Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 23: Suatu Kejutan


__ADS_3

"Aku memilih mundur daripada harus memakai gaun rusak ini, Kak Merlin," keluh Sovia.


Wanita itu seakan belum puas hanya membuat Irene dimarahi. Ia ingin semua orang membencinya dan kalau bisa Irene harus keluar dari kediaman Narendra. Sovia tidak akan memberi kesempatan Alan berpaling darinya.


"Eh, jangan seperti itu Sovia Sayang ... kamu ganti saja pakaianmu dengan cadangam yang masih aku simpan di sebelah sana." Merlin sudah sangat senang Sovia bisa datang menjadi model utamanya. Tidak setiap waktu model sibuk itu bisa memenuhi undangannya untuk datang.


"Tapi, ini baju terbaik yang kamu buat untuk malam ini ...." Sovia masih saja mencari-cari alasan. Ia tak ingin diberi gaun yang biasa. Setiap fashion show, ia ingin menjadi pusat perhatian. Tidak ada orang lain yang boleh menggantikan posisinya sebagai model favorit di kota ini.


"Siapa bilang? Baju yang belum aku keluarkan juga tidak kalah bagus dari ini. Rencananya juga ingin kamu yang memakainya." Merlin mencoba membujuk Sovia agar tidak batal menjadi modelnya. Orang yang menantikan pagelaran malam ini salah satunya memang menantikan penampilan Sovia. Jika Sovia tidak ada, mereka pasti akan kecewa.


"Benarkah? Kalau begitu aku mau!" seru Sovia dengan mata berbinar. Ia paling suka mendapat perlakuan istimewa.


"Ikuti Lita, nanti dia yang akan membantumu bersiap." Merlin mengerlingkan matanya.


"Oke, Kak Merlin memang yang terbaik!" Sovia tersenyum lebar menunjukkan kebahagiaannya. Ia pergi mengikuti Lita menuju ruangan yang dimaksud Melvin.


"Kak, aku juga akan melepas pakaian ini," pamit Joana. Ia dipastikan gagal ikut acara malam ini karena gaun yang dikenakannya rusak.


"Maaf ya, Joana Sayang ... acara malam ini benar-benar kacau. Lain kali aku akan mrnghubungimu lagi," kata Merlin dengan raut merasa bersalah pada Joana.


Joana tersenyum. "Tidak apa-apa, Kak. Setelah ini aku akan langsung pulang. Sukses untuk acaranya," pamitnya.


Alfa melipat kedua tangannya di dada. Ia masih memandangi Irene dengan mata tajam. "Sudah seperti ini kamu masih belum mau meminta maaf?" tanyanya. Ia heran kenapa Irene begitu keras kepala.


"Kenapa aku harus meminta maaf? Aku tidak bersalah." Irene kekeh pada pendapatnya. Irene rasa ada yang tidak beres. Ia hanya mendorong Sovia tanpa menyentuh baju itu sedikitpun. Sepertinya Sovia sengaja merusak gaun yang dikenakannya sendiri dengan tujuan agar dia yabg kena marah.

__ADS_1


'Dasar wanita licik! Jangan panggil aku Irene kalau tidak bisa menyingkirkan wanita sepertimu dari sisi Alan,' umpatnya dalam hati.


Alfa sampai jengah ingin mengumpat wanita itu dihadapan banyak orang. Kalau tidak ingat bahwa wanita itu merupakan titipan dari kakeknya yang harus ia jaga, mungkin ia akan mengusirnya detik itu juga. Rasanya teriakan harus keluar agar hatinya lega. Niat hati membawa Irene keluar agar wanita itu tidak mati bosan malah membuat masalah besar untuknya.


Merlin geleng-geleng kepala. "Aku tidak tqhu lagi harus berkata apa padamu dan wanita ini. Acaraku benar-benar kacau." Ia terlihat sangat kecewa. "Kalian semua bubar, fokus bersiap-siap lagi. Kita lanjutkan saja acara seperti rencana. Ayo, ayo ...." Ia membubarkan kerumunan yang ada di sana.


