Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 302


__ADS_3

"Ma, Irene dimana, ya?" tanya Alan yang baru saja beralih dari ruang tamu ke ruang tengah. Di sana hanya ada ibunya.


Ia melihat di sekitar, Alex dan Erika yang awalnya ada di sana juga sudah tidak ada.


"Mama tidak lihat Irene. Tadi Mama cuma bicara dengan Alex dan Erika," jawab Mama.


"Lalu, Erika dimana? Tadi Irene kan juga bareng Erika."


Alan terlihat kebingungan mencari istrinya. Ia sudah berpamitan kepada ayahnya untuk pulang karena sudah malam. Saat hendak memberi tahu Irene, ternyata istrinya itu tidak ada.


"Erika tadi sudah ke depan bareng Alex. Katanya Erika juga mau pulang," kata Mama.


Alan menggaruk kepalanya karena bingung. "Terus, Irene ada di mana, ya?" gumamnya.


"Dia ada di atas," sahut Alex yang baru saja masuk kembali dari halaman depan setelah mengantar Erika.


Alan terlihat kurang senang melihat keberadaan Alex. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung berjalan dengan langkah cepat ke arah lift. "Apa dia mau melihat kamarnya yang dulu?" tebaknya sembari menunggu lift mengantarkannya ke atas.


Alan berjalan keluar setelah lift terbuka. Tak ada yang berubah dengan suasana lantai tiga yang biasa mereka tempati beramai-ramai. Tetapi saat dia memasuki kamar Irene yang terbuka, tidak ada siapa-siapa di sana.


Samar-samar ia mendengar percakapan orang dari arah balkon. Ia keluar dari kamar Irene dan berjalan menghampiri balkon di lantai tiga itu.


Langkahnya terhenti seketika saat melihat Irene dan Ares berdiri berdekatan dengan wajah mereka yang tampak akrab, bahkan ada sedikit pelukan yang terjalin di antara mereka. Hatinya terasa hancur, perasaan cemburu dan kekhawatiran langsung menyergapnya.


"Irene!" serunya dengan nada kesal.


Suara Alan membuat Ares dan Irene terkejut. Keduanya langsung melepaskan pelukan dan saling menjauh.


Alan yang penuh emosi mendekati mereka dengan langkah panjang, mengambil tangan Irene dengan cepat dan tanpa berkata apa-apa, membawanya menjauh dari Ares. Irene terkejut dengan tindakan Alan yang tiba-tiba dan mencoba melepaskan tangannya.


"Sayang, tunggu sebentar! Aku bisa menjelaskannya," ucap Irene dengan raut wajah yang panik. Alan terlihat sangat marah melihat mereka berdua seperti itu.


Alan hanya terdiam menatap dengan pandangan tajam ke arah Irene dan Ares secara bergantian.


Ares tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga mematung melihat keberadaan kakaknya di sana secara tiba-tiba.


"Apa yang kamu pikirkan, Res? Kenapa kamu berbuat seperti ini?" tanya Alan dengan nada kesalnya.

__ADS_1


"Kak, kami tidak ada apa-apa," kata Irene denangan nada yang lembut.


Alan tak menunggu respon dari adiknya. Ia tetap membawa Irene keluar dari ruangan tanpa menggubris kata-kata Irene. Wajahnya penuh dengan rasa sakit dan kekecewaan.


Tangan Irene terus ditarik agar mengikuti langkah lebarnya sampai membuat wanita itu kewalahan menyeimbangkan langkah.


"Sebenarnya kalian sedang apa?" tanya Alan saat mereka berada di dalam lift.


"Tidak ada apa-apa, Kak. Ares kan memang begitu ... Kelakuannya suka seenaknya," kilah Irene.


"Seharusnya kamu bisa menempatkan posisi, kan? Kamu sudah jadi seorang istri. Memangnya boleh dipeluk sembarangan oleh lelaki lain? Sekalipun itu adikku, hah?" kesal Alan.


"Kak, aku bisa menjelaskan. Itu hanya ...."


"Jangan berbohong padaku! Aku melihat sendiri, Irene!" bentak Alan. Ia memotong perkataan Irene yang bahkan belum selesai diucapkan.


"Iya, aku mengaku kalau tadi memang ... Ares memelukku," kata Irene dengan suara yang mengecil.


