
Dentuman keras musik menyambut saat Irene dan Ron memasuki sebuah klab malam di Jakarta. Klab tersebut milik Ron. Sudah cukup lama Irene tidak masuk ke tempat hiburan semacam itu. Kehidupan hedon yang dulu merupakan hal biasa baginya seakan menjadi sesuatu yang asing. Mungkin karena ia sudah terbiasa bersikap seperti anak baik-baik di Kota Surabaya.
Ron menjaga Irene dari gangguan beberapa pelanggannya yang mabuk. Kehadiran wanita cantik itu sudah pasti menarik perhatian lelaki hidung belang untuk menggodanya. Beberapa mengajak Irene untuk minum bersama.
Ron membawa Irene ke area pub yang tidak bising. Biasanya tempat itu menjadi spot favorit para pengusaha untuk menikmati minuman sembari mendengarkan live music. Tidak semua orang yang datang ke klab malam Ron ingin gila-gilaan berjoget di area diskotik. Ada juga yang hanya sekedar ingin minum dengan tenang di pub atau melepas penat di area karaoke.
"Nona, Anda mau memesan minuman apa?" tanya Ron.
Irene mengalahkan pandangan ke sekeliling. Ada banyak pengusaha muda yang masih berdandan rapi dalam balutan busana kerja sedang minum-minum di sana. Beberapa bahkan secara terang-terangan memperhatikan dirinya, menyunggingkan senyum sembari mengangkat gelasnya sebagai undangan untuk minum bersama. Irene hanya mengabaikannya.
"Apa aku boleh memesan vodka?" tanya Irene.
Ron tertawa. "Anda minum jus saja bisa mabuk apalagi kalau minum vodka. Saya masih ingin banyak bicara dengan Anda, jadi jangan mabuk."
"Kalau begitu berikan aku moctail saja."
Ron memberi isyarat kepada salah seorang pelayan di sana untuk membawakan minuman yang Irene mau.
"Tuan Hamish ingin sekali bertemu dengan Anda, Nona. Dia sampai mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Anda di setiap sudut kota. Saya rasa tidak akan lama lagi Anda akan ketahuan."
"Tidak apa-apa. Kamu santai saja. Kenapa panik banget kalau bahas Kak Hamish." Irene tertawa kecil dengan kekhawatiran Ron.
"Itu Anda, beda dengan saya, Nona. Tuan Hamish bisa menggantung saya kalau tahu membantu Anda sembunyi. Beliau juga seting datang ke sini untuk mencari Anda."
"Aku tidak akan melibatkanmu, tenang saja. Dia juga tidak semenakutkan yang kamu kira."
Irene masih bersikap santai. Hamish di matanya selalu menjadi sosok kakak sepupu yang baik dan perhatian kepadanya.
Tak berapa lama, minuman yang Irene inginkan datang. Ron meminum wisky sedangkan Irene hanya meminum mocktail.
"Apa ini kelinci kecil yang suka lari-lari?"
Irene menghentikan minum mendengar suara seseorang. Saat ia menoleh ke belakang ternyata ada Hamish.
"Kak Hamish!" serunya.
Irene segera beranjak dari tempatnya untuk memberikan pelukan kepada kakak sepupu yang telah lama tidak ia jumpai.
__ADS_1
"Aku kira kamu mau kabur lagi." Hamish terkejut dengan respon yang Irene berikan. Padahal ia telah sengaja mengepung seluruh klab milik Ron dengan anak buahnya agar Irene tidak bisa kabur. Setelah mendengar informasi anak buahnya ada yang melihat Irene, ia langsung bergegas pergi ke sana untuk menjumpainya.
Irene memandangi Hamish. "Kabur? Kenapa aku harus kabur? Bukannya Kak Hamish yang sudah lama kabur ke luar negeri?"
Hamish antara senang dan kesal melihat Irene. Ia senang sepupu kesayangannya masih bersikap sama seperti sebelumnya, masih manja jika bertemu dengannya. Sementara, ia juga kesal dengan Ron yang selalu bilang tidak tahu dengan keberadaan Irene. Padahal, anak buahnya melihat Irene keluar dari apartemen Ron dan ikut pergi ke klab tersebut.
Ron mengalihkan perhatian ke tempat lain. Ia tidak berani bertatapan dengan Hamish. Sudah pasti ia akan habis malam ini. Apalagi ada banyak anak buah Hamis di klab miliknya.
"Selama ini kamu dimana? Kakakmu pulang bukannya ada di rumah malah kelayapan."
"Aku hanya jalan-jalan, Kak. Sekalian sembunyi dari Kakek. Aku pusing mendengar dia mengoceh terus melarang aku ini itu."
Hamish mengerutkan dahinya. "Kakek tidak tahu kamu pergi kemana?"
"Kalau aku memberi tahu, namanya bukan sembunyi, Kak. Tapi minta izin. Ada-ada saja," sangkal Irene.