Hanya tersisa Alfa dan Irene yang masih saling pandang dengan tatapan tajam. Keduanya sama-sama merasa benar.


"Ikut aku!" seru Alfa.


Ia berjalan cepat ke arah ruang ganti diikuti oleh Irene. Ada baju yang tadi dikenakan oleh Sovia dan Joana sudah mereka lepaskan.


"Hah!" Alfa berjongkok lemas memandangi gaun dengan robekan besar itu.


"Kamu punya dendam apa sampai merobek gaun orang separah ini?" tanya Alfa.


"Harus berapa kali aku katakan bukan aku yang melakukannya?"


"Kalau bukan kamu, siapa yang melakukannya?"


"Mana aku tahu." Irene tetap cuek karena tidak merasa bersalah.


Alfa pusing sendiri memikirkan bagaimana cara memperbaiki gaun tersebut. Irene yang melihat gunting di atas meja langsung menyambarnya.


"Kamu mau apa?" cegah Alfa saat Irene hendak menggunting gaun yang ada di hadapannya. "Kamu sudah gila?"

__ADS_1


"Walaupun bukan aku yang melakukannya, aku tetap akan membereskan ini. Jadi, Kak Alfa tolong menyingkir dulu!" Irene merebut gaun itu dan meletakkannya di atas meja.


"Hey! Jangan sembarangan dengan barang milik orang! Ini milik temanku, Irene, yang tadi sudah cukup membuat dia marah!"


Irene tak menggubris perkataan Alfa. Ia menggunting sedikit demi sedikit bagian yang tidak diinginkannya sesuai dengan bentuk desain yang ada di dalam bayangannya. Melihat gerakan Irene menggerakkan gunting, Alfa seketika terpana. Tidak mungkin Irene hanya seorang wanita biasa yang tidak bisa apa-apa.


Tak banyak yang tahu jika Irene sempat mengambil kursus fashion design di luar negeri selama satu tahun. Ia bahkan sempat magang di salah satu perusahaan mode ternama di sana. Beberapa hasil rancangannya pernah tampil di fashion show internasional. Jika berminat fokus pada bidang fashion, mungkin karirnya akan lebih baik dari Alfa.


Alfa cercengang melihat hasil rombakan gaun yang dilakukan Irene. Hanya dengan memanfaatkan barang seadanya di sana, Irene bisa menciptakan gaun yang sangat indah.


"Apa ini sudah cukup? Kamu jangan memarahiku lagi, ya!" Irene memamerkan hasil kerja kerasnya dalam waktu singkat dengan ekspresi santai.


"Ini ... sangat bagus. Sayang sekali Joana sudah pulang. Tidak ada lagi model lain yang belum mendapatkan gaunnya."


"Kalau begitu aku saja yang pakai," celetuk Irene.


"Hah?" tentu saja Alfa keheranan. Gaun itu memang bagus, tapi wajah Irene sangat tidak mendukung untuk lebih memancarkan aura keindahan dari gaun itu sendiri. "Kamu boleh percaya diri karena berhasil membuat gaun ini jadi bagus kembali. Tapi, untuk tampil di acara nanti, aku rasa tidak berani mengizinkanmu ikut."


"Aku bisa memakai make up! Tunggu sebentar du luar dan aku tidak akan membuatmu malu."


Alfa terdiam sejenak. Kepercayaan diri Irene yang besar masih sangat meragukannya. Namun, dia tetap akan memberi kesempatan supaya bisa menilai dengan adil. "Baiklah, aku tunggu di luar." Ia mengalah dan memilih keluar.


Irene buru-buru mengeluarkan peralatan make up yang ada di dalam tasnya. Berdandan bukan sesuatu yang sulit untuk dirinya. Mau menciptakan karakter apapun, ia bisa. Karena masih dalam mode penyamaran, ia akan menciptakan versi cantik dari Irene anak kampungan yang berkulit dekit lecoklatan.


Perlahan ia aplikasikan satu per satu alat make up miliknya. Ia ingin menyampaikan lewat penampilannya bahwa kecantikan itu relatif. Setiap wanita akan menjadi cantik di mata orang yang menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2