
"Dasar artis sok cantik!" Arvy masih mencoba mengejek Adila saat dirinya ditarik-tarik oleh sang manajer ke ruang reading.
"Apa? Dikira kamu ganteng aja!" Adila tidak mau kalah. Ia tetap marah-marah meskipun Helen sudah menasihatinya.
Mereka masih bertengkar sampai masuk ke ruang reading. Sudah banyak orang yang datang, termasuk para pemeran pendukung yang akan terlibat dalam pembuatan film tersebut. Mereka ikut keheranan melihat dua pemeran utama malah bertengkar di sana.
"Mereka kenapa?" tanya sang produser.
"Abaikan saja, tadi mereka sedikit bertengkar di ruangan sebelah," ucap Marko seraya menyeret Arvy ke tempat duduknya. Sengaja tempat Arvy dan Adila dipisahkan jauh supaya tidak bertengkar lagi.
"Wah, pemeran utama sepertinya sudah reading duluan sampai praktik bertengkar sebelum kita mulai," ledek Jordan yang dapat peran antagonis dalam film itu.
"Aku yakin Arvy belum baca skrip buatanku, deh ...," ujar Shanti. Dia sudah beberapa kali memilih Arvy sebagai peran utama dalam cerita film yang dibuatnya. Mungkin karena jadwal yang padat, setiap kali kegiatan reading, Arvy baru sempat membacanya.
"Maaf, Kak ... biasa itu Marco tidak bisa mengatur jadwal."
"Kok jadi aku yang disalahkan?" Marco kaget. "Coba deh Kak Santi bayangkan, masa dia yang dapat peran aku yang disuruh baca naskahnya ... memangnya aku yang mau akting?"
Perkataan Marco membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa.
"Kalau mau marah dengan artisku marahi saja dia sampai puas! Emang dia kepala batu susah dibilangin!" Marco menggerutu.
"Tolong kalau ada yang minat jadi manajer baru suruh hubungi aku. Soalnya yang lama kayaknya mau berhenti." Arvy memicingkan sebelah matanya.
"Eh, jangan dong ... kamu kan artis kesayangan Kak Marco." Marco langsung memijiti pundak Arvy.
"Film kita kali ini bergenre roman komedi, Arvy. Jaga hubungan baik dengan lawan main terutama Adila karena kalian akan sering bertemu," Shanti mengingatkan.
"Tenang, Kak. Aku artis yang profesional. Meskipun musuhan di belakang kamera, kalau sudah on frame, aku bisa jadi tokoh yang Kak Shanti mau."
"Adila juga, ya ... kita harus kerja sama dengan baik."
"Siap, Kak." Adila mengacungkan jempolnya.
"Bisa kita mulai sekarang proses readingnya?" tanya sang produser.
__ADS_1
***
Irene memarkirkan motornya di dalam garasi rumah. Ia melepaskan helm serta jaket yang dipakainya. Mengingat ucapan Ares di rumah sakit membuatnya merasa gerah dan ingin mandi.
"Irene! Kamu bawa motor Ares?" tanya Alan kaget.
"Ah, iya, Kak. Tadi Ares tangannya terluka jadi aku yang bawa motornya." Irene juga kaget karena tidak menyangka kalau Alan sudah pulang.
"Aku tadi sudah ditelepon Alex, katanya Ares ada di rumah sakit. Ares berkelahi lagi sampai tangannya patah?"
"Bukan berkelahi sih, Kak. Lebih tepatnya dikeroyok."
"Siapa yang berani mengeroyok Ares?" Alan tidak tahu kalau adiknya punya masalah dengan orang tertentu.
"Teman kampusnya. Kak Alan tidak usah ikut-ikutan, itu masalah Ares. Dia kan bukan anak kecil lagi." Irene berjalan melewati Alan berniat ke arah dapur untuk mengambil minuman.
Alan mengikuti arah gerak Irene. "Kalau hanya pertengkaran biasa antar teman, mungkin aku tidak akan mempermasalahkan. Tangan Ares sampai dibuat patah, mana bisa aku tinggal diam? Anak itu harus dipenjarakan. Umurnya juga pasti sudah cukup untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya."
"Kamu juga! Salah satu keluargamu sakit kenapa malah ditinggalkan?" Alan memarahi Irene.
"Baik-baik saja? Tadi Alex bilang harus di scan segala takut tulangnya benar-benar patah. Itu sudah termasuk luka serius."
