
"Kakek mau apa ya, menyuruh kita mampir ke perusahaan sebentar? Jadi kita bolos kuluah pagi?" tanya Irene.
Seharusnya ia dan Ares berangkat pagi ke kampus karena ada kuliah pagi. Namun, Kakek menyuruh mereka ikut ke perusahaan sebentar. Kakek menaiki mobil yang Alan kendarai, sementara Ares mengemudikan mobilnya sendiri bersama Irene.
Ares menoleh ke arah spion, mengecek mobil Alan yang masih ada di belakangnya. "Aku juga tidak tahu. Mungkin mau ada pembagian saham atau harta warisan sebelum Kakek meninggal. Hahaha ...."
"Heh! Jangan bicara sembarangan!" tegur Irene. Ia paling tidak suka mendengar candaan tentang kematian.
"Bercanda, Ren ... Aku harap Kakek bisa berumur panjang sampai bisa melihat cicit-cicitnya lahir."
"Memangnya kamu sudah mau menikah dan punya anak?" Irene tertawa kecil mendengar ucapan Ares.
"Kalau kakak-kakakku sudah menikah, untuk apa juga aku menunda menikah? Tapi, kalau aku yang lebih dulu dari pada mereka, aku khawatir mereka tidak akan menemukan jodoh sampai tua. Terutama Kak Alan, dia yang paling tua dan hampir kadaluarsa masa perjakanya."
Irene menutup mulutnya karena tertawa. "Aku perlu melaporkan ini pada Kak Alan. Adik bungsunya mengolok-olok katanya Kak Alan hampir kadaluarsa," ancam Irene.
Ares melirik sekilas ke arah Irene. "Berani melakukan itu, aku usir kamu dari rumah."
"Aku laporkan Kakek kalau kamu berani macam-macam ...."
Ares tidak bisa membalas lagi ucapan Irene. Kalau sudah menyebut nama sang kakek, ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Oh, iya. Kamu di kampus nggak pernah kelihatan dekat dengan cewek manapun. Kamu gay, ya?" celetuk Irene.
Ares hampir membanting stir mendengar pertanyaan menyebalkan Irene. "Memangnya aku harus memacari sembarangan wanita supaya kamu tidak usah bertanya seperti itu? Sialan!" kesalnya.
"Hahaha ... Aku kan hanya bertanya. Kayaknya banyak yang suka padamu di kampus."
"Bukan kayaknya lagi, tapi memang iya," kata Ares dengan sombongnya.
"Lalu, kenapa tidak pernah pacaran?" tanya Irene.
__ADS_1
"Belum ada yang cocok!" jawab Ares enteng.
"Memangnya kamu sukanya yang seperti apa?" telisik Irene. Ia tahu jika salah seorang temannya menyukai Ares.
"Yang jelas bukan kamu!" seloroh Ares.
Irene melirik kesal. Sementara, Ares tampak puas melihat ekspresi wanita yang ada di sampingnya.
"Aku punya seseorang yang aku sukai," kata Ares. "Tapi, sepertinya sulit untuk bertemu dengannya lagi."
"Siapa?" tanya Irene penasaran.
"Ada ...."
Ares tak memberitahukannya. Ia hanya teringat pada seorang wanita yang pernah membantunya berkelahi saat dikeroyok orang. Menurutnya, wanita itu terlihat sangat keren. Namun, ia tak pernah bertemu dengannya lagi.
Mobil yang mereka kendarai sampai terlebih dahulu di perusahaan. Namun, mobil Alan belum tampak datang.
"Mungkin terjebak lampu merah," kata Irene.
"Selamat pagi, Pak Ares," sapa asisten kakek yang menyambut kehadiran mereka di sana.
"Pagi, Pak Moran. Kakekku belum datang, ya?" tanya Ares memastikan.
"Sepertinya belum. Saya sejak pagi sudah menunggu di lobi. Tuan Besar belum terlihat datang."
Ares mulai merasa ada yang tidak beres. Ia yakin jaraknya dengan mobil Alan tak terpaut jauh. Meskipun tertahan di lampu merah, pasti tidak akan sampai lama untuk bisa sampai di sana. Ia sudah menunggu selama 15 menit dan belum ada tanda-tanya mobil Alan datang.
"Silakan Pak Ares menunggu di dalam atau bisa langsung ke ruangan Tuan besar," pinta asisten kakek.
Akhirnya, Irene dan Ares mengikuti Pak Mores masuk ke dalam perusahaan. Mereka diarahkan naik melalui akses lift khusus bagi petinggi penting di perusahaan.
__ADS_1
Drrtt ... Drrtt ....
Ponsel Irene bergetar saat mereka sampai di lantai 20 hampir sampai di ruangan kakek. Ire e mengangakat telepon dari Ron.
"Halo, Ron, ada apa?" ia berusaha berbicara dengan nada lirih agar tidak ada yang mendengarnya.
"Nona, Pak Alex berulah lagi."
Suara Ron terdengar bergetar seperti merasa ragu untuk menyampaikannya.
"Maksudmu bagaimana?" tanya Irene penasaran.
"Tuan Alan kecelakaan, Nona."
Mendengar kabar dari Ron membuat Irene tertegun. "Tidak mungkin," gumamnya.
"Tuan Alan dan Tuan Narendra sudah dibawa ke rumah sakit XXX, Nona. Saya menunggu Anda di sini."
Napas Irene seakan terhenti. Baru saja pagi tadi mereka sarapan bersama dan berbincang dengan hangat. Tidak bisa dipercaya Alan mengalami kecelakaan karena ulah Alex.
"Irene, Irene .... Irene!" Ares harus setengah berteriak memanggil Irene yang sejak tadi tak mendengarkan tegurannya.
"Ares ...," ucap Irene dengan nada lemas.
"Kamu kenapa? Sejak tadi melamun, ya?" tanya Ares.
"Kak Alan kecelakaan, Res," kata Irene.
"Hahaha ... Kamu jangan bercanda. Mana mungkin?"
Ares merasa Irene sedang mengerjainya. Namun, melihat raut wajah Irene yang tampak lemas, ia yakin kali ini Irene serius. "Kecelakaan di mana?" tanyanya khawatir.
__ADS_1