Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 180


__ADS_3

Myria menyewa sebuah pondokan untuk dirinya dan Irene menginap. Ia berusaha membuat keponakannya merasa nyaman dan tidak terlalu bersedih. Sepanjang hari Irene terus berdiri di dekat jendela kaca memandangi salju yang masih turun.


"Sudahlah, kamu jangan terlalu khawatir. Anak buahku sangat bisa diandalkan. Mereka juga menggunakan anjing pelacak, jadi kekasihmu itu pasti akan segera ditemukan," kata Myria.


Irene kembali memeluk bibinya. Ia sangat butuh sandaran saat ini. Rasanya ia tidak bisa tenang sebelum mereka ditemukan.


"Nona Myria!"


Tiga orang anak buah Myria datang ke sana.


"Ada apa?"


"Kami sudah menemukan salah satu dari orang yang kami cari."


Myria dan Irene merasa senang mendengar berita itu.


"Siapa yang sudah kamu temukan?" tanya Myria.


"Tuan Alan, Nona."


Irene merasa bersyukur akhirnya Alan bisa kembali ditemukan.


"Tuan Alan masih belum sadarkan diri. Area perutnya terluka diduga terkena tusukan ranting. Dia sedang menjalani operasi kecil di rumah sakit tersekat di area ini."


"Antar kami ke sana!" pinta Myria.


Mereka segera bergegas menuju rumah sakit yang dimaksud.


Sesampainya di sana, kondisi rumah sakit tampak ramai. Banyak mobil ambulan yang berdatangan mengangkut satu per satu mayat dari korban longsoran salju.

__ADS_1


Irene merasa tegang. Ia khawatir Arvy atau Adila menjadi salah satu korban seperti mereka.


Ruang tempat Alan menjalani operasi masih tertutup. Menurut anak buah Myria, operasinya memang belum selesai. Irene menunggu di luar dengan perasaan cemas. Myria yang selalu mendampingi berusaha menguatkan Irene.


Selang satu jam kemudian, dokter tampak keluar dari ruang operasi. "Operasi berjalan dengan baik. Namun, kondisi pasien masih belum bisa dipastikan. Ia mengalami hipotermia. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan biasa," ucap sang dokter.


Irene merasa lemas. Ia berharap Alan segera bisa tersadar dan sembuh seperti sedia kala.


"Tante, temanku Arvy dan Adila juga masih belum ditemukan. Tolong cari mereka sampai ketemu," pinta Irene.


"Iya, kamu tenang saja. Aku masih menyuruh mereka untuk melakukan pencarian kedua temanmu itu."


Irene mengingat kembali momen kebersamaannya dengan Adila. Ia merasa menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri kenapa waktu itu harus mengajak Adila. Jika ia tak mengajak Adila, pasti wanita itu tidak akan menjadi salah satu korban longsoran.


***


Irene duduk di samping Alan, memegangi tangan lelaki itu yang terasa dingin. Air matanya mengalir, ia menangis sesenggukan.


"Kak, bangun ... Kita kan mau liburan dan bersenang-senang. Kenapa jadi begini."


Alan tak merespon perkataannya. Ia seperti berbicara sendiri di sana.


"Kenapa Kak Alan bodoh sekali ... Kenapa harus melindungiku? Seharusnya kamu menyelamatkan dirimu sendiri," gumam Irene.


"Irene, Arvy juga sudah ditemukan," ucap sang bibi yang masuk menemui Irene di ruang perawatan Alan.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Irene khawatir.


"Iya, dia hanya mengalami luka ringan. Dia juga sedang dirawat di rumah sakit ini. Ruang XXX nomor XX"

__ADS_1


"Aku mau menemuinya dulu. Tante tolong suruh orang untuk menjaga Kak Alan sebentar, ya!" pinta Irene.


Ia bergegas menuju ruang perawatan Arvy.


Brak!


Ia membuka pintu ruangan Arvy dengan cukup kuat seperti mendobrak. Dilihatnya Arvy tengah duduk di atas ranjang perawatan dengan tangan kanan yang dibalut perban.


Irene menghampiri Arvy dan memeluknya. Ia menitihkan air mata karena bahagia melihat Arvy yang baik-baik saja. "Syukurlah Kakak baik-baik saja," ucapnya.


"Lalu, dimana Adila?" tanya Irene.


Arvy menggeleng. Raut wajahnya jelas sekali menunjukkan kesedihan. "Kami terpisah saat longsor terjadi. Aku belum tahu dimana dia berada."


Arvy merasa tak berdaya mengetahui kekasihnya hilang dalam bencana itu. Ia bahkan belum bisa berjalan dengan baik karena kakinya terkilir, apalagi untuk mencari Adila sendiri.


"Bagaimana kondisi kakakku?" tanya Arvy.


"Dia masih belum sadar. Dokter telah mengoperasi luka robekan di perutnya."


Irene dan Arvy pindah duduk di dekat jendela memandangi gunung yang tertutup salju. Beberapa kilometer dari tempat mereka berada, Adila masih belum ditemukan.


"Tadi Adila memintaku untuk ikut main perang bola salju bersamanya. Seharusnya aku ikut dengannya."


Arvy merasa menyesal telah menolak ajakan kekasihnya. Saat bencana itu terjadi, Adila sedang asyik bermain bola salju bersama orang-orang asing. Ia hanya memperhatikan dari jauh dan tiba-tiba longsor terjadi menerjang apa yang dilaluinya. Arvy yang berada di pinggir masih terkena sapuan longsor.


"Kemarin Ares meneleponku. Katanya kondisi perusahaan sedang tidak baik sepeninggal kakek. Beberapa orang menginginkan pergantian presdir. Kita harus bagaimana? Kak Alan juga belum bangun."


"Aku tidak bisa berpikir kesana, Ren. Aku tidak akan pulang sebelum menemukan Adila." Arvy tampak bersedih dan tidak bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2