masalah.

__ADS_1


"Padahal dia datang bersama Adila hanya untuk menjengukku. Aku tidak menyangka jika akan muncul berita seperti ini." Bian merasa menyesal membuat Arvy terus menjenguknya selama di rumah sakit.


Irene mengernyitkan dahi. "Mereka menjengukmu? Kok bisa?" tanyanya heran. Tidak mungkin Arvy mau menjenguk orang yang dianggap tidak penting baginya. Kalau hanya karena Bian seorang fans-nya, rasanya juga tidak mungkin. Penggemarnya yang sangat banyak itu juga pasti akan sengaja sakit kalau bisa membuat Arvy datang menjenguk.


"Bian belum memberi tahu, ya? Sebenarnya Arvy yang sudah menabraknya tanpa sengaja," jawab Nida.


Irene terkejut mengetahuinya. Ia kira Bian hanya kecelakaan biasa yang melibatkan orang asing. "Bian! Kamu kok nggak bilang!" protes Irene.


"Aku kira itu tidak penting. Lagipula, aku tidak marah pada Arvy. Aku juga waktu jalan kurang-hati-hati," kata Bian.


Irene merasa kasihan dengan apa yang sedang Arvy hadapi. Ia tidak menyangka ada orang yang berniat jahat pada Arvy.


"Coba kamu bicarakan dengan Arvy kalau dia pulang. Apa aku perlu klarifikasi kalau kedatangan mereka bukan untuk ab0rsi melainkan untuk menjengukku?" tanya Bian.


"Apa itu tidak menjadi berita buruk juga?" Nida kurang setuju dengan ide pacarnya. "Aku lihat banyak yang curiga kalau wanita itu adalah Adila. Kalau kamu bilang begitu ke media, sama artinya dengan mengakui kalau memang mereka sedang pacaran. Fans Arvy itu sangat fanatik, mereka belum mau menerima Arvy punya pacar." Nida sebagai salah satu fans garis depan Arvy sangat paham bagaimana sikap para penggemar Arvy, terutama dari kalangan wanita.


"Apa yang Nida bilang ada benarnya. Tidak usah gegabah dulu menghadapi ini. Yang penting, kalian tetap jaga rahasia ini dari siapapun!" pinta Irene.


Keduanya mengangguk kompak.


Klek!


Marco langsung mengunci pintu ruangannya sesaat setelah berhasil masuk. Di area bawah ia sempat kesusahan menerobos wartawan yang memaksa ingin mewawancarai namun ia menolak. Di ruangannya sudah ada Arvy yang memakai Hoodie untuk menutupi wajahnya.


"Apa sekarang kamu mau membuatku mati jantungan?" teriaknya marah.


Ia bergegas datang ke kantor setelah lelaki itu memberi tahu kalau dia sudah ada di ruangannya. Pagi-pagi buta Arvy menghilang dar7 apartemennya.


"Kamu tidak tahu betapa banyaknya wartawan yang menunggumu di bawah sana. Bisa-bisanya kamu malah berad di sini, hah?" Marco tidak tahu lagi harus memberikan nasihat seperti apa agar Arvy mau menurut.


"Kak, tolong lindungi Adila. Beritanya semakin tidak terkontrol," pinta Arvy.


Marco tidak percaya dengan kemauan Arvy. "Di saat seperti ini kamu masih memikirkan orang lain? Kamu sendiri juga sedang kesusahan!"


"Aku memang memikirkan banyak orang, termasuk Kakak, karyawan di sini, juga perusahaan. Makanya aku datang ke sini untuk menyelesaikan secepatnya. Jangan pernah menyebut Adila sebagai orang lain. Dia pacarku!" Arvy terlihat tidak menyukai perkataan Marco.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa menunggu sampai kondisinya sedikit tenang?" pinta Marco. Kali ini nada bicaranya melembut karena takut dibentak Arvy.


"Lebih cepat di selesaikan, itu lebih baik!" ucap Arvy.


Ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan yang Marco kunci. Marco menghela napas. Sesaat kemudian ia ikut pergi mengikuti Arvy.


Artisnya itu kalau sudah punya mau tidak akan bisa diganggu gugat. Arvy sepertinya ingin menghampiri para wartawan sendiri.


"Loh! Arvy ada di sini?"


"Hah?"


"Arvy kapan masuk?"


Para karyawan yang berpapasan dengan Arvy merasa heran. Di luar, kondisi cukup kacau, namun ia tak gentar untuk turun.


Ketika Arvy sampai di halaman perusahaan, para wartawan langsung berkerumun dan berdesak-desakan agar bisa mendapatkan gambar terbaik Arvy. Sementara, Marco hanya berdiri pasrah di samping Arvy.


"Arvy, apa berita yang tengah beredar saat ini benar?"


"Arvy, siapa wanita yang ada di foto bersamamu? Apa benar itu pacarmu?"


"Apa benar kalian datang ke rumah sakit untuk melakukan ab0rsi?"


"Aku dengar wanita itu adalah Adila? Apa benar itu Adila?"


"Benarkah kamu menjalin hubungan dengan Adila?"


Arvy tak merespon satupun pertanyaan dari mereka. Ia berdiri dengan wajah serius di hadapan orang-orang yang menunggu jawaban darinya.


"Aku tidak akan berbicara dua kali di sini," kata Arvy memulai membuka suara.


"Apa yang dituduhkan adalah sebuah fitnah. Siapapun media yang pertama menyebarkan berita itu, bersiap-siaplah akan aku tuntut di pengadilan."


Setelah mengatakan hal itu, Arvy menerobos pergi menghindari para wartawan. Ia merasa sudah cukup melakukan klarifikasi. Marco mengikuti Arvy dari belakang. Petugas keamaan perusahaan membantu Arvy pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2