Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 250: Perdebatan


__ADS_3

Hamish bersama rombongan membawa Irene ke desa di mana kakek dan neneknya tinggal. Sebelumnya ia juga telah menempatkan beberapa anak buahnya untuk menjaga rumah tersebut agar kakek dan neneknya tidak bisa melakukan apa-apa.


Irene lega melihat kondisi kakek dan neneknya yang masih baik-baik saja. Ia memeluk mereka dengan perasaan sedih bercampur haru.


"Irene, ikut nenek ke dalam," pinta nenek.


Irene menurut. Ia meninggalkan Hamish bersama sang kakek di ruang tamu. Ada banyak anak buah Hamish yang mengawasi di sana.


Nenek mengajak Irene ke dapur untuk membuat teh dan menggoreng camilan.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya nenek sembari merebus air.


"Aku baik, Nek," jawab Irene yang mendapat bagian untuk membantu menggoreng.


"Alan bagaimana?" tanya nenek lagi.


Kali ini Irene terdiam.


"Nenek lebih setuju kamu dengan Alan. Tapi, Hamish sepertinya tidak akan mudah mengalah. Kamu bagaimana?"


Nenek selalu khawatir dengan apa yang cucunya rasakan. Tak ada hal yang bisa diperbuat apalagi Hamish telah menunjukkan sisi arogansinya.


"Aku tidak masalah, Nek. Terserah Kak Hamish saja," ucap Irene seperti seorang yang telah putus asa.


"Kamu sudah tidak mencintai Alan?" tanya Nenek.


Irene kembali terdiam.


"Atau Alan yang masih belum memaafkanmu?" tanya nenek lagi.


Irene tetap terdiam. Sulit untuk menjelaskan semuanya. Terakhir kali pertemuannya dengan Alan, lelaki itu telah meminta maaf padanya. Alan juga telah mengakui kekhilafannya. Namun, Irene merasa percuma jika ibu Alan masih menjadi penghalang di antara keduanya.


Belum lagi ia tidak bisa melawan Hamish. Ia satu-satunya saudara yang Irene miliki dan ia tahu jika Hamish sebenarnya tak pernah ingin berbuat jahat padanya. Lelaki itu saking sayang kepada Irene sampai melakukan berbagai cara.

__ADS_1


"Kalau kamu ingin pergi dari Hamish, nenek akan membantumu. Kaburlah nanti malam," ucap nenek.


Irene memandangi sang nenek dengan tatapan serius.


"Jangan mencemaskan apapun, lakukan apa yang kamu mau," kata Nenek. "Sekarang kamu sudah dewasa dan bisa menentukan pilihan sendiri. Pergilah kalau memang kamu tidak ingin bersama Hamish!" bujuknya.


Irene sangat ingin melakukannya. Namun, ia sadar bahwa Hamish tak akan memaafkan perbuatannya. Dengan jumlah anak buah yang banyak di sana, Hamish bisa saja tak segan untuk membakar kakek dan neneknya hidup-hidup.


"Sudahlah, Nek! Ikut Kak Hamish juga tidak ada salahnya," ucap Irene.


"Ren," panggil nenek.


"Aku sudah memutuskannya, Nek. Ini juga keputusanku!"


Perkataan Irene terdengar tegas. Nenek masih tidak percaya jika itu yang cucunya inginkan. Ia yakin Hamish telah melakukan sesuatu sampai Irene mau menurut.


Sementara itu, kakek dan Hamish yang berada di ruang tamu juga tengah membahas tentang Irene. Kakek sengaja mengambil kesempatan untuk berbicara berdua dengan Hamish.


"Hamish," ucap kakek dengan suara lembut, "aku tahu kamu mencintai Irene, tapi kamu tidak boleh memaksa dirinya untuk menikah denganmu. Itu tidak benar."


Kakek menggelengkan kepala. "Tidak, Hamish. Aku kenal Irene lebih dari kamu. Dia adalah anak yang baik dan tidak akan pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, bahkan jika itu berarti mengecewakan dirinya sendiri."


Hamish bangkit dari kursinya dan berkata dengan suara keras, "Kakek, kamu tidak tahu apa-apa. Aku mencintai Irene dan aku akan membuatnya bahagia bersamaku, apapun yang terjadi!" tegasnya.