Alan tidak habis pikir dengan mereka. Belum selesai rasa kesalnya pada Alex, kini istrinya juga membuatnya kesal.


Bertepatan dengan ucapan Alan, pintu lift terbuka. Ia keluar lebih dulu meninggalkan Irene.


"Apa Kakak gila bisa bicara seperti itu?" guman Irene tidak percaya. Ia turut keluar dari lift dan mengejar Alan yang berjalan dengan langkah cepat.


"Ma, aku pulang sekarang, ya!" pamit Alan seraya memeluk dan mencium ibunya.


"Kenapa tidak menginap saja, Alan? Ini sudah malam," kata Indira.


"Kapan-kapan saja, Ma. Aku pulang dulu," tegas Alan seraya berjalan cepat ke arah pintu utama tanpa menggubris keberadaan Alex di sana.


"Ma, aku juga pamit, ya." Irene mengikuti Alan pamitan dengan ibu mertuanya. Ia juga berpamitan dengan Alex.


Irene berjalan mengejar Alan yang lebih dulu keluar. Saat bertemu dengan ayah mertua, Alfa dan Arvy, ia juga berpamitan dengan mereka.


Untung saja saat Irene sampai di depan, mobil yang Alan bawa belum pergi. Ia segera naik ke dalam mobil dan duduk di samping Alan.


Tampak Alan telah bersiap mengenakan sabuk pengaman dan menghidupkan mesin. Setelah Irene memasang sabuk pengamannya, Alan segera menginjak pedal gas dan membawa mobil itu melaju meninggalkan rumah besar.

__ADS_1


"Kak, ini hanya kesalahpahaman. Ares dan aku hanya ...."


"Cukup! Aku tak mau mendengar alasanmu. Aku tidak bisa percaya bahwa kalian berdua telah melanggar kepercayaanku seperti ini."


Alan tidak mau mendengar alasan Irene. Ia tahu adiknya menyukai sang istri. Melihat keduanya berpelukan sungguh menyakitkan. Alan menambah kecepatan berkendara seperti orang yang sedang balapan.


"Sumpah, Kak! Aku tidak seperti itu! Ares yang tiba-tiba saja menarikku!"


Irene berusaha keras memberi penjelasan. Ia ingin Alan tahu bahwa dirinya tidak seperti yang dituduhkan.


"Benarkah? Aku kira kamu sengaja bertemu dengannya sembunyi-sembunyi sampai naik ke lantai tiga," kata Alan dengan nada yang ketus.


"Tadi aku sendirian di atas. Aku juga tidak tahu kalau Ares bakalan datang ke sana dan menemuiku. Sumpah, Kak, aku tidak seperti yang Kakak pikirkan," rengek Irene.


Alan semakin menggila memacu mobilnya di jalanan dengan kecepatan yang semakin tinggi. Irene sampai berpegangan pada sabuk pengaman yang melilitnya. Ia melirik ke arah Alan yang ternyata masih fokus ke jalan dengan raut kesal.


"Aku minta maaf kalau sudah membuatmu marah," kata Irene.


***


Ares turun dari lantai atas dengan wajah lesu. Ia melihat Irene dibawa pergi secara paksa oleh Alan dari hadapannya.


"Res, kamu dari mana?" tanya Indira.


Ares mengarahkan pandangan ke arah ibunya. Di sana juga ada Alex. "Dari atas, Ma," jawabnya. "Ambil ini dari kamar." Ares memperlihatkan sebuah bola basket.


"Irene dan Alan kenapa? Tadi mereka juga dari atas. Tapi kayaknya mereka sedikit bertengkar. Mereka sudah pulang," tanya Indira.


"Aku tidak tahu, Ma," jawab Ares singkat. Meskipun ia tahu alasannya, ia tak akan menyampaikan alasan itu kepada siapapun.


Ares dan Alex saling bertatapan. Alex seakan ingin menyampaikan bahwa ia tahu semuanya.


"Jadi bagaimana? Malam ini kamu akan menginap di sini, kan?" tanya Indira memastikan.


"Maaf, Ma. Aku tidak bisa. Aku mau pulang saja," jawab Ares dengan nada yang terdengar lesu.


Setelah memeluk dan mencium ibunya, Ares memilih pergi lewat pintu samping tanpa berpamitan dengan yang lain.

__ADS_1


__ADS_2