
"Pagi, Res!" sapa Irene seraya duduk di samping Ares.
"Aku kira kamu tidak berangkat pagi ini," ucap Ares dengan raut wajah malas bertemu dengan Irene.
Sebelum berangkat ke kampus, ia sempat mengetuk pintu kamar Irene. Ia ingin mengajak wanita itu berangkat bersamanya. Namun, ia lama tak mendengar jawaban dari kamar Irene. Akhirnya, ia memutuskan untuk berangkat ke kampus lebih dulu.
"Aku diantar Kak Alan," jawab Irene.
Ares kembali memasang raut tidak suka. Semenjak acara pertunangan itu, kakaknya memang menurutnya terlalu berlebihan. Alan meminta saudaranya yang lain agar tidak lagi mengantar jemput Irene seperti sebelumnya.
Ia ingin menganggap hal itu sebagai kewajaran karena memang sebentar lagi kakaknya akan menikah dengan Irene. Namun, ia yang sudah terbiasa akrab dengan Irene masih tak bisa menerimanya.
Seakan ada yang kurang saat kebersamaan mereka dibatasi. Ada banyak momen-momen menyenangkan yang pernah mereka lewati berdua. Kini, ia harus tahu diri untuk menjaga jarak dengan calon istri kakaknya sendiri.
"Kamu sudah dengar berita terbaru?" tanya Ares.
"Berita apa?" Irene terlihat penasaran.
"Aku dengar Adila sudah pindah ke luar negeri. Aku jadi khawatir dengan Kak Arvy."
Irene terdiam sejenak. Pantas saja beberapa hari terakhir Arvy terlihat murung atau bahkan tidak pulang ke rumah. Waktu itu Arvy juga memintanya bermain game bersama.
"Mungkin dia mau melakukan pengobatan. Adila belum bisa mengingat apapun," ujar Irene.
"Semoga saja begitu. Aku malah ragu kalau dia benar-benar Adila. Sikapnya kelihatan sangat berbeda dengan dia yang dulu."
"Namanya juga orang lupa ingatan, Res."
__ADS_1
"Selamat pagi," sapa sang dosen yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.
"Selamat pagi, Bu," jawab para peserta kuliah dengan kompak.
Irene dan Ares mengakhiri percakapan mereka. Dosen Surty akan marah jika ada mahasiswa yang berbicara sendiri di kelas.
"Pagi ini kita kedatangan salah satu mahasiswi baru, namanya Miranda," kata sang dosen.
Terlihat seorang wanita muda yang cantik berdiri di depan kelas. Perawakannya cukup tinggi dengan tubuh yang jenjang seperti model. Mata lelaki tentu saja langsung tertuju pada wanita cantik itu.
"Miranda pindahan dari Amerika Serikat, rencananya akan melanjutkan kuliahnya di sini. Ibu harap kalian bisa akrab dengannya dan memberikan kesan yang baik tentang sekolahan kita."
"Asik! Ada yang cantik lagi di kelas kita!" seru salah satu mahasiswa yang berani.
"Halo semua, perkenalkan namaku Miranda Agnesia, senang bertemu dengan kalian," kata Miranda.
Ibu dosen mempersilakan Miranda untuk duduk di tempat yang masih tersedia. Banyak mahasiswa yang menawarkan tempat disamping mereka, namun Miranda justru lebih memilih duduk di samping Irene.
Sementara, Miranda masih sibuk.memperhatikan Irene. Ia heran sebenarnya kharisma apa yang dimiliki wanita itu. Menurutnya, Irene biasa saja bahkan di bawah standar cantik yang umumnya jadi patokan. Namun, wanita itu bisa menggeser posisi sepupunya dan menjadi tunangan seorang Alan.
Saat perkuliahan berakhir, banyak mahasiswa yang ingin berkenalan dengan Miranda. Kecantikannya sudah tidak diragukan lagi seperti model kelas dunia. Mereka bahkan memberikan hadiah-hadiah kepada Miranda di awal perjumpaan. Miranda segera menjadi idola di hari pertama kuliah.
Miranda tersenyum sinis memandangi hadiah pemberian mereka yang terlihat murahan. Ia menilai teman-temanya tidak ada modal untuk memberinya hadiah yang layak. Tanpa ragu, Miranda membuang hadiah-hadiah itu ke dalam tong sampah begitu saja.
"Itu bukan cara yang baik untuk menghargai pemberian orang lain," tegur Irene yang terkejut melihat kejadian itu. Mungkin saja teman-temannya sengaja tak makan siang demi membelikan roti atau camilan sebagai hadiah penyambutan Miranda. Namun, hadiah-hadiah itu malah dibuang seperti kotoran.
Miranda tersenyum sinis. "Apa urusanmu? Mereka sudah memberikannya padaku. Jadi, terserah padaku mau diapakan hadiah-hadiah ini. Kenapa kamu sewot? Kamu iri, ya? Makanya jadi cantik supaya ada yang respek memberimu hadiah," ujar Miranda.
__ADS_1
"Jika kamu memang tidak menginginkan hadiah-hadiah itu, kamu bisa memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkan," ujar Irene.
"Kalau memang mereka menginginkannya, ambil saja di tong sampah. Atau kamu juga mau? Silakan ambil saja. Wajahmu juga tak jauh berbeda dengan sampah."
Irene merasa wanita itu telah cukup keterlaluan dalam menghinanya. Ia sampai mengepalkan tangan sangat ingin menghajarnya. Ia bahkan belum mengenal siapa wanita itu, namun sepertinya Miranda memang membencinya sejak pertama kali bertemu.
"Aku rasa kamu seorang artis. Pandai sekali bermuka dua di hadapan orang lain," sindir Irene.
Irene mengambil ponsel dan memotret isi tong sampah yang penuh dengan hadiah-hadiah untuk Miranda.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Miranda panik.
Giliran Irene yang menyeringai. "Kenapa? Kamu senang menjadi populer, kan? Biar aku bantu promosi agar lebih terkenal lagi."
"Kamu ...," garam Miranda.
"Akan aku sebarkan ini kepada mereka. Supaya mereka tahu bahwa idola baru mereka ternyata paikopat." Irene memberikan ancaman balik.
"Awas, ya! Suatu saat aku akan menjatuhkanmu sejatuh-jatuhnya!" umpat Miranda.
"Irene!" seru Ares yang berada tak jauh dari mereka. Di tangan Ares ada dua gelas minuman, ia memberi kode agar Irene segera mengikutinya.
Miranda kembali terpesona dengan ketampanan Ares. Di dalam kelas ia sempat melihat Ares, namun tak bisa lama-lama memandanganya karena bisa ditegur dosen.
Miranda turut berjalan mendekat ke arah Ares. "Hai, kamu Ares, ya?" tanyanya dengan nada lembut. Ia bahkan sudah lupa jika barusan telah bertengkar dengan Irene.
"Kenapa? Jangan sok akrab karena kita tidak saling kenal," ketus Ares seraya memberikan salah satu minuman itu kepada Irene. Ia mengajak Irene pergi dari sana dan tidak perlu meladeni anak baru itu.
__ADS_1
Miranda masih mematung di tempatnya. Ares merupakan mahasiswa tampan dan pintar yang memang menjadi salah satu incarannya saat memutuskan untuk masuk ke kampus tersebut. Ternyata orang sekeren Ares saja bisa dekat dengan wanita sejelek itu.
"Dia pasti pakai pelet," tebak Miranda.