
Alan mengajak kakek dan nenek Irene makan bersama. Hidangan yang ada di rumah dikeluarkan semua untuk menjamu tamu spwsial itu. Sayangnya makan malam kali ini tidak lengkap penghuni rumahnya. Hanya ada Alan dan Ares yang bisa menemani tamu mereka.
"Kenapa rumah-rumah besar selalu berakhir sepi. Rumah Irene juga ...."
"Kakek, rumah kita kan kecil dan sempit di desa. Mana bisa dibandingkan dengan rumah orang kaya seperti ini." Irene memotong perkataan sang kakek. Ia datang ke keluarga itu mengaku sebagai anak desa dari keluarga miskin. Kalau Alan dan Ares tahu dirinya anak orang kaya, semua akan berantakan.
"Kita hidup di desa sudah sangat nyaman. Meskipun rumah kecil, tapi banyak tetangga." sang nenek berusaha membela Irene.
"Tapi, menurutku rumah kita tetap sepi. Makanya Kakek ingin menjemput Irene supaya pulang dan tinggal bersama kita," kata sang kakek.
Irene terkejut dengan maksud kedatangan sang kakek. Dalam hatinya, ia masih ingin tinggal di sana lebih lama lagi. Memang, awalnya dia tidak betah dan ingin cepat pulang. Setelah sekian lama berada di sana, ia semakin tidak ingin pulang.
"Kenapa buru-buru ingin menjemput Irene, Kek. Biar dia tetap di sini menyelesaikan kuliahnya," ucap Ares. Meskipun kerap bertengkar dengan Irene, namun keberadaan Irene di rumah itu sangat membuatnya senang. Apalagi ia bisa berkumpul dengan kakak-kakaknya karena Irene.
"Irene bisa bersekolah di mana saja. Kalau memang dia mau sekolah lagi, aku bisa menyekolahkannya di sana," ucap sang kakek. "Lagipula, tujuan Irene ke sini katanya untuk dijodohkan dengan salah satu tuan muda di keluarga Narendra. Tapi, sepertinya cucuku yang jelek ini tidak ada yang mau. Jadi, sebaiknya dia kembali ke desa siapa tahu ada jodohnya di sana."
Alan dan Ares saling berpandangan. Mereka tidak bisa menimpali ucapan sang kakek. Mereka juga merasa tersindir karena saat awal kehadiran Irene, tidak ada yang menyukai wanita itu.
"Irene, kamu tidak dijadikan pembantu kan, selama berada di sini?" tanya sang kakek.
"Ih, Kakek ... Tentu saja tidak. Mereka semua baik. Apalagi Kakek Narendra yang sudah menganggapku seperti cucu sendiri," bantah Irene.
"Nenek juga mengira seperti itu. Kamu kelihatannya semakin kurus dan lusuh. Takutnya mereka menyiksamu selama berada di sini," sambung nenek.
"Hahaha ... Itu berlebihan, Nek! Mereka tidak ada yang berlaku buruk padaku. Aku bahkan sering ditraktir makanan enak oleh mereka," kata Irene.
__ADS_1
"Dari pada kami cemas denganmu di sini, lebih baik kamu pulang ke desa," pinta sang kakek.
Suasana kembali beku. Alan tampak tak bersera makan.
"Em, maaf. Saya mau kembali ke kamar," pamit Alan seraya meletakkan alat makannya.
Irene melihat punggung Alan yang pergi meninggalkannya. Ia jadi merasa sungkan terhadap Alan karena kakek neneknya sudah berpikiran macam-macam tentang keberadaannya di sana.
"Aku juga mau kembali ke kamar dulu. Irene, nanti antar kakek dan nenekmu ke kamar tamu di lantai bawah yang sudah dipersiapkan," kata Ares.
"Iya."
Ares turut meninggalkan meja makan seperti Irene.
Irene terdiam tak bisa menjawab. "Bagaimana kalau Kakek dan Nenek istirahat dulu di kamar? Kita bicarakan hal ini besok lagi," katanya.
"Kakek masuk kamar nanti saja. Mau menghirup udara segar di luar sebentar," kata sang kakek.
Kini tinggal Irene berdua saja dengan sang nenek. Irene menyandarkan kepalanya manja pada bahu sang nenek. Nenek mengelus kepala Irene, membangkitkan kenangan tentang masa lalu, masa dimana ia tumbuh dibesarkan dengan kasih sayang kakek dan neneknya.
"Nenek ...," panggil Irene.
"Hm?"
"Aku masih ingin tinggal di sini," katanya.
__ADS_1
"Padahal kami datang menjemputmu karena mengira kamu tidak akan betah di sini. Lalu, kenapa kamu harus berpenampilan seperti ini? Apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya Nenek khawatir.
"Aku hanya pura-pura jadi jelek. Aku tidak mau Kak Hamish tahu keberadaanku."
"Kenapa alasannya seperti itu, Irene? Kami sengaja mengirimmu ke sini agar bisa berjodoh dengan salah satu keluarga Narendra. Mereka bisa melindungimu dari Hamish. Pantas saja kami belum mendapat kabar tentang keputusan perjodohan ini. Kamunya jadi jelek begini, siapa yang akan mau dijodohkan denganmu?" protes sang nenek.
"Ah, Nenek ... Kenapa buru-buru mau menjodohkan aku segala? Aku masih sangat muda," rengek Irene.
"Apa salahnya menikah muda? Kamu masih bisa melakukan apapun setelah menikah. Bahkan ada yang akan selalu melindungimu."
"Kalau sudah tiba saatnya jodohku juga datang, Nek!"
"Kalau memang kamu tidak mau dijodohkan sekarang, kenapa tidak mau pulang?"
Irene memeluk neneknya dengan manja. "Nenek ... Sepertinya aku menyukai seseorang," katanya malu-malu.
Nenek tersenyum. "Apa salah satu dari mereka?"
"Aku tidak mau bilang!" kata Irene nakal.
"Walaupun kamu suka dengannya, apa lelaki itu juga akan suka juga denganmu? Dengan penampilanmu yang sejelek ini?" ledek sang nenek.
"Biar aku yang mengatasinya sendiri, Nek! Nenek cukup membantuku meyakinkan kakek supaya aku tetap boleh tinggal di sini," pinta Irene.
"Itu terserah kepada Kakekmu, Jessy. Tapi, mungkin Nenek akan mencoba bicara dengannya."
__ADS_1