"Percaya deh, Kak. Nanti kalau dia pulang juga sudah bisa merusuh di rumah." Irene mengambil toples di meja dapur dan membawanya ke ruang tengah untuk menonton TV.
Ia mengganti saluran TV dengan acara berita. Ternyata Alan masih mengikutinya dan duduk di sebelahnya.
"Kamu bisa bawa motor cowok?" tanyanya.
"Sejak kapan motor punya gender?" Irene menjawabnya dengan santai sembari memakan camilannya.
"Maksudku, motor yang biasanya dipakai anak cowok." Alan merevisi pertanyaannya.
"Kayaknya cewek juga banyak yang bisa naik motor seperti itu," kilah Irene. Akibat jawaban ngawurnya, Alan sampai menjitak kepalanya.
"Aduh!" pekiknya sembari memegangi kepalanya yang sakit. "Iya, Kak. Aku bisa bawa motor."
__ADS_1
"Aku baru tahu kalau kamu bisa. Biasanya kalau cewek yang bisa naik motor seperti itu, pasti anak nakal. Jangan-jangan kamu juga nakal, ya?"
Irene tersenyum manis ke arah Alan. "Apa aku pernah nakal? Bukankah aku selalu jadi anak baik ...," ucapnya sembari mengedip-ngedipkan mata genit.
"Hm, anak baik, ya? Aku dengar tadi ada yang membuat kerusuhan di kantor Alex," sindir Alan.
Irene tidak menyangka kalau beritanya sudah sampai di telinga Alan. Alex juga pasti kerepotan, setelah mengurusi perusahaan yang ia kacaukan, sekarang juga harus mengurusi Ares yang masuk rumah sakit. Ares di sana juga paling akan dimarahi habis-habisan oleh Alex.
"Itu ide Ares ... aku hanya membantu," Irene tersenyum meringis.
"Ares tidak mungkin seperti itu, ini pasti ulahmu. Sejak dulu dia ditolak masuk ke perusahaan juga biasa saja."
"Dia suka memendam dendam, Kak. Mungkin sudah memuncak saking kesalnya. Tadi juga cuma main-main sedikit, kami tidak melakukan apa-apa. Hanya ingin diperhatikan saja." Irene mencoba membela diri.
"Ada banyak cara lain yang bisa dilakukan. Di sana bukan hanya Alex yang melihat melakukan kalian. Kasihan kalau Alex nantinya kerepotan akibat ulah kalian."
"Kami juga pasti akan bisa bekerja dengan baik, Kak. Kami tidak akan mengecewakan Kak Alex dan perusahaan."
Alan terpaku mengamati Irene. Cara bicara, senyumannya, semakin terasa familiar untuknya. Dalam diri Irene, entah mengapa ia selalu melihatnya sebagai Miss A. Bagaimanapun perbedaan penampilan yang ditunjukkan, rasa nyaman ketika mereka berdekatan tetap terasa.
Sudah cukup lama juga Alan tidak berjumpa dengan Miss A. Terkadang, tengah malam ia sengaja keluar menuju area taman yang biasa Miss A tempati. Akan tetapi, hantu cantik itu tidak pernah datang. Ia ingin kembali bertemu dengannya, namun tidak tahu bagaimana cara untuk menemuinya.
"Kenapa memandangiku seperti itu, Kak?" tanya Irene yang merasa sejak tadi diperhatikan oleh Alan.
"Ah, tidak ... " Alan mengelak. "Akhir-akhir ini aku lihat penampilanmu jadi lebih bagus tidak seperti biasanya. kamu cocok kalau rambutmu diurai, tidak diikat atau dikepang," ujarnya. Mungkin itu yang jadi salah satu alasan mengapa Irene terlihat mirip dengan Miss A.
"Kak Alan suka padaku?" tanya Irene dengan nada santai. "Sovia pasti akan menangis meraung-raung kalau tahu hal ini. Pacarnya baru saja memujiku."
"Hahaha ... kamu ada-ada saja." Alan tidak bisa menahan tawa dengan perkataan Irene.
"Bagaimana kalau minggu depan kita nonton? Ada film hollywood yang baru," ajak Alan.
"Tapi, Kak Alan yang traktir, kan?" tanya Irene memastikan.
"Memangnya aku pernah menyuruhmu untuk membayar? Terakhir kali kita main ke snow world, siapa yang harus keluar banyak uang untuk membayarimu?"
__ADS_1
"Itu kan sudah kesepakatan, Kak Alan kalah jadi harus bayar. Nanti kalau aku sudah kerja, giliranku yang mentraktir Kak Alan."