"Hahaha ... kamu memang nakal!" Hamish menyentil dahi Irene.
"Pak Hamish!"
Irene menoleh ke asal suara. Matanya membulat saat tahu lelaki yang memanggil Hamish ternyata adalah Arvy. Dia sempat tegang takut ketahuan oleh Arvy. Tapi, kekhawatirannya hilang saat ia menyadari kalau dirinya sedang tidak menyamar.
"Saya langsung datang ke sini setelah Anda mengabari kalau tempat pertemuan kita berubah." Arvy melirik ke arah Irene yang tidak dikenalinya. "Apa Nona ini kekasih Anda?" tanya Arvy melihat keduanya tampak akrab saling berpelukan.
"Aku beban hidupnya Kak Hamish!" kata Irene. Ia mengeratkan pelukannya seakan ingin memamerkan kedekatannya dengan sepupunya itu. Ia mengecek respon Arvy, sepertinya dia tidak mengenalinya.
"Ah, abaikan dia. Kelakuannya memang suka aneh."
"Apa kita bisa langsung ke ruang pertemuan?" tanya Arvy.
"Tentu saja. Silakan duluan, saya akan menyusul."
Arvy pamit untuk lebih dulu pergi ke tempat pertemuan bersama manajernya, Marco. Sementara Irene masih bergelayut manja pada sepupunya. "Kenapa Kakak bersama artis itu?"
"Ada keperluan pembuatan iklan."
Hamish kaget saat tiba-tiba Irene mengalungkan tangan ke lehernya dari arah belakang.
__ADS_1
"Gendong, Kak!" pinta Irene.
Sepupu yang ia anggap sebagai wanita dewasa itu justru menunjukkan kelakuan kekanak-kanakkan meminta gendong di tempat umum. "Kamu pikir kamu masih anak-anak?" tanya Hamish.
"Aku memang masih anak-anak. Soalnya kalau aku sudah dewasa, berarti Kak Hamish sudah tua. Hahaha ...." Irene meledek kakak sepupunya.
Entah mengapa Hamish mau saja menuruti kemauan Irene. Ia menggendong Irene di belakang tubuhnya, seperti yang sering mereka lakukan. Irene jadi ingat saat orang tuanya meninggal, Hamish menjadi orang yang selalu menemaninya. Hamish juga yang sering menggendong Irene saat merasa sedih dan kesepian. Sejenak Irene lupa dengan kata-kata Ron. Hamish tetap menjadi kakak sepupu kesayangannya.
"Turunkan aku di kursi dekat Ron!" perintah Irene.
Hamish benar-benar menghilangkan rasa malunya dengan kelakuan Irene bahkan di hadapan anak buahnya. Beberapa pengunjung lain juga senyum-senyum tampak menahan tawa.
"Aku meeting dulu. Setelah selesai baru menemuimu lagi," pamit Hamish.
"Oke. Aku akan menunggu di sini bersama Ron. Semoga meetingnya lancar." Irene memberikan satu ciuman di pipi Hamish. "Kakak juga tolong singkirkan anak buah Kak Hamish dari sini. Jangan sampai aku juga kesal dengan Kakak seperti pada Kakek." Irene paling tidak suka diawasi. "Kalau Kak Hamish takut aku kabur, aku benar-benar akan kabur," Irene melebarkan mata menatap Hamish, membuat lelaki itu kembali tak berdaya untuk menolak kemauan Irene.
Hamish mengangkat tangannya, memberi kode kepada anak buahnya untuk pergi. "Sudah puas, kan?" tanyanya.
Irene tersenyum lebar. "Ini untuk menjaga mental Ron juga. Dia dari tadi ketakutan seperti orang yang mau dieksekusi mati."
Hamis menoleh ke arah Ron. "Jaga Irene, Ron. Awas kalau terjadi apa-apa dengan Irene!" ancamnya.
"Baik, Tuan Hamish."
Ron bisa bernapas lega saat Hamish telah pergi. Rasanya ia akan mati saat Hamish ada di dekatnya. "Nona sungguh sangat berani. Untung saja Anda kesayangan Tuan Hamish."
"Kak Hamish memang selalu baik."
"Itu hanya kepada Anda, bukan kepada saya atau yang lainnya." Ron meminum minumannya. "Bagaimana kalau Nona menyumbangkan lagu di depan? Kebetulan penyanyi utama juga sedang istirahat," sarannya.
Irene tertawa kecil. "Memang berapa kamu sanggup membayarku?" guraunya.
"Ayolah, Nona ... setidaknya bantu agar klab saya tetap ramai."
Irene berpikir sejenak. "Baiklah. Mana topeng yang biasa aku pake?" tanya Irene.
Sebelumnya Irene juga pernah menyanyi di tempat Ron. Ia tidak mau identitasnya dikenali orang sehingga lebih suka mengenakan topeng saat menyanyi.
__ADS_1
Ron membawanya ke area belakang panggung, memberikan topeng emas yang biasa Irene pakai saat tampil.