Ucapan Hamish terdengar begitu kasar sampai kakek juga merasa tidak terima. Kakek berdiri dan menatap Hamish dengan tajam. "Tapi, kamu melupakan satu hal, Hamish. Irene wanita bebas dan memiliki hak untuk memilih hidupnya sendiri. Jangan pernah memaksa dia untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan."


"Sudah aku bilang, aku tidak pernah memaksanya!" bantah Hamish.


"Irene tidak mencintaimu, dia mencintai Alan yang telah aku jodohkan dengannya!" nada suara kakek ikut meninggi.


Brak!


Hamish membanting kursinya dengan penuh amarah. "Dasar tua bangka! Kamu yang sudah merencanakan semuanya di belakangku! Kalau bukan kakekku, sudah aku bunuh kamu!"

__ADS_1


"Oh, kamu mau membunuh kakekmu sendiri? Kamu mau membunuh semua orang, hah? Lakukan! Lakukan!" tantang kakek.


Irene yang mendengar percakapan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh, merasa bingung dan cemas. Ia segera berlari meninggalkan dapur dan menghampiri mereka. Dilihatnya kakek dan Hamish tengah bersitegang di sana.


"Oh, anak itu," guman nenek yang ikut di belakang Irene. Ia mengelus dada dengan kelakuan Hamish yang sangat kasar.


"Berhenti berpura-pura sebagai orang yang paling menyayangi Irene. Kamu hanya ingin memanfaatkannya untuk menentangku! Kamu hanya peduli untuk menemukan Zayn, cucu berhargamu!" bentak Hamish.


Kakek terdiam dengan perkataan Hamish. Apalagi ada Irene di sana.


"Tidak perlu basa-basi lagi. Irene sudah aku beri tahu semuanya," kata Hamish. "Apa perlu aku bunuh saja Zayn supaya akhir hayatmu menderita?" ancamnya.


"Cukup, Kak! Hentikan berkata-kata kasar." Irene maju menenangkan Hamish.


"Irene ...."


Irene menghentikan perkataan Hamish. Ia mengalihkan pandangan ke arah kakek. "Nenek selalu mengatakan bahwa aku harus mengikuti hatiku dan membuat keputusan yang terbaik untuk hidupku sendiri," ucap Irene dengan suara lembut. "Dan, hatiku memberitahuku untuk menikah dengan Kak Hamish. Aku mencintainya dan aku ingin hidup bersamanya."


Kakek menatap Irene dengan penuh kasih sayang. Sebenarnya ia tidak bisa mempercayai ucapan cucunya. "Aku tahu kamu pintar dan dewasa, Irene. Dan, aku percaya kamu akan membuat keputusan yang tepat. Tetapi, aku hanya ingin menegaskan bahwa kamu memiliki pilihan, dan kamu tidak boleh dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan."


Hamish, yang telah mendengar percakapan mereka, menjadi kesal dan marah. Dia berdiri dan berteriak pada Irene, "Kita pergi dari sini! Aku tidak akan membiarkan kalian semua menghalangiku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan!"


Irene merenung sejenak dan tiba-tiba ia menangis. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Namun, kakeknya dengan cepat menenangkan Irene dan menghiburnya. "Jangan khawatir, Irene. Kamu tidak sendiri. Kamu memiliki kami dan kami akan selalu mendukungmu."


"Irene, ayo pergi!" Hamish menarik paksa tangan Irene agar pergi dari sana.


Kakek dan nenek yang mencoba menghalangi dihadang oleh anak buah Hamish. Mereka hanya bisa menyaksikan Irene yang diseret paksa masuk ke dalam mobil milik Hamish.


"Kakek, apa yang harus kita lakukan?" tanya nenek sembari mengusap air mata yang menetes di pipinya.


"Satu-satunya orang yang bisa membantu adalah Alan. Jika memang dia masih menginginkan Irene, seharusnya dia memperjuangkannya," kata kakek.

__ADS_1


"Tapi, sepertinya hubungan mereka kurang baik. Irene bilang Alan marah setelah ia jujur tentang penampilannya."


❤️❤️❤️


__ADS_2